Kembalikan Al-Aqsha Pada Fitrahnya Sebagai Tempat Suci Islam

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, rahimakumullah

Alhamdulillah, dengan karunia Allah pagi ini kita dapat berkumpul melaksanakan shalat Idul Fithri di lapangan sebagai bagian penutup dari rangkaian ibadah shaum Ramadhan. Rangkaian shaum Ramadhan itu adalah dimulai pada waktu akhir Sya’ban, ketika kita melakukan rukyatul hilal bulan Ramadhan. Baik itu kita lakukan sendiri rukyah itu di Indonesia maupun melalui ahli di Ummul Quro Mekkah Al-Mukarramah. Kemudian setelah jelas, maka mulailah kita berpuasa, melaksanakan shaum Ramadhan sebulan penuh.

Kemudian sepanjang bulan Ramadhan kita isi pada malam-malam harinya dengan Qiyamul Lail. Sedangkan pada siang harinya kita menahan lapar dan haus, makan dan minum serta larangan-larangan lainnya, semata-mata imaanan wah tisaaban mengharap ridha Allah. Hingga pada sepuluh hari yang akhir pada bulan Ramadhan, kita mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, melaksanakan i’itikaf di masjid. Hingga pada akhir Ramadhan, kita tutup dengan menunaikan zakat sebagai bagian dari Rukun Islam yang lima.

Kini pagi yang cerah ini kita berbuka, melaksanakan shalat Idul Fitri setelah mengamalkan dalil “shuumuu liru’yatihi waf thiruu liru’yatihi”, berpuasa jika telihat bulan dan berbukalah jika terlihat bulan. Kita semuanya bersyukur ke hadirat Allah, bahwa dengan pertolongan-Nya semata kita dapat menunaikan shaum Ramadhan dan amal ibadah lainnya selama Ramadhan. Semoga mengantarkan kita menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa “la’allakum tattaquun”. Aamiin.

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, rahimakumullah

Selanjutnya, khatib berwasiat untuk dirinya dan untuk seluruh hadirin, marilah kita semua senantiasa menjaga kualitas taqwa yang telah kita raih pada bulan suci Ramadhan kemarin, dilanjutkan pada bulan-bulan sesudahnya. Sesuai dengan harapan bahwa kalau kita mengetahui keutamaan yang terkandung di dalam bulan suci Ramadhan, tentu menginginkan seluruh bulan adalah bulan Ramadhan. Segala amal sholih yang meningkatkan kita ke derajat taqwa itu, marilah kita lestarikan terus di luar Ramadhan.

Hal ini mengingat bahwa mulia dan hinanya seseorang di hadapan Allah adalah tergantung dari tingkatan ketaqwaannya dalam kehidupan sehari-hari. Kemuliaan seseorang bukan karena banyaknya harta, tingginya pangkat, dan hebatnya kedudukan di dunia. Namun semata-mata karena taqwanya, keistiqamahannya menjalankan segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.

”Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". (Q.S. Al-Hujurat :13).

Hadirin yang berbahagia

Baru saja kita meninggalkan bulan Ramadhan penuh berkah yang menjadi bulan Al-Quran. Sebagaimana yang Allah firmankan :

"Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).....” (QS Al-Baqarah : 185).

Al-Quranul Karim, adalah bacaan yang paling mulia, karena ia merupakan kalam Allah Yang Maha Mulia, dibawa oleh malaikat yang mulia Jibril Alaihis Salam, diterima oleh Rasul-Nya yang mulia Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam, awal mula diturunkan pun pada bulan paling mulia yakni bulan suci Ramadhan.

Orang yang mengetahui kemuliaan Al-Quran, ia pasti akan mencintanya, membacanya, menghayati kandungan isinya, berusaha menghafal ayat demi ayat-Nya, dan yang paling pokok adalah berusaha mengamalkannya secara keseluruhan kaaffaah dalam kehidupan sehari-hari. Al-Quranul Karim merupakan supra-universitas dalam kampus kehidupan orang-orang beriman, yang menjadi induk serta sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan yang membawa rahmat kesejahteraan bagi segenap alam.

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam menyebutkan, “Sesungguhnya al-Qur’an ini merupakan hidangan Allah, maka terimalah hidangan-Nya semampu kalian. Sesungguhnya Al-Qur’an ini merupakan tali (agama) Allah yang kokoh, cahaya yang terang, dan obat yang mujarab. Sehingga, siapa pun yang berpegang teguh dengannya pasti akan terlindungi, dan siapa pun yang selalu mengikutinya pasti akan sukses. Al-Qur’an mengingatkan orang yang berbuat salah dan mengembalikan orang yang tersesat. Kehebatan al-Qur’an tidak akan pernah habis dan tidak pula usang meski banyak orang yang menolaknya. Bacalah al-Qur’an, sebab Allah akan memberi pahala kepada yang membacanya, yaitu sepuluh kebaikan untuk setiap hurufnya.” (HR Al-Hakim dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ’Anhu).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd

Saudara-saudara kaum muslimin wal muslimat yang dimuliakan Allah

Kita telah ditadrib dilatih sebulan penuh dengan kemudahan-kemudahan dalam melaksanakan amal ibadah selama bulan Ramadhan. Kini pada hari ’Idul Fitri ini insya Allah kita kembali ke dalam fitrahnya sebagai hamba-hamba Allah, yang bersih dan suci. Kembali kepada asalnya bahwa manusia adalah makhluk Allah yang berkewajiban memperibadatinya dengan ikhlas, memurnikan kethaatan, tidak berbuat syirik.

”Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah : 5).

Demikian pula, dalam perjuangan menegakkan agama Islam, kita pun kembali pada fitrah yakni dengan mengamalkan Al-Islam, membela Islam dan Muslimin, secara berjama’ah, sentral terpimpin dalam satu Jama’ah Muslimin wa Imaamahum.

"Dan berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu berfirqah-firqah…..” (QS.Ali ‘Imran :103 ).

“Tetapilah olehmu Jama’ah Muslimin dan Imaam mereka!” (HR Bukhari-Muslim).

Kaum muslimin wal muslimat yang dimuliakan Allah

Menegakkan Jama’ah Imaamah atau Khilafah ’Alaa Minhaajin Nubuwwah merupakan kewajiban yang memerlukan jihad menghadapi konspirasi Yahudi dan Nasrani di segala sektor kehidupan. Berbicara tentang jihad fi sabilillah, maka sesungguhnya jihad merupakan kalimat yang sangat mulia, puncak perjuangan seorang muslim, yang tertera di dalam firman-firman-Nya dan tertuang pada sabda-sabda Rasul utusan-Nya.

Beberapa ayat, terutama di dalam surat Al-Anfal dan Surat At-Taubah, mengingatkan kita tentang kemuliaan jihad di jalan Allah. Di antaranya :

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya, sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (Q.S. Al-Anfal : 60).

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam mengingatkan :

“Siapa yang tidak berjihad dan tidak membantu persiapan orang yang berjihad atau tidak menjaga dengan baik keluarga orang yang berjihad, maka ia akan ditimpa bencana sebelum hari kiamat”. (H.R. Abu Dawud dari Abu Umamah Radhiyallahu ‘Anhu).

“Siapa yang sampai mati tidak melaksanakan ghazwah (perang di jalan Allah) dan tidak tergerak dalam hatinya untuk melaksanakan ghazwah (perang di jalan Allah), maka matinya di dalah stu cabang kemunafikan”. (H.R. Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu).

Saudara-saudara,

Apalagi kalau kita hayati kandungan Surat Al-Isra ayat 1-8, dan ayat-ayat lainnya, serta sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam, memberikan sinyal bahwa kelak kaum muslimin akan dapat mengalahkan kaum Yahudi dalam medan jihad. Maka puncak jihad kaum muslimin pada akhir jaman saat ini adalah jihad membebasan Masjid Al-Aqsha kiblat pertama muslimin, bangunan kedua setelah Masjidil Haram, tempat isra Mi’raj, negeri para nabi utusan Allah. Masjid Al-Aqsha al-mubarok sampai sekarang masih dalam cengkeraman penjajahan Ziois Yahudi.

Mencermati kondisi Masjid Al-Aqsha dan kaum muslimin di Palestina, hingga saat ini masih dalam penjajahan Zionis Israel. Jelas wajib bagi kaum muslimin terjajah untuk membela dan mempertahankan diri dengan jiwa dan harta mereka, sampai memperoleh kebebasan hakiki, terlepas dari penzaliman. Sebab, penjajahan sangat ditentang dalam ajaran Islam. Karena itu, setiap negeri-negeri muslim yang terjajah, khususnya Palestina di mana terdapat Masjid Al-Aqsha di dalamnya, wajib melepaskan dirinya dari penjajahan.

Setengah abad yang lalu, yakni tahun 1953, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) telah mengeluarkan Maklumat I yang isinya, “Jama’ah Muslimin (Hizbullah) tegak berdiri di dalam lingkungan kaum muslimin, di tengah-tengah antar golongan, menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan munkar. Menolak tiap-tiap fitnah penjajahan, kedzaliman suatu bangsa di atas bangsa lain dan mengusahakan ta’aruf antar bangsa-bangsa”.

Kewajiban tersebut saja tidak dapat dilakukan oleh warga muslimin Palestina sendiri. Sebagai satu kesatuan muslimin, kal jasadil wahid, kal bunyaan yasyudduhum ba’duhum ba’d, innamal mu’minuuna ikhwatun, maka kaum muslimin di tempat-tempat lain di seluruh dunia pun berkewajiban membantu sesama saudaranya dalam mengusir penjajahan. Maka berdasar Al-Quran dan Al-Hadits, fardhu ‘ain hukumnya bagi kaum muslimin di manapun berada untuk mengembalikan Masjid Al-Aqsha ke pangkuan kaum muslimin.

Allahu akbar, Allahu Akbar, Walillahilhamd.

Kaum muslimin wal muslimat yag mencintai syahid di jalan Allah.

Alhamdulillah, terpanggil oleh ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits sahih, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dengan izin dan petolongan Allah telah memaklumkan secara terbuka ke dunia internasional tentang Ghazwah Fath Al-Aqsha sejak tanggal 24 Sya’ban 1427 H. atau bertepatan dengan tanggal 17 September 2006 lalu.

Kemudian setelah maklumat itu, kita pun telah melaksanakan beberapa amal sholih dalam rangka mobilisasi Ghazwah Fath Al-Aqsha mulai dari Pusat sampai Wilayah-Wilayah, meliputi : Longmarch gerak jalan malam hari, tabligh akbar, seminar, bedah buku, pameran foto, dan pemutaran film, yang diikuti oleh puluhan ribu kaum muslimin, baik dari kalangan alim ulama dan zuama, cendekiawan, pejabat pemerintah, anggota DPR, maupun masyarakat pada umumnya, di hampir seluruh daerah di Indonesia.

Selanjutnya, mengirimkan puluhan asatidz untuk secara khusus menerima pendidikan dan pelatihan tentang Jihad Al-Quds di Muassasah Al-Quds Yaman. Lalu kita juga mendapat amanah untuk membangun Rumah Sakit Islam di Jalur Gaza. Hingga puncaknya, kita telah dua kali mengirim pasukan Sariyah Al-Aqsha langsung ke jantung negeri muslimin, yaitu Masjid Al-Aqsha di tanah Al-Quds. Allahu Akbar !

Hadirin hadirat yang berbahagia

Berdasarkan laporan ikhwan-ikhwan yang berangkat pada Sariyah Al-Aqsha pertama dan Sariyah Al-Aqsha kedua, kedatangan kita, kehadiran kaum muslimin sangatlah dinantikan oleh kaum muslimin di Al-Aqsha dan sekitarnya. Mereka yang selama ini merasa tidak diperhatikan, sangat terhibur dengan silaturrahim kita ke sana. Kunjungan ke Al-Aqsha bukan berarti pengakuan terhadap penjajahan di sana. Justru penegasan bahwa Al-Aqsha adalah hak milik muslimin yang wajib dikunjungi oleh muslimin itu sendiri dari mana saja.

Kalau jarang, sedikit apalagi tidak ada yang datang ke Al-Aqsha, maka Zionis Israel akan semakin sewenang-wenang menodai kesucian Masjid Al-Aqsha. Sebagaimana dikatakan Menteri Waqaf dan Urusan Agama Palestina Syeikh DR Thalib Abu Sha’ir, ”Zionis Israel telah berulang-ulang menodai kota Al-Quds dan Masjid Al-Aqsha dan membuat pelanggaran-pelanggaran tidak manusiawi. Kami menyeru seluruh umat Islam serta organisasi-organisasi Islam di seluruh dunia untuk melakukan mobilisasi besar-besaran ke masjid Al-Aqsha guna melindunginya dari serangan kaum Zionis”, ujar Menteri Waqaf.

Demikian juga Pimpinan Otoritas Tertinggi Islam di Palestina Syeikh Ikrimah Shabri, meminta kepada umat Islam untuk lebih intensif lagi sering mengunjungi Masjid Al-Aqsha.”Kunjungan umat Islam dari seluruh dunia ke Al-Aqsha untuk shalat Jumat dan shalat lima waktu setiap saat merupakan bagian dari mempertahankan Masjid Al-Aqsha dari bahaya yang sewaktu-waktu bisa datang”, kata Syeikh Shabri.

Hadirin hadirat yang berhagia

Inilah memang jihad bil amwal wal anfus, jihad itu memerlukan pengorbanan jiwa dan harta. Langkah jihad membebaskan Masjid Al-Aqsha yang kita curahkan besar-besaran selama ini, dengan mengerahkan harta dan kekuatan (funds and forces ) bukan lantaran kita memiliki kekayaan, karena yang Maha kaya hanyalah Allah, atau karena kita sudah memiliki kekuatan, sebab sumber kekuatan hanyalah Allah. Bukan pula karena jumlah yang besar, sebab Yang Maha Besar hanyalah Allah. Tetapi kita berjihad karena memang Allah dan Rasul-Nya memerintahkan demikian.

Kalaupun kita mengaku punya harta, kita keluarkan harta itu untuk aktivitas pembebasan Al-Aqsha, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya itu semua bukanlah harta kita. Akan tetapi harta milik Allah Subhananu Wa Ta’ala. Kita hanyalah hamba-hamba-Nya yang dititipi, mendapat amanah untuk menyalurkan harta tersebut di jalan Allah.

Sahabat Abdullah bin Rawahah pernah mengingatkan kita ketika dia berseru di medan pertempuran melawan kaum kuffar. Seruan Abdullah bin Rawahah, “Saudara-saudara sekalian! Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala! Sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukanlah karena kekuatan atau banyaknya jumlah kita! Kita tidaklah memerangi mereka, melainkan karena Agama kita ini memerintahklan demikian! Yang dengan agama Islam yang kita peluk ini, kita telah dimuliakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala! Salah satu dari dua kebaikan past akan kita raih, yaitu kemenagan atau syahid di jalan Alloh Subhanahu wa Ta’ala!”

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Aklbar, walillahilhamd.

Sekarang guna menghadapi situasi jihad yang semakin besar dan kompleks, namun insya Allah akan terasa nikmat, marilah kita bersihkan segala amal ibadah dan pekerjaan kita dari perbuatan dosa dan maksiat, kita jauhi segala perbuatan mungkar dan sia-sia. Kita kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah secara kaffah, totalitas, dan lebih cinta akhirat daripada urusan dunia yang.

Terutama dalam berekonomi sebagai penopang jihad, marilah kita kembali pada kejayaan ekonomi Islam, berekonomi secara syari’ah, berdasarkan prinsip ibadah ”ta’awanu ’alal birri wat taqwa”, dan terbebas dari ribawi. Di antaranya adalah dengan menggunakan dinar dirham sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam dan para Khalifah sesudahnya.

Ma’asyiral muslimin wal muslimat, rahimakumullah

Akhirnya, pada hari fitri ini, mulai detik ini, marilah kita bertaubat dengan taubatan nasuha, kembali ke jalan yang diridhai-Nya, kembali memperbaiki amal ibadah kita yang selama ini kurang sempurna, kembali ke barisan jihad fi sabilillah secara berjama’ah.

Ingatlah bahwa kelak kita akan menghadap Allah satu per satu tanpa yang menemani kecuali amal sholih kita sendiri. Lalu kita akan mempertanggungjawabkan segala apa yang telah kita katakan dan apa-apa yang sudah kita kerjakan, kita amalkan.

Allah mengingatkan kita di dalam Surat An-Nisa ayat 56 dan As-Sajdah 12, yang artinya : ”Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

“(Alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): "Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin.”

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita.

Semoga Allah menguatkan kita untuk istiqamah di dalam jihad di jalan-Nya.

Semoga Allah menjayakan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai wujud Khilafah ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah dalam pembebasan Al-Aqsha, kembali pada fitrahnya sebagai tempat suci ke pangkuan muslimin.

Taqobbalallahu minnaa waminkum. Aamin yaa robbal ‘aalamiin

* Khutbah Idul Fitri 1430 H oleh Imaamul Muslimin H.Muhyiddin Hamidy

No Response

Leave a reply "Kembalikan Al-Aqsha Pada Fitrahnya Sebagai Tempat Suci Islam"

*