Imaam: Berjamaah Adalah Syariat Islam

 

Bogor- Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur mengatakan Kehidupan berjama’ah merupakan syariat Islam yang fundamental, tidak bisa dipisahkan dengan syariat lainnya, sebagaimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk berpegang teguh kepada tali agama Allah dalam bingkai hidup berjama’ah, tidak bergolong-golong, dan berpecah belah (berfirqah-firqah).

“Dengan berjama’ah, Islam mampu berdiri kokoh menaungi dunia dengan kedamaian. Hal itu terbukti pada masa Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam. Dengan datangnya Islam, mereka menjadi masyarakat yang aman, tenteram dan hidup penuh kedamaian. Rasul menjadi Imaam dan para sahabat menjadi makmumnya. Sementara orang-orang yang belum mererima Islam, mereka bersepakat dalam sebuah perjanjian yaitu Piagam Madinah,” demikian Imaam sampaikan pada tausiyah Tabligh Akbar Virtual 1442 di Cilungsi, Bogor 4/4.

Indahnya Islam juga dirasakan hingga setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa salam wafat. Abu Bakar diangkat sebagai Amiirul Mukminin, memimpin umat untuk senantiasa taat menjalankan syariat. Begitupun setelah beliau wafat, diangkatlah Umar, selanjutnya Utsman dan Ali bin Abi Thalib. Kepemimpinan empat sahabat itulah yang menjadi potret terbaik kehidupan berjamaah, yang oleh Rasul disebut sebagai Khilafah ala Minhajin Nubuwah.

Akan tetapi, lanjut Imaam Yakhsyallah, ketika hidup berjama’ah dengan satu kepemimpinan mulai ditinggalkan, Islam lambat laun terjun bebas kepada titik terendah dan pada akhirnya dilecehkan oleh musuh-musuh Islam.

“Lihatlah saat ini, di Palestina, puluhan tahun rakyatnya menderita, tanpa ada yang mampu menolongnya. Muslim di Rohingya dibunuh, para wanitanya diperkosa, mereka teraniaya, tetapi tidak ada yang mampu berbuat sesuatu untuk menghentikannya Muslim di Xin jiang juga bernasib sama, namun tidak ada yang mampu memberi advokasi kepada mereka. Itulah potret ummat Islam yang tidak memiliki kepemimpinan, mereka teraniaya dan tidak ada yang mampu menyelamatkan dan memberi pertolongan,” pungkasnya.

Pembina Jaringan Ponpes KH. Abul Hidayat Saerodjie menyatakan, masyarakat Islam, umat Al-Jama’ah merupakan bentuk masyarakat terikat pada nilai-nilai akidah dan ukhuwah yang berpegang teguh pada syariah (hukum Allah) dan sunnah para Nabi. Bukan atas dasar ekonomi, politik, etnis, dan kepentingan lainnya.

Sementara Dosen Universitas USIM Malaysia Dr. Ahmed Abdul Malik, mengatakan, menumbuhkan dan membina hidup berjama’ah harus dengan hidup bersama yang serasi, rukun dan dinamis.

“Menumbuhkan dan membina hidup sejahtera, yakni hidup yang terpenuhi kebutuhan lahir dan batin bagi segenap warga jama’ah. Kesemuanya itu untuk mengantarkan warga jama’ah dalam pengabdiannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kepada bangsa dan negara serta kemaslahatan manusia pada umumnya,” ujarnya.

Tabligh Akbar Virtual tahun ini mengangkat tema “Berjama’ah Adalah Fitrah Dalam Menghadapi Berbagai Fitnah dan Krisis Akhir Zaman”.

Tabligh Akbar kali ini dilaksanakan secara virtual (online) dan serentak di berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, Nigeria, Uganda, Sudan, dan Palestina.

Tabligh Akbar ini disiarkan secara langsung melalui platform media sosial seperti Zoom Meeting dan kanal YouTube Al-Jama’ah TV.

“Kali ini Tabligh diselenggarakan secara terbatas, hanya dihadiri secara fisik oleh umat Islam di sekitar Cileungsi. Selebihnya mengikuti Tabligh secara virtual di daerah masing-masing melalu platform Zoom dan streaming YouTube Al-Jamaah TV,” kata ketua Panitia Tabligh Akbar Ibnu Mas’ud.

Siaran berlangsung pada pukul 08.00-11.50 WIB, diliput dari berbagai titik yang digunakan sebagai pusat kegiatan Tabligh Akbar di berbagai wilayah yakni, Masjid At-Taqwa Ponpes Al-Fatah Cileungsi, Masjid AN-Nubuwwah Muhajirun Lampung Selatan, Masjid Ihyaussunnah Ponpes Al-Fatah Batam, bahkan hingga wilayah terjauh di Kalimantan Barat dan Nusa Tenggara Timur, dengan diikuti protokol kesehatan dan keselamatan dari COVID-19 yang ketat.

Tabligh Akbar ini menghadirkan pembicara utama yakni Imaamul Muslimin Yakhsyallah Mansur, Pembina Jaringan Ponpes Al-Fatah KH. Abul Hidayat Saerodjie, Dosen Universitas USIM Malaysia Dr. Ahmed Abdul Malik, Pengasuh Ponpes Al-Fatah Maos Arif Hizbullah, M.A., juga tayangan video tausyiah dari ulama Gaza Palestina, Syaikh Prof Mahmud Anbar, Dr. Abdullah Abu Bakar (ulama Thailand), Syaikh Watteau Datu Ibrahim (ulama Filipina), Dr. Dato Rusli Abdullah (ulama Malaysia). Selain itu, acara ini dibawakan oleh Sekretaris Redaksi MINA Widi Kusnadi selaku pembawa acara.

Kegiatan ini bekerjasama dengan STAI Al-Fatah, Alfa Centauri, Language Course for Da’wah and Ummah (LCDU), dengan media partner Rasil Network dan Kantor Berita MINA.

Pondok Pesantren Al-Fatah telah menginisiasi kegiatan tahunan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai momen muhasabah, dakwah dan sekaligus persiapan menyambut bulan Ramadhan 1442 H dalam kegiatan Taklim Pusat Virtual.

Kegiatan Taklim Pusat menyambut bulan Ramadhan ini adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Al-Fatah Cileungsi setiap akhir Sya’ban dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan.

Sebelum pandemi, Taklim Pusat ini biasanya dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah, bahkan luar negeri. (A/R1/RI-1)

Sumber : Minanews.net

 

Beri rating artikel ini!
Tag:

Komentar ditutup.