Hijrah Dan Upaya Mewujudkan Umatan Wahidah Yang Dirindukan Umat

I. Mukadimah

Selama + 13 tahun lamanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyampaikan risalah kerasulan kepada penduduk Makkah tetapi yang didapatkan adalah sikap yang tidak simpati dari masyarakat Quraisy bahkan bersikap memusuhi sehingga sampai kepada puncak permusuhan, komplotan mereka mengadakan pertemuan penting di Darun Nadwah. Mereka sepakat harus membunuh Nabi. Seluruh kabilah diharuskan andil  mengirim pendekar pilih tanding untuk mengeksekusi Muhammad, mereka lalu mengepung rumah Nabi dengan senjata terhunus dan siap membunuh.

Mereka tidak menyadari bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang segalanya ada dalam perlindungan dan jaminan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka punya rencana tetapi Allah pun punya rencana. Sebaik-baik rencana adalah rencana Allah.

Hijrah bukan sekedar berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain, tetapi di kemudian hari terbukti bahwa hijrah memiliki nilai strategis  yang  menandai  berakhirnya masa pra Islam yang disebut masa jahiliyah. Dan sekaligus merupakan titik balik bagi kemenangan Nabi Muhammad Saw. dan babak baru dalam sejarah perkembangan Islam dengan berdirinya sebuah tatanan masyarakat baru yang berlandaskan wahyu Ilahi (Islam) di Madinah. Dari sanalah cahaya Islam bersinar menembus kegelapan peradaban manusia ke seluruh penjuru dunia hingga hari ini.

Pada situasi hari ini umat Islam dihadapkan kepada tantangan konspirasi global internasional. Dengan sikap yang kurang simpatik bahkan permusuhan dari  kelompok Islamophobi. Dalam keadaan seperti ini, maka umat Islam perlu mengkaji kembali nilai dan semangat hijrah sebagai  acuan strategi juang dan penataan umat dalam mewujudkan kembali masyarakat Islam yang kompak dan bersatu dalam kepemimpinan  kekhilafahan yang mengikuti jejak kenabian. Dengan demikian diharapkan umat Islam dapat mengatasi berbagai problema internal maupun external sehingga bisa memberikan konstribusi positif terhadap peradaban umat manusia yang sedang krisis kehilangan arah dan ma’na.

II. Invasi Pemikiran

Al-Qur’an telah mengkhabarkan bahwa mereka orang-orang kafir sangat bernafsu ingin memadamkan cahaya Allah di muka bumi tetapi Allah yang akan menghidupkan dan menyempurnakan cahaya-Nya (Islam) walaupun orang-orang kafir membencinya. Firman Allah SWT :

يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُون

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya”. QS. Ash Shaf (61) ;8.

Tumbuh dan berkembangnya Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. itu seperti lembaga yang tunas, tumbuh bercabang dan berdaun menjadi sebuah pohon yang kokoh, batangnya menjulang ke angkasa. Berdiri kokoh bertumpu pada akar yang kuat menghujam ke bumi. Daunnya rimbun, hijau  menyejukkan kepada siapapun yang ingin berteduh dibawahnya. Menambah keindahan dan eloknya suasana, menyenangkan petani yang menanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hari orang-orang kafir.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala ;

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً

Artinya ; “ Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, berkasih sayang kepada sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam- penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”. QS. Al-Fath (48)  ; 29.

Kejengkelan orang-orang kafir dituangkan dalam berbagai konsep permusuhan yang tidak simpatik melewati penindasan, pelecehan dan fitnah keji terhadap umat islam, pada intinya mereka tidak ingin Islam tumbuh berkembang. Tetapi kenyataan membuktikan perkembangan Islam yang tidak bisa dibendung dengan kekuatan apapun, Islam tumbuh dan berkembang di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Belanda, Jerman dan Eropa pada umumya, di Italia negeri mayoritas Katolik yang pada abad pertengahan tidak pernah disentuh oleh ajaran Nabi Muhammad saw. kini + puluhan ribu orang Italia masuk Islam demikian juga di tempat-tempat lain yang sangat merisaukan hati orang-orang kafir.

Kini strategi untuk melawan Islam mereka tingkatkan dengan menggunakan invasi pemikiran, perang mental dan budaya, sekularisasi dalam arti  un religious, mereka kembangkan di negeri-negeri Islam dengan maksud untuk  meniadakan  praktek agama dalam kehidupan sehari-hari, seperti hedonistic society, permissive society gaya hidup serba instan, serba mudah, serba nikmat dan serba boleh tanpa memandang halal dan haram,  liberalisme yang meterialistik, pemujaan terhadap materi dan kebebasan. Materi dan kebebasan adalah segala-galanya, seolah-olah pengejawantahan berhala baru (neo paganisme) yang dipuja siang dan malam.

Pada gilirannya syariat Islam akan dianggap sebagai belenggu yang menghalangi kebebasan dan kepuasannya maka sedikit demi sedikit umat Islam akan meninggalkan syareat agamanya. Penghayatan Islam mewujud hanya sampai pada batas ritual tanpa aktual, inilah bentuk pemurtadan berselubung mengeluarkan umat Islam satu demi satu dari syareat agamanya. Dalam hal ini Allah Swt telah berfirman ;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوَاْ إِن تُطِيعُواْ فَرِيقاً مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

Artinya ; “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab (ahli kitab), niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.”  Q.S Ali Imran (3) ;100.

Bahkan pola hidupnya akan mengkristal menjadi gundukan manusia idividu yang berserakan dan berpecah belah sehingga mudah dipermainkan oleh invasi pemikiran, ideologi dan filsafat-filsafat yang menyesatkan. Sekalipun kaum muslimin jumlahnya banyak, potensi sumber daya alam yang berlimpah di negeri–negeri kaum muslimin tetapi kehilangan kekuatan, lemah tak berdaya bahkan menjadi objek yang dipermainkan dan diperebutkan  orang-orang kufar. Di exploitir kekayaan negerinya , di rusak aqidah dan akhlaqnya diporak porandakan persatuan dan kesatuannya.

III. Aplikasi Nilai Hijrah dalam Penataan Umat

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hijrah, sampai di Madinah Beliau segera mengatur langkah langkah strategis yang beliau lakukan dalam penataan dan pembangunan masyarakat Islam, antara lain:

  1. Membangun Masjid Quba

Bukan istana kerajaan, bukan pula benteng pertahanan militer yang Beliau bangun, tetapi yang beliau bangun  adalah masjid. Hal ini mengindikasikan bahwa misi kerasulan Nabi Muhammad saw. adalah misi kenabian bukan misi militerisme yang akan menjadi ancaman bagi non muslim dan bukan pula misi tahta kerajaan yang menjadi target perjuangannya. Beliau diutus untuk menyampaikan wahyu Ilahi agar manusia sujud dan beribadah hanya kepada Allah dengan tidak menyekutukan Nya dengan sesuatupun dan menyempurnakan Akhlaq manusia dengan akhlaqul karimah, menebarkan kasih sayang dan persaudaraan yang di bangun dalam satu system Jama’ah  dan Imaamah sebuah komunitas atau  masyarakat robbaniyah yang terbukti;

a. Beliau membawa dan menyampaikan agama yang bersumber dari Allah Rabbul ’alamin bukan ideology, bukan pula hasil renungan dan gagasan pemikiran beliau.

b. Bahwa masyarakat yang dibangun bukan masyarakat Theokrasi, bukan pula demokrasi apalagi monarchi, tetapi masyarakat yang “Theocentrisme Humanisme” yaitu masyarakat yang dibangun di atas pondasi akidah Laa Ilaha Illallah yang bersifat Jama’i, sebuah komunitas muslim beroreintasi pada pengabdian kepada Allah (ta’abud ilallah),  bersifat Al-Insaniyah Al-Alamiyah (kemanusiaan yang universal) rahmatan lil ‘alamin, tidak bersifat lokal, kedaerahan, dan ashobiyah  (kesukuan atau kebangsaan) tetapi untuk seluruh umat manusia, “Asy-Syumuliyah wat Takamuliyah” (lengkap dan mencakup seluruh aspek kehidupan). Bukan sebuah gagasan pemikiran yang dituangkan dalam rumusan  ideology politik, ekonomi, social dan budaya. Islam adalah wahyu Ilaahi yang diturunkan sebagai hudan dan jalan hidup yang  lengkap dan meliputi berbagai aspek (baca QS. AL-Maidah ; 3) dan dalam ayat yang lain Allah berfirman ,

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقاً وَعَدْلاً لاَّ مُبَدِّلِ لِكَلِمَاتِهِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ () وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللّهِ إِن يَتَّبِعُونَ إِلاَّ الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلاَّ يَخْرُصُونَ ()

Artinya ; “Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Qur`an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat merobah robah kalimat- kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (115) Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” QS. Al An’am (6); 115 -116

  1. Membangun Ukhuwah Islamiyah

Langkah selanjutnya Rasulullah saw. membangun ukhuwah Islamiyah, mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan Anshar, kaum Aus dan Hajrat yang sudah ratusan tahun mereka berseteru saling berperang, mensejajarkan antara Tuan dan budak yang selama ini dianggap tabu. Hal ini mengisyaratkan bahwa Islam ditegakkan atas dasar aqidah dan ukhuwah, Kaljasadil Wahid (seperti tubuh yang satu) bukan dilatarbelakangi oleh “kepentingan” pribadi, golongan, ekonomi maupun kepentingan politik kekuasaan .

  1. Tegaknya shalat al maktubah biljama’ah

Sesudah hijrah di Madinah maka pelaksaan shalat lima waktu disempurnakan dan ditetapkan oleh Rasulullah saw. dengan berjama’ah di Masjid yang sangat ditekankan (sunnah mu’akadah), selain merupakan ibadah mahdhoh, disisi lain shalat berjama’ah adalah gambaran hidup atau miniatur   bentuk kemasyarakatan Islam di luar masjid. Didalam shalat berjama’ah di syaratkan adanya Imam dan Ma’mum. Itu artinya bahwa muslimin adalah bukan gundukan umat individu-individu yang anarchis, tetapi dia adalah umat yang satu, selalu hidup  terpimpin dan terorganisir sebagai Umat jama’ah dan imaamah yang terpimpin menurut kepemimpinan Allah dan Rasul Nya. Umat yang dinamika dan orentasinya hanya berpihak kepada Allah atau Hizbullah (baca Q.S. Al-Maidah 55 dan 56).

Ketika shalat berjama’ah Imam belum akan bertakbir sebelum Imam meluruskan dan merapatkan shaf ma’mumnya terlebih dahulu, ini artinya bahwa dalam kehidupan muslimin diluar masjid senantiasa berada pada satu barisan yang lurus dan rapat dalam persaudaraan, saling bahu-membahu, solid dan kompak dalam membangun peradaban yang maju dan santun. Demikian pula dalam menghadapi berbagai kemungkinan baik dalam keadaan aman maupun terancam.

Pada era informasi ancaman yang bersifat non fisik ini sangat serius dan berbahaya, karena dia bagai virus yang tidak nampak dan dapat menyerang sentral syaraf otak yang mengakibatkan kelumpuhan umat Islam, kita kenal dengan gerakan riddah (pemurtadan umat Islam), pendangkalan aqidah agama melewati ghoswul fikri, pluralisme Agama dan lain-lain yang dapat memudarkan dan meniadakan iman dan syareat dalam kehidupan. Ibrah yang bisa kita ambil dari shalat berjama’ah adalah;

a. Imam menghadap ma’mum dan memberikan aba-aba “Sawwu shufufakum, tarasu wa’tadilu / rapat dan luruskan shaf” hal ini mengandung arti bahwa setiap pemimpin sebelum mengambil keputusan harus melihat keadaan dan kemampuan umat yang dipimpin. Tidak hanya berdasar pada semangat dan kemauan dirinya sendiri. Rasulullah saw pernah mengingatkan agar bila seseorang menjadi Imam maka “ringankanlah bacaan”. Artinya kepemimpinan Umat itu hendaknya berorientasi pada kepentingan, kesejahteraan dan keselamatan umat yang di pimpin sebagai cirri khas kepemimpinan Islam yang mengikuti jejak kenabian. Atau Rasulullah menyebutnya sebagai Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

b. Wa idza Kabbara Fakabbiru (apabila Imam bertakbir maka bertakbirlah)

Gerakan dalam shalat yang seirama tertib dan disiplin ini   merupakan gambaran bagaimana mestinya umat Islam dalam kehidupan bermasyarakat yang terpimpin kompak dan bersatu dalam kesatuan yang solid. Satu Jamaah Muslimin dan satunya Imaam bagi mereka. Seperti beberapa firman Allah dan sabda Rasulullahi saw. a/l;

وَٱعۡتَصِمُواْ بِحَبۡلِ ٱللَّهِ جَمِيعٗا وَلَا تَفَرَّقُواْۚ وَٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ إِذۡ كُنتُمۡ أَعۡدَآءٗ فَأَلَّفَ بَيۡنَ قُلُوبِكُمۡ فَأَصۡبَحۡتُم بِنِعۡمَتِهِۦٓ إِخۡوَٰنٗا وَكُنتُمۡ عَلَىٰ شَفَا حُفۡرَةٖ مِّنَ ٱلنَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنۡهَاۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ لَكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ ١٠٣

“Berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali Allah (Islam) seraya ber jama’ah dan janganlah kamu berpirqah-firqah “.QS.Ali Imran (3);103.

“Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang berfirqah-firqah dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itu orang-orang yang mendapat siksa yang berat”. QS.Ali Imran (3) ;105.

Dan Rasulullah saw.bersabda; “Sesungguhnya syetan adalah srigala bagi manusia seperti srigala bagi domba. Dia akan memangsa domba yang keluar dari kumpulannya dan menyendiri. Karena itu jauhilah perpecahan /firqah dan wajib atas kamu ber jama’ah dan orang umum”.  H.R Ahmad ;5/243.

Dan dalam satu  riwayat Hudzaifah bin Yaman ra. Pernah bertanya kepada Rasulullah saw. tentang suatu  keadaan yang buruk dimana pada situasi itu bermunculan panggilan-panggilan yang mengajak  orang ke  pintu-pintu Jahannam, Hudzaifah bertanya ; “Apa yang Tuan perintahkan kepadaku jika aku menjumpai keadaan yang demikian itu ?”. Rasulullah saw bersabda ; “ Tetapilah Jama’ah Muslimin dan Imaam bagi mereka”. Hudzaifah bertanya lagi ; “ Maka jika tidak ada bagi mereka Jama’ah dan Imaamnya ?”. Beliau bersabda : “ Hendaklah engkau tinggalkan firqah-firqah itu semua walau kamu sampai menggigit akar kayu sehingga kematian mengejar kamu, kamu tetap demikian !“. HR.Bukhari no.6557/Kitabul Fitan dan Muslim no.3434/Kitabul Imarah.

  1. Mengadakan perjanjian dengan pemuka-pemuka agama non muslim

Ini juga berarti bahwa Rasulullah saw. telah memberi landasan berpijak bahwa umat Islam bisa hidup berdampingan dan bisa bekerja sama dengan siapapun sepanjang dilakukan demi kemaslahatan dan bukan untuk maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dalam Al-Qur`an  Allah berfirman ;

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang diantaramu dan orang-orang yang kamu musuhi  diantara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (7)

“ Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.(8).

Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu  (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”.  QS.Al Mumtahanah (60) ; 7-9.

  1. Sentral dakwah dan penyiaran Islam

Dari Madinatul Munawarah Rasulullah saw. mengirim mujahid-mujahid dakwah ke segala penjuru pelosok untuk mengajak manusia beriman dengan bijak dan pengajaran yang mulia dan disini pula Rasulullah saw. menerima kabilah-kabilah yang ingin berdialog dan mendalami masalah islam. Sehingga Madinah menjadi sentral kegiatan dunia baru islam, cahanya menerangi kegelapan jahiliyah lama maupun jahiliyah modern , sinarnya menembus seluruh pelosok benua seantero jagad hingga saat ini.

IV. Kesimpulan

Peristiwa hijarahnya Nabi memberikan landasan tempat berpijak dan contoh teladan terbaik dalam upaya mewujudkan umatan wahidah yang dirindukan. System dan pola juang dalam  membangun serta  menata Umat  adalah dengan Jama’ah Imamah sebagaimana hadis nabi sampaiakan,  yakni  pola kepemimpinan yang mengikuti jejak ke nabian yang bersifat universal dan rahmatan lil ‘alamin  bukan dilandasi pada  pola ideologi pemikiran maupun filsafat barat maupun timur yang biasa bertumpu pada nafsu dan kepentingan.

Wallahu a’alm bis shawab

 Abul Hidayat Saerodji
LBIPI (Lembaga Bimbingan Ibadah Dan Penyuluhan Islam) Jakarta.
Jl.Pesantren Al Fatah RT/RW 02/05, Pasir Angin, Cileungsi, Bogor,16820. Indonesia.

Tag:

Tinggalkan Balasan