Khutbah Idul Adha 1438 H: Nabi Ibrahim, Ibadah Haji dan Kesatuan Umat

Khutbah Idul Adha 1438 H: Nabi Ibrahim, Ibadah Haji dan Kesatuan Umat
Oleh: Majlis Da’wah Pusat Jama’ah Muslimin (Hizbullah)

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ جَعَلَ الْيَوْمَ عِيْدًا لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحَّدَنَا بِعِيْدِهِ كَأُمَّةٍ وَاحِدَةٍ، مِنْ غَيْرِ الْأُمَمِ، وَنَشْكُرُهُ عَلَى كَمَالِ إِحْسَانِهِ وَهُوَ ذُوْ الْـجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ وَحْدَكَ لَا شَرِيْكَ لَكَ، اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْـخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُوْلُكَ.

أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمُ عَلَى حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، الَّذِّي بَلَّغَ الرِّسَالَةْ، وَأَدَّى الْأَمَانَةْ، وَنَصَحَ الْأُمَّةْ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ دَعَا إِلَى اللهِ بِدَعْوَتِهِ، وَجَاهَدَ فِي اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَمَّا بَعْدُ: عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ!

اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ… اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَمْدُ.

اَللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْـحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا،

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ،

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ،

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْـحَمْدُ.

Jama’ah shalat Idul Adha rahimakumullah,

Alhamdulillâhi Rabbi al-âlamîn, segala puji marilah kita panjatkan ke hadhirat Allah . Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah Muhammad beserta keluarga, para shahabatnya, dan seluruh umatnya yang senantiasa menaati risalahnya, serta berjuang tak kenal lelah untuk menerapkan dan menyebarluaskannya ke seluruh pelosok dunia hingga akhir zaman.

Hari ini umat Islam di seluruh penjuru dunia bersama-sama menggemakan pujian atas kebesaran Allah . Lebih dari 1,57 milyar kaum Muslimin di seluruh dunia mengagungkan asma Allah melalui takbir, tahlil, dan tahmid. Sementara itu, pada 9 Dzulhijjah kemarin, lebih dari 3 juta saudara kita kaum Muslimin dari seluruh penjuru dunia telah berkumpul untuk wukuf di Padang Arafah, menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima.

Pelaksanaan ibadah haji tidak lepas dari sejarah perjuangan berat Nabi Ibrahim dan keluarganya. Beliau adalah salah satu Rasul Ulul Azmi, yang diberi gelar Khalilullah (Kekasih Allah ) yang merupakan Bapak para nabi. Dari beliaulah lahir keturunan dari kalangan para nabi yang banyak jumlahnya.

Perjuangan Nabi Ibrahim yang panjang di medan dakwah, mulai dari Babilonia (Irak) maupun ketika beliau hijrah ke Syam dan pulang pergi antara Syam dan Makkah untuk menjaga Masjidil Haram dari perilaku kemusyrikan dan sekaligus pembawa misi tauhid di Tanah Haram tersebut mengisyarakatkan kepribadian yang luar biasa, gigih, berani, penuh keta’atan dan kepasrahan akan perintah Allah .

Sesuai Firman Allah :

وَإِذْ بَوَّأْنَا لِإِبْرَاهِيمَ مَكَانَ الْبَيْتِ أَنْ لَّا تُشْرِكْ بِي شَيْئًا وَطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّآئِفِينَ وَالْقَآئِمِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (الحج [٢٢]: ٢٦)

“Dan (ingatlah), ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan): “Janganlah kamu mempersekutukan sesuatupun dengan Aku dan sucikanlah rumahKu ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadat dan orang-orang yang ruku` dan sujud.” (Q.S. Al-Hajj [22]: 26)

Termasuk da’wah beliau kepada Bapaknya dan umatnya serta Raja Namrud menggambarkan betapa misi yang di bawa para nabi sampai nabi terakhir yaitu Nabi Muhammad tidak lain adalah menda’wahkan untuk mentauhidkan Allah , dan tidak menyarikatkan-Nya dengan sesuatu apapun.

Allahu Akbar – Allahu Akbar – Allahu Akbar walillahil hamd !!!

Dalam Al-Qur’an dapat diketahui tentang kemuliaan pribadi beliau, di antaranya:

Ketinggian Tauhid Nabi Ibrahim dan Perintah Meneladaninya
Nabi Ibrahim adalah manusia yang menemukan Tuhan dalam arti sebenarnya, yaitu Tuhan yang satu, yang bersifat universal bukan sekedar tuhan suku atau golongan manusia tertentu tetapi Tuhan seru sekalian alam, Tuhan sebelum dan sesudah manusia tercipta di alam raya ini. Inilah yang kemudian dikenal dengan prinsip keyakinan tauhid yaitu keyakinan akan Keesaan Allah . Karena Tuhan mereka satu maka sebetulnya mereka adalah umat yang satu yang tidak dapat dipecah-pecah oleh situasi dan kondisi apapun sampai akhir jaman.

Sosok pribadi Nabi Ibrahim dengan ketauhidan yang mendalam digambarkan pada ungkapan beliau, dalam Al-Qur’an:

إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَآ أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (الأنعام [٦]: ٧٩)

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (Q.S. Al-An’am [6]: 79)

Pribadi yang karakter tauhidnya sangat kuat tidak hanya dirinya yang bertauhid namun juga keinginannya yang begitu besar terhadap orang lain agar mereka memiliki tauhid yang benar. Sehingga beliau selalu bersedih saat melihat masyarakat Babilonia dalam kemusyrikan.

Inilah satu teladan yang patut kita renungkan, sampai sejauh mana keyakinan kita kepada Allah dalam kehidupan sehari-hari. Benarkah kita meyakini janji-janji Allah bahwa setiap amal sholih kita akan dibalas dengan pahala dan kebaikan di akhirat. Dalam kenyataannya umat Islam 1,5 milyar ini hanya sebagian kecil yang memiliki aqidah yang kokoh, yang membuat mereka tidak ragu beribadah, tidak ragu beramal sholih dan tidak ragu berjuang menegakkan syariah Islam dalam kehidupan nyata.

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن شَيْءٍ ۖ رَّبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (الممتحنة [٦٠]: ٤)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya Kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, Kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara Kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. kecuali Perkataan Ibrahim kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah”. (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan Kami hanya kepada Engkaulah Kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah Kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah Kami kembali.” (Q.S. Al-Mumtahanah [60]: 4)

Berqurban Identitas Seorang Muslim
Kurban yang disyariatkan kepada umat Nabi Muhammad dimaksudkan untuk mengingatkan kembali ni’mat Allah kepada Nabi Ibrahim , karena taat dan patuhnya kepada perintah Allah walau diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri, dan untuk mendekatkan diri kepada Allah (bertaqarrub). Oleh karena itu hewan yang disembelih (udhiyah) dinamakan hewan Kurban (untuk mendekatkan diri kepada Allah ).

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. (الكوثر [١٠٨]: ١-٣)

“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. (1) Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). (2) Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (3)” (Q.S. Al-Kautsar [108]: 1-3)

Dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ سَعَةٌ وَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا (رواه أحمد وابن ماجه وصححه الحاكم)

“Barang siapa yang memiliki kelapangan tapi tidak menyembelih qurban, janganlah mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim menshahihkannya).

Ayat dan hadis di atas menunjukan perintah Allah atas syariat berkurban, bahkan ada penekanan berkurban bagi yang mampu. Di samping itu, Rasulullah memberikan ancaman terhadap orang yang enggan berkurban padahal ia mampu.

Berkurban pada hakekatnya adalah ketundukan seorang hamba secara total terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, tidak terbatas pada penyembelihan kurban saat Idul Adha. Sebagaimana firman Allah ,

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ (الحج [٢٢]: ٣٧)

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik”. (Q.S. Al-Hajj [22]: 37)

Kurban adalah fenomena ibadah yang menolak segala bentuk kerakusan kepada dunia yang akan melanggar hak orang lain terutama orang-orang yang lemah yang akan mengakibatkan permusuhan di antara manusia. Oleh karena itu, kurban sebenarnya adalah wahana pendidikan rohani yang meniscayakan pentingnya persaudaraan (ukhuwwah) di antara manusia.

Perintah kurban kepada orang kaya dan membagikan dagingnya untuk orang miskin merupakan pelajaran penting bahwa Islam menganjurkan kepada umatnya agar memperhatikan kepentingan orang lain, terutama orang-orang yang kekurangan. Melalui syariat kurban, Allah berpesan bahwa manusia akan dapat bertaqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah dengan mendekati saudara-saudara kita yang serba kekurangan.

Orang-orang yang memiliki sikap seperti ini akan menjadi makhluk yang sangat dicintai oleh Allah . Sebaliknya, orang-orang yang selalu menjauhkan sesama muslim bahkan membuat perpecahan di antara mereka akan menjadi orang yang paling dibenci oleh Allah . Sebagaimana sabda Rasulullah :

إِنَّ أَحَبَّكُمْ اِلَى اللهِ اَلَّذِينَ يَأْلِفُونَ وَيُؤْلَفُونَ وَإِنَّ أَغْضَبَكُمْ اِلىَ اللهِ اَلْمَشَاءُونَ بِالنَمِيمَةِ اَلْمُفَرِّقُوْنَ بَيْنَ الْإِخْوَان (رواه الطبرانى)

“Sesungguhnya yang paling dicintai oleh Allah diantara kamu adalah orang yang mampu menyesuaikan diri dan diterima penyesuaian dirinya. Sedangkan yang paling dimurkai oleh Allah diantara kamu adalah orang yang berjalan untuk mengadu domba dan memecah-belah diantara saudara.” (H.R. Al-Thabrani)

Apabila kita mampu mengimplementasikan makna ibadah kurban secara lebih mendalam dalam kehidupan sehari-hari maka kita menyadari bahwa kurban bukan sekedar membagi-bagikan daging kepada orang-orang miskin tetapi kurban sebenarnya merupakan salah satu sarana sangat penting untuk mewujudkan kesatuan dan kebersamaan di antara umat Islam.

Napak Tilas Perjuangan Nabi Ibrahim Dengan Ibadah Haji

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ (الحج [٢٢]: ٢٧)

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”. (Q.S. Al-Hajj [22]: 27)

Ibadah haji merupakan ibadah yang sangat penting dalam Islam, ia menjadi rukun kelima dari rukun Islam, ibadah yang dapat menyempurnakan kewajiban sebagai seorang muslim bagi setiap muslim yang mampu menjalaninya.

Sejak dikumandangkannya ibadah haji untuk yang pertama kali oleh Nabi Ibrahim , 3600 tahun yang lalu, maka Masjidil Haram menjadi titik tujuan perjalanan ibadah yang sangat digandrungi muslimin kapan dan di manapun juga, bahkan sampai hari ini dan ini tidak lain pengaruh dari do’a yang dimunajatkan Nabi Ibrahim dan dikabukan oleh Allah .

Prosesi ibadah haji mengajarkan isyarat yang jelas tentang hakikat perjalanan hidup manusia, mulai dari pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang lemah, perjalanan mereka hakekatnya adalah sedang menuju Allah dan pada akhirnya sampai pada satu titik tempat kembali mereka hanya kepada Allah .

Seluruh syariat yang dipraktekkan dalam pelaksanaan ibadah haji, baik dalam bentuk ritual atau non ritualnya, dalam bentuk kewajiban atau larangannya dan dalam bentuk nyata atau simboliknya, semua akhirnya bermuara kepada ajaran tentang pentingnya kesatuan dan kebersamaan.

Di bawah ini dikemukakan sepintas beberapa praktek amaliah haji dan hubungannya dengan ajaran tersebut:

Ihram
Ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakaian biasa dan mengenakan pakaian ihram yang sama, berupa dua helai pakaian berwarna putih sebagaimana yang akan membalut tubuh ketika mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini saat meninggal dunia.

Tidak dapat disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya berfungsi antara lain untuk membedakan antara seseorang atau kelompok dengan lainnya. Perbedaan itu dapat membawa perbedaan status sosial, ekonomi, atau profesi. Pakaian juga dapat memberi pengaruh psikologis kepada pemakainya. Untuk itulah, jamaah haji diperintahkan menanggalkan pakaian keseharian mereka dan menggantinya dengan pakaian yang sama agar pengaruh psikologis yang negatif dari pakaian dapat ditanggalkan sehingga semua merasakan dalam satu kesatuan dan persamaan.

Thawaf
Ka’bah yang mereka kunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga bagi terwujudnya kesatuan dan kebersamaan. Dari berbagai penjuru, para hujjaj datang mengunjungi satu titik yang sama dan melakukan bentuk peribadatan berupa thawaf dengan aktifitas yang sama. Hal ini mengingatkan agar setiap muslim memiliki tujuan hidup yang sama dan dalam setiap melakukan aktifitas selalu mengedepankan persamaan dan menghindarkan perbedaan. Selalu menjaga aktifitas hidup sesuai syariah yang Allah tetapkan.

Sa’i
Setelah melakukan thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia yang lain, serta memberi nuansa kebersamaan, para hujjaj menuju satu tujuan yang sama yakni mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah , dilakukanlah sa’i.

Wukuf
Di Arafah, padang yang luas lagi gersang itu, seluruh jamaah haji wuquf (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Di sinilah seharusnya setiap pribadi menemukan ma’rifah (pengetahuan) tentang jati dirinya bahwa mereka masing-masing adalah bagian dari satu umat yang tidak dapat dipisahkan dalam segala situasi dan kondisi bahkan dalam saat yang paling menderita sekalipun seperti kondisi di padang Mahsyar.

Arafah adalah miniatur padang Mahsyar, terminal akhir perjalanan manusia sebelum ditentukan nasibnya, apakah dia akan ke surga atau ke neraka. Di sinilah manusia akan diadili oleh Allah dengan seadil-adilnya. Oleh karena itu, apabila terjadi perselisihan, janganlah merasa diri paling benar selama yang diperselisihkan bukan hal-hal yang qath’i yang sudah dipastikan kebenarannya oleh Allah dan Rasul-Nya.

Di Arafah inilah Rasulullah menyampaikan khutbah pada Haji Wada’ yang intinya menekankan:

  • Persamaan di antara manusia
  • Keharusan memelihara jiwa, harta dan kehormatan orang lain
  • Larangan melakukan penindasan atau pemerasan terhadap kaum lemah baik di bidang ekonomi, maupun bidang-bidang lain.

Melontar Jumrah
Dari Arafah, para jamaah haji menuju Mudzalifah untuk mengumpulkan batu di malam hari dalam rangka melempar jumrah di Mina. Melempar batu pada titik yang sama secara bersama-sama pada waktu yang sama dan dengan cara yang sama merupakan pengajaran bahwa umat Islam dalam menghadapi musuh, mereka harus bekerja sama. Apabila mereka menghadapi musuh sendiri-sendiri bahkan saling berselisih, jangan diharap mereka dapat menang.

Mewujudkan Kesatuan umat
Pada puncak ibadah haji ada makna kesatuan umat, berkumpulnya muslimin dari berbagai penjuru dunia dengan tujuan ibadah menjadi bukti akan dapatnya muslimin itu bersatu di bawah satu kepemimpinan jika didasari dengan niat ibadah, segala perbedaan, atribut keduniaan, dan latar belakang sosial dengan kelas yang berbeda-beda tidak menjadi masalah dalam pandangan manusia yang mengedepankan aqidah, karena di mata Allah manusia berkedudukan sama, kemuliaan mereka diukur dengan ketaqwaannya kepada Allah .

Dari fenomena ibadah haji itu marilah kita perhatikan perintah Allah kepada muslimin agar berada dalam satu jama’ah, bersatu tidak berpecah belah, bersaudara dan saling berkasih sayang. Adapun ibadah kurban hendaknya kita mengambil pelajaran untuk saling mencintai sesama, saling memperhatikan dan peduli terhadap kondisi muslimin lainnya, seraya mengikis habis kedengkian dan egoisme dan hawa nafsu pribadi.

Allah berfirman,

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَاْ رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ (المؤمنون [٢٣]: ٥٢)

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Q.S. Al-Mu’minun [23]: 52)

Dalam ayat yang lain, Allah dengan tegas memerintahkan agar umat Islam memelihara kesatuan dan melarang berpecah-belah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (ال عمران [٣]: ١۰۳)

“Dan berpeganglah kalian kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali ‘Imran: 103)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibn Katsir menukilkan hadits riwayat Muslim:

اَنَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَسْخَطُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ (رواه مسلم)

“Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Sungguh Allah ridla kepada kalian tiga perkara dan benci kepada kalian tiga perkara. Ridla kepada kalian apabila kalian memperibadatinya dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu, berpegang teguh kepada tali Allah seraya berjama’ah dan tidak berpecah-belah, kalian menasehati orang yang diserahi oleh Allah untuk mengurus urusan kalian. Dia benci kepada kalian tiga perkara: berbicara tanpa dasar, menghambur-hamburkan harta, dan banyak bertanya.” (H.R. Muslim)

Selanjutnya Ibn Katsir menyatakan bahwa ayat ini memerintahkan umat Islam berjama’ah (bersatu dan bersama-sama) dan melarang mereka berfirqah-firqah (berpecah-belah)

Sejatinya umat Islam adalah umat yang satu, mengingat Rabb mereka satu; Rasul yang diutus kepada mereka satu; Kiblat mereka satu; Pedoman hidup mereka satu; Syiar-syiar agama mereka satu; Syariat mereka satu; dan Imam mereka satu.

Jika muslimin tidak mau bersatu, niscaya akan terjadi kekacauan dan huru-hara yang menimpa, sebagaimana firman Allah :

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَآءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (الانفال [٨]: ۷۳)

“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.“ (Q.S. Al-Anfaal: [8] 73)

Menurut para ahli tafsir, yang dimaksud dengan “apa yang diperintahkan Allah itu” adalah keharusan adanya kesatuan dan kebersamaan di antara kaum muslimin.

Dalam rangka mewujudkan kembali kesatuan umat yang porak-poranda setelah dihancurkannya kekhilafahan Turki Utsmani oleh Mustafa Kemal at-Taturk, seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam pada tahun 1924, maka ditetapi kembali Jama’ah Muslimin dalam bentuk Jama’ah Muslimin (Hizbullah) pada 10 Dzulhijjah 1372 H/ 20 Agustus 1953 M di bawah pimpinan Imam Syeikh Wali Al-Fattaah.

Setelah beliau wafat, dibaiatlah pengganti-penggantinya untuk meneruskan keimamahan hingga saat ini.

Ma’asiral muslimin rahimakumullah,

Akhirnya, marilah kita memohon kepada Allah , semoga Allah mengabulkan seluruh permohonan kita. Semoga Allah memberi kita kesabaran dan keikhlasan, serta menguatkan kita untuk berperan penting dalam upaya melakukan perubahan besar dunia menuju tegaknya syariah Islam yang kaaffah dalam kepemimpinan Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah.

أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. اللّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّا مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَآ أَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَآ اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا. رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَالَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْلَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَاِفِرِيْنَ.

اللَّهُمَّ اَعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ الْأَحْزَابِ إِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَـهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُـمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَـهُمْ وَإِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا دُعَائَنَا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَتُبْ عَلَيْنَا اِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَسُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْـحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

.وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.

No Response

Leave a reply "Khutbah Idul Adha 1438 H: Nabi Ibrahim, Ibadah Haji dan Kesatuan Umat"

*