Situasi Dalam Negeri Indonesia Menjelang Pilkada 2017

Berkenaan dengan perkembangan situasi dalam negeri Indonesia menjelang PILKADA 2017 terutama di kawasan DKI Jakarta yang diwarnai naiknya suhu politik, bersama ini JAMA'AH MUSLIMIN (HIZBULLAH) menyampaikan taushiyyah sebagai berikut:

  1. Bahwa umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia sedikit atau banyak akan menentukan warna sejarah dan masa depan Indonesia adalah suatu realita yang tidak dapat dibantah oleh siapapun. Sejak dahulu umat Islam berdiri paling depan mengawal kepentingan nasional dan menjadi kekuatan utama bagi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Umat Islam Indonesia dalam tubuhnya sendiri yang beranekaragam secara etnis, budaya dan bahasa terbentang dari Aceh sampai Papua adalah wujud kemajemukan Indonesia dan inti dari ruh Bhinneka Tunggal Ika. Di balik itu semua Islamlah yang menjadi faktor pemersatu umat Islam bahkan pengikat persatuan negeri yang permai ini.
  2. Umat Islam Indonesia selama ini karena dorongan aqidah agamanya berusaha menjadi pihak mayoritas yang santun dan mengayomi mereka yang minoritas baik dalam hal etnis, religi atau sosio-kultural. Namun dalam kenyataannya sikap santun tersebut sering disalahgunakan oleh pihak-pihak tertentu yang tidak senang melihat Indonesia bersatu dalam kemajemukan yang damai dan dinamis. Umat Islam sering dimanipulasi suaranya bahkan dipinggirkan keberadaannya di kancah kehidupan kebangsaan yang beradab. Demi menerima perlakuan yang tidak patut dari sementara pihak itu umat Islam Indonesia berkali-kali memberi maaf dan kembali menggandeng tangan semua menuju Indonesia yang lebih baik, adil dan beradab.
  3. Umat Islam Indonesia merasa terusik aqidah agamanya saat seorang Kepala Daerah yang seharusnya mampu membawakan diri sebagai pemimpin yang patut diteladani namun justru ucapan-nya telah mengusik kehormatan agamanya atau bernada menistai kemuliaan kitab suci Al-Qur’an dimaklumi bila umat Islam mulai gusar dan marah. Karena bagi setiap muslimin wajib membela agamanya dari setiap bentuk pelecehan rongrongan maupun penodaan terhadap Islam. Lebih-lebih jika itu dilakukan terhadap kitab suci Al-Qur’an.
  4. Islam yang bersifat rahmatan lil alamin melarang umatnya mengganggu keyakinan agama lain. Tetapi kaum muslimin juga tidak dibenarkan membiarkan orang melecehkan terhadap Islam di negeri yang mayoritas penduduknya muslim.
  5. Dalam pembelaan umat Islam hendaknya tetap mengedepankan pertimbangan aqidah dan akhlaqul karimah. Sebagaimana firman Allah :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (المائدة [٥]: ٨)
    Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 8)
  6. Dengan kasus penodaan agama di Jakarta seperti yang diberitakan media massa dan terhadap setiap menyelesaikan masalah hendaknya muslimin mengedepankan prinsip berjama’ah kompak dan bersatu, tidak berpecah belah, dengan tidak terpancing oleh provokasi agar umat Islam bertindak anarchis apalagi mau diadudomba dan dijadikan objek sebagai komodity politik. Firman Allah :
    وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُن فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ (الأنفال [٨]: ٧٣)
    " Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar." (Q.S. Al-Anfal [8]: 73)
  7. Kami menghimbau kepada semua pihak untuk memahami sikap umat Islam tersebut dan terutama kepada pihak yang memegang otoritas keamanan Negara agar segera mengambil tindakan terhadap siapapun yang menodai agama demi mencegah berkembangnya situasi yang merugikan Negara dan masyarakat.
  8. Media massa dihimbau untuk bekerja secara profesional dan bertanggungjawab sehinggga tidak tergelincir pada pemberitaan yang tidak berimbang, tidak adil apalagi manipulatif yang dapat merugikan seseorang atau kelompok tertentu. Juga media masa diingatkan tetap menjaga integritasnya dan tidak menjadi corong pemecah belah bangsa. Pemberitaan yang tidak berimbang selama ini sering mengakibatkan kerugian pada pihak ummat Islam yang pada gilirannya akan merugikan semua pihak.

Jakarta, 24 Muharram 1438 H/25 Oktober 2016 M
JAMA’AH MUSLIMIN (HIZBULLAH)
IMAAM

YAKHSYALLAH MANSUR

No Response

Leave a reply "Situasi Dalam Negeri Indonesia Menjelang Pilkada 2017"

*