Ramadhan Bulan Kasih Sayang

22

Oleh: Imaamul Muslimin Syaikh Yakhsyallah Mansur

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 وَإِن يُرِيدُوٓا۟ أَن يَخْدَعُوكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ ٱللَّهُ ۚ هُوَ ٱلَّذِىٓ أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِۦ وَبِٱلْمُؤْمِنِينَ (٦٢) وَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْۗ لَوْاَنْفَقْتَ مَا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا مَّآ اَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ اَلَّفَ بَيْنَهُمْۗ اِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ (٦٣) (الأنفال [٨]:٦٣ـــ٦٢)

“Dan jika mereka hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagimu. Dialah yang memberikan kekuatan kepadamu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin. dan Dia (Allah) yang mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Q.S. Al-Anfal [8]: 62-63)

Kedua ayat di atas memberi petunjuk bahwa pertolongan Allah  pasti akan diberikan kepada orang yang beriman. Hanya pertolongan itu sangat tergantung dengan kasih sayang dan kesatuan di antara orang yang beriman.

Ketika menafsirkan ayat ini, Ahmad Musthafa Al-Maraghi menyatakan:

وَفِى الْأَيَةِ إِيْمَاءٌ أَنَّ النَّصْرَ يُنَالُ بِالْأَسْبَابِ الَّتِى أَهَمُّهَا التَّأَلُّفُ وَالْإِتَّحَادُ

“Ayat ini mengisyaratkan bahwa pertolongan Allah itu diperoleh dengan beberapa faktor dan yang terpenting adalah kasih sayang dan persatuan.”

Ar-Raghib Al-Asfihani mengatakan ulfah berarti:

الْإِجْتِمَاعُ مَعَ إِلْتِئَامِ

“Berkumpul dengan serasi.”

Di samping menunjukkan bahwa kasih sayang dan kesatuan di antara umat Islam merupakan penyebab datangnya pertolongan Allah , ayat ini juga menunjukkan tingginya nilai dan harga persaudaraan di antara umat Islam yang tidak dapat terbeli dengan dunia dan seluruh isinya.

Berkenaan dengan ayat ini, Ibnu Katsir menukilkan riwayat dari Abu Amr Al-Auza’i yang mengatakan, “Telah menceritakan kepadaku Abdah bin Abu Lubabah, dari Mujahid yang ia jumpai. Lalu Mujahid memegang tangannya dan berkata, “Apabila dua orang saling mencintai karena Allah berjumpa, lalu salah seorang di antaranya memegang tangan sahabatnya dan tersenyum kepadanya, maka berguguranlah semua dosanya seperti daun kering berguguran.” Abdah berkata, “Sesungguhnya hal ini sangat mudah.” Mujahid berkata, “Jangan engkau berkata begitu.” Sesungguhnya Allah  berfirman:

لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِى الْأَرْضِ جَمِيْعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

“Walaupun engkau membelanjakan semua kekayaan yang ada di muka bumi engkau tidak akan dapat mempersatukan hati mereka.”

Maka Abdah berkata, “Sejak itu saya mengakui bahwa dia (Mujahid) lebih dalam ilmunya dari pada saya.”

Dalam sebuah hadis Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمُسْلِمَ إِذَا لَقِيَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ فَأَخَذَ بِيَدِهِ تَحَاتَتْ عَنْهُمَا ذُنُوْبُهُمَا كَمَا يَتَحَاتَّ الْوَرَقُ عَنِ الشَّجَرَةِ الْيَابِسَةِ فِي يَوْمِ رِيْحٍ عَاصِفٍ وَإِلَّا غُفِرَ لَهُمَا وَلَوْ كَانَتْ ذُنُوْبُهُمَا مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ (رواه الطبراني)

“Sesungguhnya orang Islam apabila bertemu saudaranya, lalu menjabat tangannya, maka berguguranlah dosa keduanya seperti daun kering yang berguguran dari pohonnya di hari yang berangin kencang. Dan selain itu dosa-dosanya diampuni sekalipun sebanyak benih di lautan.” (H.R. Ath-Thabrani)

Shaum dan Kasih Sayang

Tujuan shaum (puasa) sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah [2]: 183 adalah agar menjadikan pelakunya sebagai orang bertaqwa. Taqwa dalam pengertian umum adalah melaksanakan segala perintah Allah  dan menjauhi larangan-Nya. Mewujudkan kasih sayang di antara manusia adalah perintah Allah  dan salah satu landasan utama terwujud kasih sayang adalah adanya unsur kesamaan. Di sinilah letak rahasia besar hikmah sosial berpuasa.

Dengan puasa orang “dipaksa” untuk merasakan lapar dan dahaga bersama-sama. Dari lapar dan dahaga, orang kaya akan merasakan apa yang dirasakan orang yang berada di garis kemiskinan, orang yang berada di kolong jembatan, kaum gelandangan yang tidak punya pekerjaan. Mereka adalah orang yang sering berselimutkan kelaparan, yang kedinginan di malam hari dan terbakar terik matahari di siang hari.

Puasa adalah cara praktis untuk melatih kasih sayang di antara manusia. Dengan rasa lapar dan dahaga pada orang kaya maka tercipta rasa cinta dan sayang orang miskin papa. Orang berpunya yang hatinya diasah oleh puasa, maka telinga jiwanya akan mendengar suara orang miskin yang merintih karena ketiadaan harta yang dimilikinya.

Dengan kasih sayang, Rasulullah ﷺ membentuk karakter umat. Beliau ﷺ bersabda:

إِرْحَمُوا مَنْ فِى الْأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِى السَّمَاءِ

“Sayangilah siapa yang di bumi, niscaya Dia yang di langit mengasihimu.”

Dalam hadis lain beliau ﷺ bersabda, “Siapa yang tidak memiliki kasih sayang, tidak akan disayangi oleh Allah.”

Menurut hadis riwayat Ibnu Huzaimah, bahwa Ramadhan dibagi menjadi 3 bagian. Sepuluh hari pertama adalah rahmat (kasih sayang), sepuluh hari kedua adalah maghfirah (pengampunan dosa) dan sepuluh hari terakhir adalah pembebasan dari neraka.

Terlepas dari kesahihan hadis ini, matannya (kontennya) jelas sangat benar justified (sahih). Di bulan ini kita hanya mencari rahmat tapi hendaknya membangun rahmat di antara manusia.

Rahmat didefinisikan oleh sebagian ulama sebagai keinginan berbuat baik kepada yang lain tanpa mengharap kebaikan itu kembali kepada dirinya.

Para salafussalih benar-benar telah dapat mengimplementasikan nilai rahmat dalam kehidupan mereka sehingga Allah  menyayangi mereka dan mereka pasti mendapat kemenangan dalam peperangan-peperangan yang terjadi di bulan Ramadhan.

Peperangan-Peperangan di Bulan Ramadhan

Peperangan adalah bentuk terakhir dari pembelaan terhadap kekuatan yang hendak menghalangi dakwah Islam. Allah  berfirman (Q.S. Al-Hajj [17]: 39-40)

Rangkaian ayat ini menyebutkan tiga alasan umat Islam diperbolehkan berperang:

  1. Karena mereka teraniaya, diserang lebih dahulu dan diusir dari kampung halamannya karena agama dan keyakinannya.
  2. Menjaga tempat-tempat ibadah semua agama yang bertuhan seperti biara, gereja Nasrani, sinagog Yahudi, dan masjid dari kezaliman penyembah berhala.
  3. Untuk menjamin keamanan, ketenteraman dan ketenangan dalam pelaksanaan ibadah serta terwujudnya ketertiban sosial.

Adalah bukan sebuah kebetulan apabila beberapa peperangan yang menentukan perjalalan dakwah terjadi di bulan ini, di antaranya:

  1. Perang Saiful Bahri, sariyah pertama yang dipimpin Hamzah bin Abdul Mutholib. Terjadi di bulan Ramadhan 1 H sebelum puasa diwajibkan.
  2. Perang Badar Kubro, yang dipimpin oleh Rasulullah ﷺ. Terjadi di bulan Ramadhan 2 H, tahun pertama puasa diwajibkan.
  3. Perang Fathu Makkah, pembebasan kota Makkah, di bulan Ramadhan 8 H.
  4. Perang penghancuran berhala sekitar jazirah Arab yang dipimpin oleh Khalid bin Walid, di bulan Ramadhan 8 H.
  5. Perang Al-Buwaib, antara umat Islam yang berjumlah 8 ribu pasukan di bawah komando Al-Mutsanna bin Haritsah menghadapi tentara Persia yang berjumlah 100 ribu pasukan di bawah komando Mahran salah seorang komandan terbesar Persia di bulan Ramadhan 13 H.
  6. Perang Pembebasan Andalusia, antara umat Islam yang berjumlah 19 ribu pasukan di bawah komando Thoriq bin Ziyad, menghadapi tentara Salib yang berjumlah 100 ribu pasukan di bawah komando Raja Roderik. Terjadi di bulan Ramadhan 92 H.
  7. Perang Hittin, antara umat Islam di bawah komando Shalahuddin Al-Ayyubi menghadapi pasukan Salib dalam rangka membebaskan Masjid Al-Aqsha. Terjadi di bulan Ramadhan 584 H.
  8. Perang Ain Jalut, di mana pasukan Islam di bawah komando Saifuddin Quttuz berhasil membendung dan menghancurkan pasukan Tartar yang telah bertahun-tahun merajalela merusak di negeri-negeri muslim. Terjadi di bulan Ramadhan 658 H.
  9. Penghancuran tentara Romawi oleh pasukan Islam di bawah komando Raja Mu’tashim Billah untuk menyelamatkan seorang muslimat yang mereka tawan. Terjadi di bulan Ramadhan 223 H.
  10. Perang penghancuran benteng Bar Lev milik Yahudi oleh pasukan muslim Arab di bawah komando Mesir. Terjadi bulan Ramadhan 1363 H.

Demikianlah sebagian peperangan yang terjadi di bulan Ramadhan yang dimenangkan umat Islam. Oleh karena itu bulan ini bukan bulan istirahat, bukan bulan berkurangnya aktivitas tapi bulan untuk memaksimalkan semua ibadah dan kasih sayang kepada sesama untuk menuju kemenangan.

وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّابِ

Sumber: Mi’raj News Agency (MINA)