Fatwa Dewan Istinbath Majelis Qodlo Jama’ah Muslimin (Hizbullah) tentang Bunga Bank

Dalil-Dalil

  1. Al Qur’an

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلاَلاً طَيِّبًا وَلاَ تَتَّبعِوُا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ (البقرة [٢]: ١٦٨)

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 168)

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (البقرة [٢]: ٢٦٨)

Syaitan menjanjikan  kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan; sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia  Dan Allah Maha Luas  lagi Maha Mengatahui.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 268)

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ. يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ. إِنَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ. فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (البقرة [٢]: ٢٧٥-٢٧٩)

“Orang-orang yang makan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata, sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti, maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu; dan urusannya kepada Allah. Orang yang kembali, maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak mereka bersedih hati. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan, maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat, maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak dianiaya. (Q.S. Al-Baqarah [2]: 275-279)

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ ۖ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ (الروم [٣٠]: ٣٩)

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar harta manusia bertambah, maka tidak bertambah dalam pandangan Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk memperoleh keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya). (Q.S. Ar-Rum [30]: 39)

وَلَا تَمْنُن تَسْتَكْثِرُ (المدثر [٧٤]: ٦)

“Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (Q.S. Al-Muddatsir [74]: 6)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُّضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (ال عمران [٣]:١٣٠)

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Q.S. Ali Imran [3]: 130)

B. As Sunnah

عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَعَنَ النَّبِيُّ ﷺ الْوَاشِمَةَ وَالْمُسْتَوْشِمَةَ وَآكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَنَهَى عَنْ ثَمَنِ الْكَلْبِ وَكَسْبِ الْبَغِيِّ وَلَعَنَ الْمُصَوِّرِينَ (رواه البخاري)

Dari Aun Bin Abi Juhaifah, ia berkata, Rasulullah  melaknat pekerjaan penato, dan yang minta ditato, menerima dan memberi riba serta melaknat para pembuat gambar.” (H.R. Bukhari, No. 2084 Kitab Al Buyu’)

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤْكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ: هُمْ سَوَاءٌ. (رواه مسلم)

Dari Jabir , Rasulullah mengutuk orang yang menerima riba, orang yang membayarnya, mencatatnya dan dua orang saksinya, kemudian beliau bersabda: “Mereka semua itu sama” (H.R. Muslim, No. 2995, Kitab Al Musaqah)

Catatan: di dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Shahih At-Tirmidzi 4/333 dan Aun Al-Ma’bud Syarah Sunan Abu Dawud 9/130 disebutkan yang dimaksud kalimat: آكِلَ الرِّبَا adalah orang yang mengambil riba walaupun tidak memakannya, adapun disebutkan kata “makan” adalah karena makan merupakan penggunaan yang terbesar dari bermacam-macam penggunaan riba, seperti Firman Allah , “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala.” (Q.S. An-Nisaa [4]: 10). Sedangkan maksud kalimat وَمُؤْكِلَهُ dan dapat juga dibaca dengan badal (مؤكله) maksudnya adalah orang yang memberi riba kepada orang yang mengambilnya walaupun ia tidak memakannya, mengingat makan adalah penggunaan terbesar dari macam-macam penggunaan riba tersebut.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ آكِلَ الرِّبَا وَمُؤكِلَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَكَاتِبَهُ (رواه البخاري ومسلم وأحمد وأبو داود والترمذي)

Dari Jabir bin Abdullah: “Allah mengutuk orang yang mengambil riba, orang yang menjadi saksinya, dan orang yang mencatatnya.” (H.R. Al Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan At Tirmidzi, ‘Fiqih Sunnah hal 177 Bab Riba).

عَنْ عَبْدِ اللهِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ الرِّبَا ثَلَاثَةُ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أَيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرَّجُلُ أُمَّهُ... ( رواه الحاكم، وقال: هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ولم يخرجاه، انظر المستدراك على الصحيحين ٢/٤٣)

Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi  bersabda: “Riba memiliki tujuh puluh tiga pintu (tingkatan), yang paling ringan (dosanya)nya sama dengan seseorang yang melakukan zina dengan ibunya (H.R. Al-Hakim, dan beliau menyatakan: Hadits ini shahih “’ala syarthi syaikhaini”’ akan tetapi mereka berdua tidak mentakhrijnya dalam kitab mereka, lihat “Al Mustadrak ‘Ala ash Shahihaini 2/43).

Definisi

Riba menurut bahasa bermakna الزيادة (tambahan). Dalam pengertian lain, secara linguistik, riba juga berarti tumbuh dan membesar. Adapun menurut istilah teknis, riba berarti pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam secara batil atau bertentangan dengan prinsip muamalah dalam Islam. (Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah: Dari Teori ke Praktek)

Bunga Bank adalah: segala transaksi yang terjadi dalam perbankan dengan memberlakukan interest /bunga. Pengertian interest/bunga adalah adanya penambahan yang dijanjikan terlebih dahulu dalam akad transaksi hutang-piutang baik oleh salah satu atau kedua belah pihak yang bertransaksi. Transaksi perbankan yang mengandung unsur bunga di antaranya:

  1. Pinjaman (kredit secara konvensional) dengan bunga, baik berbunga kecil ataupun besar.
  2. Bunga giro
  3. Bunga deposito
  4. Bunga tabungan
  5. Bunga kartu kredit
  6. Bunga pegadaian
  7. Bunga koperasi

Tabhits

  • Ta’rif di atas menunjukkan adanya unsur kesamaan antara bunga bank dengan riba.
  • Dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah di atas, menjelaskan tentang diharamkannya riba.

Kesimpulan

  1. Sistem bunga termasuk praktek riba yang diharamkan berdasarkan dalil-dalil di atas.
  2. Bagi yang terpaksa menabung di bank sistem konvensional, dianggap dalam kondisi darurat bila tidak terdapat sama sekali bank syari’ah di wilayah keberadaannya namun tetap diharamkan untuk mengambil bunga tabungan tersebut.

Cileungsi, 28 Rabi’ul Awwal 1425 H / 18 Mei 2004 M

Amir Dewan Istinbath : KH. Yakhsyallah Mansur Syathori

Katib : Rais Abdullah

No Response

Comments are closed.