Keputusan Imaamul Muslimin Tentang Pengertian Sulthan

SURAT KEPUTUSAN IMAAMUL MUSLIMIN
Nomor: A.002/01/I/MA-1439 H
TENTANG PENGERTIAN SULTHAN

Berdasarkan:

A. Dalil-Dalil

  1. Al Qur’an

إِلَّا الَّذِينَ يَصِلُونَ إِلَىٰ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ أَوْ جَاءُوكُمْ حَصِرَتْ صُدُورُهُمْ أَن يُقَاتِلُوكُمْ أَوْ يُقَاتِلُوا قَوْمَهُمْ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَسَلَّطَهُمْ عَلَيْكُمْ فَلَقَاتَلُوكُمْ ۚ فَإِنِ اعْتَزَلُوكُمْ فَلَمْ يُقَاتِلُوكُمْ وَأَلْقَوْا إِلَيْكُمُ السَّلَمَ فَمَا جَعَلَ اللَّهُ لَكُمْ عَلَيْهِمْ سَبِيلًا. / النساء [٤]: ٩٠

“Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada suatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang yang datang kepadamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu atau memerangi kaumnya. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (dalam) menghadapi kamu, maka pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangimu serta menawarkan perdamaian kepadamu (menyerah), maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.” (Q.S. An Nisa [4]: 90)

وَمَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْهُمْ فَمَا أَوْجَفْتُمْ عَلَيْهِ مِنْ خَيْلٍ وَلَا رِكَابٍ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . / الحشر [٥٩]: ٦

“Dan harta rampasan fai' dari mereka yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya, kamu tidak memerlukan kuda atau unta untuk mendapatkannya, tetapi Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S. Al-Hasyr [59]: 6)

وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَل لِّي مِن لَّدُنكَ سُلْطَانًا نَّصِيرًا. / الإسراء [١٧]: ٨٠

“Dan katakanlah (Muhammad), ya Tuhanku, masukkan aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkan (pula) aku ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang dapat menolong(ku).” (Q.S. Al-Isra [17]: 80)

 

يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا ۚ لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ.  / الرحمن  [٥٥]: ٣٣

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan (dari Allah).” (Q.S. Ar-Rahman [55]: 33)

إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُم بِهِ مُشْرِكُونَ. / النحل [١٦]: ٩٩-١٠٠

“Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhan. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (Q.S. An-Nahl [16]: 99 – 100)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَن تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُّبِينًا. / النساء [٤]: ١٤٤

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)?” (Q.S. An-Nisa [4]: 144)

قَالَتْ رُسُلُهُمْ أَفِي اللَّهِ شَكٌّ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ يَدْعُوكُمْ لِيَغْفِرَ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُؤَخِّرَكُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ قَالُوا إِنْ أَنتُمْ إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُنَا تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا فَأْتُونَا بِسُلْطَانٍ مُّبِينٍ. / إبراهيم [١٤]: ١٠

“Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keraguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu (untuk beriman) agar Dia mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai waktu yang ditentukan?” Mereka berkata, “Kamu hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu ingin menghalangi kami (menyembah) apa yang dari dahulu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” (Q.S. Ibrahim [14]: 10)

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مُوسَىٰ بِآيَاتِنَا وَسُلْطَانٍ مُّبِينٍ. / غافر [٤٠]: ٢٣

Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata,(Q.S. Ghafir [40] : 23)

 

  1. As Sunnnah

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوْخَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا الْجَعْدُ حَدَّثَنَا أَبُوْ رَجَاءٍ الْعُطَارِدِيُّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ رَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: مَنْ كَرِهَ مِنْ أَمِيْرِهِ شَيْئًا فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ. فَإِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ خَرَجَ مِنَ السُّلْطَانِ شِبْرًا فَمَاتَ عَلَيْهِ إِلَّا مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً. / رواه مسلم

Artinya : “Menceritakan kepada kami Syaiban ibn Farukh, mencertikan kepada kami Abdul Warits, menceritakan kepada kami Al Ja’du, menceritakan kepada kami Abu Roja Al-Uthoridi, dari Ibnu Abbas dari Rasulullah  bersabda; Barangsiapa yang tidak menyukai sesuatu dari amirnya, maka hendaklah ia bersabar atasnya, karena tidak ada seorangpun dari manusia yang keluar dari sulthan walaupun sejengkal saja kemudian ia mati di atasnya, maka matinya seperti mati jahiliyah.” (H.R. Muslim : 1849)

 

B. Pembahasan

Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan “sulthan” dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Ketika menafsirkan Q.S. Al-Isra: 80, “Tafsir Jalalain” menyebutkan:

قُوَّةٌ تَنْصُرُنِى بِهَا عَلَى أَعْدَائِكَ.

“Kekuatan yang membantuku untuk mengalahkan musuh-musuh-Mu.” (juz 1, 234)

Ibnu Katsir dalam “Tafsir Al-Qur’anul Azhim”, ketika menafsirkan Q.S. Ar-Rahman [55]: 33, menyatakan:

(إِلَّا بِسُلْطَانٍ) أَى إِلَّا بِأَمْرِ اللَّهِ

“(Kecuali dengan kekuasaan) yaitu kecuali dengan perintah Allah.” (Juz 4, 234)

Imam Al-Baghawi dalam “Ma’alimut Tanzil” ketika menafsirkan Q.S. Al-Hasyr [59]: 6, menyatakan:

وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُسَلِّطُ رُسُلَهُ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ) فَجَعَلَ أَمْوَالُ بَنِى النَّضِيْرِ لِرَسُوْلِ اللَّهِ ﷺ خَاصَةً بَعْضَهَا حَيْثُ يَشَاءُ)

“(tetapi Allah memberikan kekuasaan kepada rasul-rasul-Nya terhadap siapa yang Dia kehendaki) maka Ia menyerahkan pembagian harta Bani Nadhir khusus kepada Rasulullah  untuk diberikan kepada siapa saja yang dia kehendaki.” (Jilid 5, 343)

 

C. Kesimpulan

  1. Makna sulthan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan hanya berarti kekuasaan tetapi juga berarti keterangan, alasan, pemimpin, dan
  2. Kekuasaan pada hakekatnya adalah milik Allah dan dikaruniakan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
  3. Jama’ah Muslimin (Hizbullah) atau Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah adalah sebagai wujud pengamalan sistem kemasyarakatan Islam menurut Al-Qur’an dan As-
  4. Sulthan adalah bagian dari yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka sulthan dari berbagai makna harus diamalkan secara “kaffah”.
  5. Untuk mewujudkan prinsip tersebut maka jalan yang ditempuh harus sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai Q.S. An-Nur [24]: 55).
  6. Dalam hal pengamalan konsep sulthan sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) memiliki pandangan sebagai berikut:
    • Bahwa konsep kekuasaan tidak perlu dan tidak boleh dimaknai dalam konteks politik semata.
    • Sepanjang kita beramal shalih, sulthan akan diberikan oleh Allah.

 

الحمد لله إياك نعبد وإياك نستعين

Bogor, 22 Muharram  1439 H / 12 Oktober     2017 M

dto :

  1. Amir Dewan Istinbath : KH. Umar Rasid Hasan
  2. Mengetahui, Amir Majelis Qodlo : Dr. As'adi Al-Ma'ruf
  3. Menyetujui, Imaamul Muslimin : Yakhsyallah Mansur

Download File PDF (2,8 MB)

 

No Response

Leave a reply "Keputusan Imaamul Muslimin Tentang Pengertian Sulthan"

*