Mendidik Dengan Rahmat Ala Rasulullah ﷺ‎

54 views

Mendidik Dengan Rahmat Ala Rasulullah ﷺ‎

Oleh: K.H. Yakhsyallah Mansur

I. Islam Sebagai Rahmat bagi Semesta Alam

Rasulullah ﷺ‎ diutus oleh Allah  untuk menyebarkan rahmat bagi semesta alam.

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ

“Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya [21]: 107).

Imam Muslim meriwayatkan, “Ketika Rasulullah  diminta oleh sebagian sahabat mendoakan tidak baik kepada orang musyrik. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai tukang melaknat, sesungguhnya aku diutus hanya sebagai rahmat.”

Pengertian Rahmat

Rahmat secara bahasa berarti:

الرِّقَّةُ وَالتَّعَطُّفُ

“Kasih sayang yang berpadu dengan rasa iba.” (Lisanul Arab)

Sedangkan menurut Ahmad Musthafa Al Maraghi: “Perasaan jiwa yang mendorong pemiliknya untuk berbuat baik kepada orang lain.”

Menurut Ar-Raghib Al-lsfihani kata rahmat pada dasarnya memiliki dua pengertian yaitu kasih sayang dan kebajikan. Dalam hal ini, rahmat berarti kasih sayang yang menuntut adanya kebaikan terhadap yang dikasihi. Akan tetapi, dalam konteks kalimat kadang kalimat tersebut digunakan untuk menyatakan satu pengertian saja yaitu kasih sayang atau kebajikan.

Kata rahmat diambil dari Ar-Rahman atau Ar-Rahim yang berarti kerabat dan asal semua itu ialah Ar-Rahim artinya kandungan wanita.

Di dalam Al Quran, kata rahmat muncul ratusan kali dalan berbagai konteks dan pengertian, antara lain:

  1. Kebaikan dan kebijakan yang diberikan Allah kepada manusia

Misalnya:

اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ... ۗ

“….. Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A’raf [7]: 56).

  1. Kasih Sayang Yang Terjalin Antara Sesama Manusia

Misalnya:

Allah  berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖۤ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْۤا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً …..

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang…” (Q.S. Ar-Rum [30]: 21)

  1. Berbagai Kenikmatan dan Karunia dari Allah

Misalnya:

وَلَئِنْ اَذَقْنَا الْاِنْسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنٰهَا مِنْهُ ۚ اِنَّهٗ لَيَــئُوْسٌ كَفُوْرٌ

“Dan jika kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.” (Q.S. Hud [11]: 9)

  1. Jannah (Surga)

Misalnya:

يُّدْخِلُ مَنْ يَّشَآءُ فِيْ رَحْمَتِهٖ ۗ وَالظّٰلِمِيْنَ اَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا

“Dan memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.” (Q.S. Al-Insan (76): 31)

Apabila kita perhatikan di dalam Al Quran, maka akan kita dapati hampir setiap halaman terdapat kalimat rahmat atau yang senada dengannya, seperti wadud (penyayang), ‘afwu (pemaaf), halim (penyantun), rauf (pengasih) dan sebagainya.

Bahkan setiap kali kita membaca suatu surat, selain surat Al-Baqarah kita diperintahkan membaca “bismillaahir rahmaanir rahiim” dan pada pertengahan Al Quran kita dapati kalimat “walyatalathaf” (dan hendaklah berlaku lemah lembut).

Di dalam Al-Quran terdapat surat Ar-Rahman yang menjelaskan bahwa sebagai wujud kasih sayang Allah adalah mengajarkan Al-Quran kepada manusia sehingga manusia dapat mewujudkan kasih sayang di antara mereka dan mempunyai pegangan yang kokoh yang akan menuntun mereka kepada kebahagiaan hakiki di dunia dan di akhirat.

Oleh karena itu, bila manusia mengamalkan Al-Quran, mereka bisa hidup rukun, damai dan menebarkan kasih sayang. Sebaliknya apabila manusia mengabaikan Al-Quran mereka akan selalu bermusuh-musuhan dan mengakibatkan kekacauan serta hilangnya kasih sayang di antara sesama makhluk.

 

II. Rasulullah ﷺ‎ Sebagai Pendidik

Di samping sebagai utusan Allah  , Nabi Muhammad  juga seorang pendidik. Hal ini ditegaskan oleh Allah  dalam Al Quran, antara lain: “Ya Tuhan Kami, utuslah di tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan Al kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As Sunnah) kepada mereka serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 129)

Ayat ini merupakan doa Nabi Ibrahim  agar dari keturunannya lahir orang yang dapat mengembangkan agama dan mangajarkan ilmu pengetahuan dalam membina moral manusia.

Doa ini dikabulkan oleh Allah  dengan mengutus Nabi Muhammad  sebagai penutup para Nabi dan Rasul sekaligus sebagai seorang pendidik yang mengajarkan berbagai prilaku positif dengan contoh dan teladan yang baik.

Mengajarkan al-Kitab bukan hanya mengandung pengertian mengajarkan Al-Quran tetapi juga mengajarkan menulis yang merupakan arti bahasa dari kata al Kitab.

Menurut Muhammad Abduh (1265 H/1849 M-1323 H/1905 M), pengertian yang terakhir ini lebih sesuai mengingat pentingnya peran tulisan bagi kemajuan peradaban umat manusia. Sedang mengajarkan al-Hikmah adalah mengajarkan rahasia-rahasia hukum agama dan manfaatnya untuk mendorong manusia agar melaksanakannya.

Allah  juga berfirman yang artinya, “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Ali Imran [3]: 164).

Pada ayat ini, sosok Nabi Muhammad  sebagai seorang pendidik, kembali dipertegas oleh Allah . Ketika menafsirkan kalimat wa yuzakkihim (dan membersihkan (jiwa) mereka), Muhammad Abduh berkata: “Rasulullah adalah seorang pendidik dan pengajar.”

Selanjutnya Allah  berfirman yang artinya: “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (al-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Jumu’ah [62]:2).

Seperti pada ayat-ayat yang disebutkan sebelumnya, ayat ini juga menunjukkan bahwa salah satu tujuan diutusnya Nabi Muhammad  adalah untuk mendidik manusia agar dalam melaksanakan ajaran agama dilandasi dengan pengertian yang benar dan memahami tujuannya.

Dalam hadis disebutkan: “Dari Abdullah bin ‘Amr  bahwa Rasulullah  melewati dua majelis di dalam masjid. Lalu beliau bersabda, “Keduanya baik, hanya majelis yang satu lebih utama. Adapun majelis yang satu, mereka berdoa kepada Allah, jika Allah berkehendak akan memberi dan jika berkehendak akan menolak sedang majelis yang lain, mereka mengadakan aktifitas belajar mengajar inilah yang lebih utama. Sesungguhnya aku diutus untuk memberi pengajaran. Selanjutnya beliau duduk bersama majelis yang mengadakan aktifitas belajar-mengajar.” (H.R. Al-Darimi).

Sebagai seorang pendidik, Rasulullah  diberi anugerah oleh Allah  berbagai sikap yang membantu keberhasilan tugas, antara lain:

a. Memiliki Empati dan Rasa Kasih sayang serta Berambisi akan Keberhasilan Anak Didik

Allah  berfirman yang artinya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S. Al-Taubah [9]: 12).

Pada ayat ini, Allah  menerangkan tiga sikap Rasulullah  dalam menyantuni umatnya.

Pertama, sangat berat bagi beliau apabila umatnya menderita kesusahan. Setiap waktu yang dipikirkan hanya nasib umatnya. Bahkan pada akhir hayatnya beliau berpesan: “Perhatikanlah shalat, perhatikanlah shalat dan budak-budakmu.”

Pada waktu itu, perbudakan belum dihapuskan dan budak adalah kelompok manusia yang paling menderita.

Kedua, sangat berambisi terhadap kebaikan dan keberhasilan umatnya. Perhatian beliau hanyalah bagaimana umatnya maju dan sukses di dunia dan di akhirat.

Ketiga, sangat sayang kepada umatnya. Pada ayat ini, Allah  menggunakan dua sifat-Nya yaitu rauf dan rahim untuk Nabi Muhammad . Hal ini menunjukkan bahwa sifat kasih sayang (rauf dan rahim) Rasulullah  kepada umatnya itu sangat tinggi melebihi sifat kasih sayang manusia biasa sehingga mendekati sifat kasih Allah  kepada makhluk-Nya.

Hamka membedakan antara rauf (kasih) dan rahim (sayang). Rauf adalah belas kasihan kepada orang yang lemah, yang miskin, yang sakit, yang gagal dan semua orang yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang karena penderitaan yang dialaminya. Sedang rahim adalah kasih sayang yang merata kepada semua manusia baik yang berbahagia maupun yang menderita.

b. Shidiq (berkata benar) dan dapat dipercaya

Allah  berfirman yang artinya: “Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Quran) menurut kemauan hawa nafsunya, ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Q.S. Al-Najm, 53: 3-4)

Ayat ini menunjukkan bahwa sebagai seorang pengajar dan pendidik, Rasulullah  memiliki sifat Shidiq (berkata benar). Dia tidak akan menyampaikan sesuatu tentang agama yang tidak diwahyukan Allah  kepadanya.

Rasulullah  juga dikenal sebagai al-Amin (orang yang sangat dipercaya). Gelar al-Amin telah beliau peroleh sejak beliau belum diangkat sebagai utusan Allah .

c. Berjuang Tanpa Pamrih

Firman Allah  yang artinya: “Katakanlah: “Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Saba’, 34: 47)

Yang dimaksud dengan ayat ini adalah bahwa Rasulullah  sekali-kali tidak meminta upah kepada manusia. Tetapi yang diminta Rasulullah  sebagai upah ialah agar mereka beriman kepada Allah  dan iman itu adalah buat mereka sendiri.

Ayat-ayat di atas, memberikan gambaran tentang sebagian kepribadian Rasulullah  sebagai seorang pendidik. Beliau memiliki rasa kasih sayang yang sangat tinggi kepada anak didiknya dan sangat berambisi atas keberhasilan mereka. Beliau sangat dekat dengan anak dan mencintai mereka dengan kecintaan yang tiada taranya bahkan terkadang mengalahkan kecintaannya kepada keluarganya.

Perhatian dan kasih sayang yang sangat tinggi kepada anak-anak didik sangat besar untuk keberhasilan mereka, semuanya tanpa mengharapkan balas jasa dan upah atas segala dilakukannya. nilah suatu sikap yang diperhatikan oleh setiap pendidik demi tercapainya kesuksesan dalam pengajaran.

 

III. Strategi Mengatasi Anak Yang Bermasalah

Kita kerap menyaksikan kekeliruan yang dilakukan seorang anak. Metode seorang pendidik sangat menentukan keberhasilan upaya mengatasi kekeliruan serta mendorong anak untuk tidak mengulangi kekeliruan yang sama. Ada beberapa cara yang digunakan oleh Rasulullah  dalam mengatasi anak yang bermasalah.

  1. Melalui Teguran Langsung

Umar bin Abi Salamah  berkata, “Dulu aku menjadi pembantu di rumah Rasulullah . Ketika makan biasanya aku mengulurkan tanganku ke berbagai penjuru. Melihat itu beliau bersabda, ‘Hai ghulam, bacalah Basmallah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang di dekatmu.” (Muttafaq ‘Alaih)

  1. Melalui Sindiran

Rasulullah  bersabda: “Apa keinginan kaum yang mengatakan begini begitu. sesunguhnya aku shalat dan tidur, berpuasa dan berbuka, dan menikahi wanita. Maka barang siapa tidak senang dengan sunnahku berarti bukan golonganku.” (Muttafaq alaih)

  1. Melalui Celaan

Abu Dzar  berkata, “Aku telah memaki seseorang sampai membuatnya malu sambil menyebutkan nama ibunya. Kemudian Rasulullah  bersabda kepadaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau telah mempermalukannya dengan menyebut nama ibunya? Sesungguhnya pada dirimu masih melekat sifat ahliyah.” (H.R. Bukhari)

  1. Melalui Pemutusan Hubungan

Pernah disebutkan bahwa Ka’ab bin Malik  tidak ikut berserta Rasulullah  dalam perang Tabuk. Dia berkata, “Nabi melarang para sahabat berbicara denganku selama lima puluh malam.” (H.R. Bukhari)

  1. Melalui Pemukulan

Rasulullah  bersabda, “Perintahkanlah anak-anakmu shalat dari usia tujuh tuhun, dan pukulah mereka kalau enggan mengerjakannya pada usia sepuluh tahun, serta pisahkan mereka dari tempat tidur.” (H.R. Abu Daud)

Dalam hadis yang lain beliau bersabda, “Gantungkanlah cemeti, agar penghuni keluarga melihatnya karena yang demikian itu adalah pendidikan bagi mereka.” (H.R. Thabrani)

Maksudnya dengan hanya menggantungkan cemeti sudah cukup membuat anak takut tanpa perlu melecutkan kepadanya. Memukul tidak boleh diartikan sebagai tindakan pukul memukul dalam cara ini terdapat kode etik syari untuk melindungi anak, antara lain:

  1. Seorang pendidik tidak boleh memukul kecuali jika seluruh saran peringatan dan ancaman tidak mempan lagi.
  2. Tidak boleh memukul dalam keadaan marah karena akan membahayakan anak.
  3. Pemukulan tidak boleh dilakukan pada tempat-tempat berbahaya seperti kepala, muka atau dada.
  4. Pemukulan tidak dilakukan terlalu keras dan tidak menyakitkan serta tidak lebih dari sepuluh kali.
  5. Pemukulan tidak boleh dilakukan pada kesalahan pertama kali. Ketika anak melakukan kesalahan pertama kali harus diberikan kesempatan memperbaiki diri
  6. Pemukulan harus dilakukan oleh pendidik sendiri tidak boleh diwakilkan kepada orang lain, agar terhindar dari kedengkian dan perselisihan.
  7. Pemukulan harus dilakukan langsung ketika anak melakukan kesalahan. Tidak dibenarkan memukul anak yang bermasalah setelah berselang hari dari perbuatan salahnya.
  8. Apabila dengan cara memukul tidak membuahkan hasil, pemukulan tidak boleh diteruskan dan harus mencari jalan pemecahan yang lain.
  9. Pemukulan tidak boleh berpusat, harus berpindah-pindah dan pemukulan kedua harus lebih ringan dari pemukulan pertama.
  10. Pemukul yang digunakan tidak boleh berupa kawat besi, utamakan alat pemukul yang lentur.
  11. Hendaknya pemukulan dilakukan tidak terlalu keras dan tidak menyakitkan. Seorang pendidik dianjurkan mengangkat lengan sampai ketiaknya terlihat dan menjatuhkan pukulan dengan seringan-ringannya.

Wallahu A’lam bis Shawwab

No Response

Comments are closed.