Al-Jama’ah Adalah Rahmat Dan Perpecahan Adalah Adzab

Rasulullah bersabda:

الْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ / رواه أحمد عن النعمان بن بشير حديث حسن

“Al-Jama’ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab.” (H.R. Ahmad dari Nu’man bin Basyir dengan derajat hadits Hasan)
Dalam riwayat lain disebutkan dengan tambahan:

مَنْ لَمْ يَشْكُرْ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرْ الْكَثِيرَ وَمَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللَّهِ شُكْرٌ وَتَرْكُهَا كُفْرٌ وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ. / رواه عبد الله بن أحمد بسند ضعيف

"Barangsiapa tidak bersyukur atas nikmat yang sedikit, maka dia tidak bersyukur atas nikmat yang banyak. Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka dia tidak bersyukur kepada Allah. Membicarakan nikmat Allah adalah syukur dan meninggalkannya adalah kufur. Al-Jama'ah adalah rahmat dan perpecahan adalah adzab." (H.R. Abdullah bin Ahmad dengan sanad dhaif)

Islam adalah satu-satunya agama yang mengajak kepada persaudaraan dan terwujudnya persatuan serta mengecam perpecahan dan perseli-sihan. Maka Rasulullah sebagai pembawa Risalah Islam selalu mengarahkan umatnya untuk menjaga kesatuan (Al-Jama'ah) dan menjauhi perselisihan dan perpecahan (Al-Firqah).

Secara bahasa Al-Jama'ah berarti Al-Ijtima' (kesatuan), Al-Jami' (berkumpul dan bersama-sama) dan Al-Ijma' (kesepakatan dan persetujuan).

Sedang secara istilah Al-Jama'ah menurut Rasulullah adalah:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى / رواه الترمذي، حديث حسن

"Orang yang mengikuti aku dan para sahabatku." (H.R. Tirmidzi, hadits Hasan)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda:

إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلَالَةٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُ الْإِخْتِلَافَ فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الْأَعْظَمِ فَإِنَّهُ مَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ –وَفِى رِوَايَةٍ– يَعْنِى الْحَقُّ وَأَهْلُهُ / رواه ابن ماجه

"Sesungguhnya umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan. Maka jika kalian melihat perselisihan, berpeganglah pada as-sawadul a'zham. Barangsiapa yang menyelisihinya akan terasing ke neraka –dalam riwayat lain– (as-sawadul a'zham) yaitu Al-Haq dan pengikutnya." (H.R. Ibnu Majah) Menurut Al-Albani hadits ini Hasan.

As-Sawad adalah bentuk jama' (plural) dari aswad yang artinya sesuatu yang berwarna hitam. Al-A'zham artinya besar, agung, banyak. Jadi as-sawadul a'zham secara bahasa berarti sesuatu yang berwarna hitam dalam jumlah yang sangat banyak.

Sedang secara istilah as-sawadul a'zham itu semakna dengan Al-Jama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan bahwa sahabat Abu Umamah Al-Bahili berkata, "Berpeganglah pada As-Sawadul A'zham." Lalu ada orang bertanya, "Apa As-Sawadul A'zham itu?" Maka Abu Umamah Al-Bahili membaca:

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ ۖ فَإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُم مَّا حُمِّلْتُمْ ۖ وَإِن تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا ۚ وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ / النور [٢٤]: ٥٤

"Katakanlah, "Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, jika kalian berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul hanya apa yang dibebankan kepadanya dan kewajiban kalian hanyalah apa yang dibebankan kepada kalian. Jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk. Kewajiban Rasul hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan jelas." (Q.S. An-Nur [24]: 54)

Dengan jawaban ini Abu Umamah Al-Bahili mengisyaratkan bahwa as-sawadul a'zham adalah orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dengan kata lain pengikut kebenaran. Sufyan Ats-Tsauri berkata, "Yang dikehendaki dengan as-sawadul a'zham adalah mereka yang mengikuti sunnah dan Al-Jama'ah walaupun sedikit.”

Ishaq bin Rahawaih berkata, "Jika saya bertanya kepada orang-orang yang bodoh tentang as-sawadul a'zham pasti mereka menjawab, “Kumpulan manusia. Dan mereka tidak mengerti bahwa Al-Jama'ah (dapat saja hanya) seorang alim yang memegang teguh ajaran Nabi dan jalan orang yang bersama beliau dan orang yang mengikutinya.”

Dengan demikian untuk menamakan suatu golongan sebagai as-sawadul a'zham tidaklah berdasar kepada jumlah orang tetapi berdasar kepada kesungguhan golongan itu dalam mengikuti kebena-ran. Seseorang atau suatu golongan asal sungguh-sungguh dan konsis-ten mengikuti kebenaran maka itulah yang disebut as-sawadul a'zham dan ini identik dengan Al-Jama'ah. Abdullah bin Mas'ud , ketika menjelaskan pengertian Al-Jama'ah berkata:

الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ ولَوْ كُنْتَ وَحْدَكَ

"Al-Jama'ah adalah siapa saja yang sesuai dengan kebenaran walaupun engkau sendirian."

Memang pengikut kebenaran itu biasanya sedikit. Hasan Al-Bashri berkata:

يَاأَهْلَ السُّنَّةِ تَرَفَّقُوْا –رَحِمَكُمُ اللَّهُ– فَإِنَّكُمْ مِنْ أَقَلِّ النَّاسِ

"Hai pengikut sunnah, berkawanlah dengan erat –semoga Allah mengasihimu– karena sesungguhnya kalian adalah manusia paling sedikit."

Hikmah Hidup Berjama'ah

Hikmah secara bahasa berarti kebijaksanaan, pendapat atau pikiran yang bagus, pengetahuan, keadilan, filsafat, kata-kata bijak, kenabian, As-Sunnah dan Al-Qur'an.

Sedang menurut istilah, hikmah mempunyai beberapa pengertian di antaranya: kumpulan keutamaan dan kemuliaan yang mampu mem-buat pemiliknya menempatkan sesuatu pada tempatnya (proporsio-nal).

Jadi yang dimaksud dengan hikmah hidup berjamaah adalah keutamaan dan kemuliaan orang yang hidup berjama’ah mengikuti Rasulullah dan para sahabatnya.

Adapun hikmah hidup berjamaah antara lain:

1. Merealisasikan Ibadah yang Sangat Penting

Firman Allah :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ / ال عمران [٣]: ١٠٣

“Dan berpegangteguhlah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kalian berpecah-belah,” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Ketika menafsirkan ayat ini Asy-Syaikh Dr. Abdullah Al-Muthlaq berkata:

لُزُوْمُ جَمَاعَةِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ أَهَمِّ الْعِبَادَاتِ الَّتِي أَمَرَ اللَّهُ بِهَا

"Menetapi Jama'ah Muslimin adalah ibadah yang paling penting yang diperintah-kan oleh Allah."

2. Mewujudkan Kasih Sayang dan Persaudaraan

وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا / ال عمران [٣]: ١٠٣

“Dan ingatlah kalian akan nikmat Allah kepadamu ketika kalian dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah melembutkan hati-hati kalian sehing-ga dengan nikmat Allah kalian menjadi bersaudara;” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

Dengan hidup berjama'ah akan terwujud kasih sayang dan persau-daraan antara umat Islam sebagaimana yang dirasakan oleh para sahabat dari suku Aus dan Khazraj. Pada masa Jahiliyah kedua suku itu selalu bermusuh-musuhan bahkan sering terjadi peperangan di antara mereka. Tetapi setelah masuk Islam jadilah mereka bersaudara dan saling menyayangi.

3. Menyebabkan Turunnya Rahmat

Sebagaimana yang disebutkan pada hadits di atas. Secara bahasa rahmat berarti:

الرِّقَّةُ وَالتَّعَطُّفُ

"Rasa sayang yang dipadu dengan rasa iba."

Sedang menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi, rahmat berarti:

مَعْنًى يَقُوْمُ بِالْقَلْبِ يُبْعِثُ صَاحِبَهُ عَلَى الْإِحْسَانِ إِلَى سِوَاهُ

“Perasaan jiwa yang mendorong pemiliknya untuk berbuat baik kepada orang lain.”

4. Bertempat Di Tengah-Tengah Surga

Rasulullah bersabda:

مَنْ أَرَادَ مِنْكُمْ بُحْبُوْحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الْجَمَاعَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنَ الْإِثْنَيْنِ أَبْعَدُ / رواه الترمذي والحاكم وصححه

“Barangsiapa dari kalian menginginkan tinggal di tengah-tengah surga, maka hendaklah berpegang teguh kepada Al-Jama’ah karena setan bersama orang-orang yang sendirian dan dia dari dua orang lebih jauh.” (H.R. At-Tirmidzi dan Hakim menshahihkannya)

5. Menyelamatkan Godaan Setan

Rasulullah bersabda:

إِنَّ الشَّيْطَانَ ذِئْبُ الْإِنْسَانِ كَذِئْبِ الْغَنَمِ يَأْخُذُ الشَّاذَّةَ وَالْقَاصِيَةَ وَالنَّاحِيَةَ وَإِيَّاكُمْ وَالشَّعَابَ وَعَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَالْعَامَّةِ وَالْمَسْجِدِ / رواه أحمد

“Sesungguhnya setan adalah serigala terhadap manusia seperti serigala menerkam kambing yang menjauh dan menyisih. Maka janganlah kalian menempuh jalan sendiri dan hendaklah kalian berjama’ah dan berkumpul dengan orang banyak dan ke masjid.” (H.R. Ahmad)

Perpecahan Umat dan Bahayanya

Pada hadits yang kita bicarakan di atas disebutkan bahwa perpecahan (firqah) adalah adzab (siksaan).

Khalifah Ali bin Abi Thalib ketika menjelaskan pengertian Al-Jama’ah dan firqah berkata:

وَالْجَمَاعَةُ وَاللَّهِ مُجَامَعَةُ أَهْلِ الْحَقِّ وَإِنْ قَلُّوْا وَالْفُرْقَةُ مُجَامَعَةُ أَهْلِ الْبَاطِلِ وَإِنْ كَثَرُوْا

“Dan Al-Jama’ah –demi Allah– adalah berkumpulnya ahlul haq walaupun sedikit dan firqah adalah berkumpulnya ahlul bathil walaupun banyak.

Perpecahan terjadi adalah akibat perselisihan (ikhtilaf). Al-Asfahani (w. 502 H) membedakan antara tafarruq (perpecahan) dan ikhtilaf (perselisihan). Tafarruq (perpecahan) akan mengakibatkan permusu-han dan perpecahan sedang ikhtlaf (perselisihan) akan mengakibat-kan perbedaan dan ketidaksamaan. Oleh karena itu tafarruq (perpeca-han) dalam bentuk apapun dilarang oleh syariat. Sementara itu ikhtilaf (perselisihan) ada yang dilarang dan ada yang ditolerir. Perselisihan yang dilarang ialah perselisihan berupa saling membenci, saling bermusuhan dan saling mendustai yang mengakibatkan rusak-nya hubungan, lemahnya Islam dan kuatnya para musuh Islam. Sedangkan perselisihan yang ditolerir ialah setiap perbuatan yang didasarkan pengetahuan orang yang melakukannya tanpa disertai permusuhan dan celaan terhadap orang yang berbeda dengannya. Perselisihan (ikhtilaf) yang ditolerir ini banyak terjadi pada masalah ijtihadiyah dan fiqhiyah misalnya membaca basmalah dalam shalat secara jahr (keras) atau sir. Tayamum dengan sekali tepukan atau dua kali tepukan. Meletakkan tangan dalam shalat di dada atau di perut atau irsal. Shalat Shubuh dengan do’a qunut atau tanpa do’a qunut.

Adapun ikhtilaf (perselisihan) yang dilarang adalah ikhtilaf seperti yang terjadi di kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani) yang mengakibatkan permusuhan, saling membenci, pertengkaran dan sebagainya.

Dalam konteks ini Allah berfirman:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ / ال عمران [٣]: ١٠٥

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat,” (Q.S. Ali Imran [3]: 105)

Bukhari meriwayatkan dari Abdullah Ibnu Mas’ud berkata:

سَمِعْتُ رَجُلًا قَرَأَ أَيَةً وَسَمِعْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْرَأُ خِلَافَهَا فَأَخْبَرْتُهُ فَعَرَفْتُ فِي وَجْهِهِ الْكَرَاهَةَ فَقَالَ كِلَا كُمَا مُحْسِنٌ وَلَا تَخْتَلِفُوْا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ إِخْتَلَفُوْا فَهَلَكُوْا

“Aku mendengar seorang lelaki membaca sebuah ayat tetapi bacaannya berbeda dengan bacaan yang pernah aku dengar dari Rasulullah , lalu aku kabarkan hal tersebut kepada beliau. Maka aku melihat kebencian di wajah beliau seraya bersabda, “Keduanya baik. Janganlah kalian berselisih. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian hancur karena berselisih.”

Al-Allamah Ibnu Wazir ketika mengomentari hadits di atas berkata, “Perselisihan yang dilarang dan akan membawa kehancuran ialah perselisihan yang disertai dengan permusuhan. Adapun perselisihan yang tidak disertai permusuhan maka ditolerir oleh Nabi.

idakkah beliau bersabda kepada Abdullah bin Mas’ud, “Keduanya baik,” ketika diberitahu tentang perbedaan bacaan tersebut. Tapi setelah menyatakan kedua bacaan itu baik, beliau memperingatkan bahayanya perselisihan.”

Jadi perbedaan yang dilarang adalah:

1. Perbedaan yang bermotivasikan pembangkangan, kedengkian, dan mengikuti hawa nafsu
2. Perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan (berfirqah-firqah) dan permusuhan umat.

Perbedaan inilah yang sangat dikecam oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah karena akan mendatangkan adzab.

Adzab didefinisikan oleh para ulama sebagai akibat pelanggaran yang dilakukan terhadap ketentuan Allah . Dalam hal ini ketentuan Allah yang dilanggar adalah perintah berjama’ah dan larangan berpecah-belah. Karena ketentuan ini dilanggar maka adzab diturunkan oleh Allah .

Perpecahan di samping menyebabkan turunnya adzab juga menye-babkan beberapa bahaya antara lain:

1. Menyebabkan Hilangnya Kekuatan

Firman Allah :

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَاصْبِرُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ / الأنفال [٨]: ٤٦

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 46)

2. Terlepas Dari Tanggung Jawab Nabi

Firman Allah :

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ / الأنعام [٦]: ١٥٩

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu kepada mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah terserah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahu-kan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.” (Q.S. Al-An’am [6]: 159)

3. Menyerupai Orang Musyrik

Firman Allah :

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ / الروم [٣٠]: ٣١-٣٢

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Q.S. Ar-Rum [30]: 31-32)

4. Hilangnya Agama

Sabda Rasulullah :

إِيَّاكُمْ وَسُوْءَ ذَاتِ الْبَيْنِ فَإِنَّهَا الْحَالِقَةُ / رواه الترمذي

“Jauhkanlah dari merusak hubungan karena itu adalah pencukur agama.” (H.R. Tirmidzi)

5. Menyebabkan Mati Jahiliyah

Sabda Rasulullah :

مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً. / متفق عليه

“Barangsiapa memisahkan diri dari Jama’ah sejengkal kemudian mati, maka matinya adalah mati Jahiliyah.” (Muttafaq Alaih)

“Mati Jahiliyah adalah mati tanpa memiliki Imaam yang ditaati.” (Syarah Muslim)

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّابِ

Imaamul Muslimin K.H. Drs. Yakhsyallah Mansur, M.A.

Disampaikan pada
Shilaturrahim ke Nanggroe Aceh Darussalam

Rabi’ul Akhir 1438 H /Januari 2017 M

No Response

Comments are closed.