Tiga Pilar Utama Masyarakat Islam

No comment 391 views

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا/ النِّسَآء [٤]، ٥٩.

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S.An Nisa [4], 59)

Asbabun Nuzul

Al Bukhari, Muslim dan Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat ini turun ketika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam mengirim pasukan (sariyah) di bawah pimpinan Abdullah bin Khudzafah bin Qais. Setelah berangkat, di tengah perjalanan, pimpinan pasukan itu marah karena ada sesuatu kesalahan yang diperbuat oleh anak buahnya. Diapun berkata kepada mereka, “Bukankah Rasulullah telah memerintahkan kalian untuk taat kepadaku?” Semua menjawab, “Benar, kami harus taat kepada engkau.” Maka dia berkata lagi, “Sekarang aku perintahkan kalian untuk mengumpulkan kayu bakar, lalu menyalakannya dan kalian harus masuk ke dalam nyala api itu.” Maka seorang pemuda dari pasukan tersebut berkata, “Kami taat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam adalah karena lari dari api. Janganlah kalian melakukannya sehingga kalian bertemu Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Apabila beliau memerintahkan kita masuk, maka kami akan memasukinya.” Setelah mereka kembali ke Madinah, hal ini mereka sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Maka beliau bersabda, “Kalau kalian masuk ke dalam api itu, kalian tidak akan keluar selama-lamanya. Sesungguhnya taat hanyalah kepada yang makruf.”

Penjelasan

Ayat ini menjelaskan landasan utama kehidupan masyarakat Islam, yaitu taat kepada Allah, taat kepada Rasulullah dan kepada Ulil Amri.

Taat secara bahasa berarti patuh dan tunduk tanpa ada paksaan.

Masyarakat Islam akan dapat terwujud dengan kokoh apabila setiap individu yang ada di dalamnya setelah mereka beriman, mereka kemudian patuh dan tunduk dengan tanpa adanya keterpaksaan kepada Allah, Rasulullah dan Ulil Amri.

1. Taat Kepada Allah

Setiap individu yang berada di dalam masyarakat Islam wajib taat kepada Allah. Inilah kewajiban pertama yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim. Ketaatan kepada Allah dijadikan sebagai kewajiban yang pertama sebab apabila seseorang berbuat baik dan meninggalkan berbuat kejahatan semata-mata karena Allah bukan karena yang lain maka manusia dengan sendirinya akan menjadi baik. Dia bekerja karena diperintah Allah dan berhenti karena dilarang Allah. Dengan demikian seluruh pekerjaan yang dia lakukan dan yang ia tinggalkan semata-mata karena Allah bukan karena segan kepada manusia dan bukan karena mengharap keuntungan duniawi. Dia juga merasa bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah.

Oleh karena itu, taat kepada Allah menjadi puncak dari seluruh ketaatan. Aturan manusia tidak menjamin keamanan masyarakat apabila tidak disertai dengan kepercayaan kepada Allah yang membalas semua perbuatan manusia.

Dia akan memberi pahala kepada orang mentaatinya dan menghukum orang yang tidak mentaati-Nya.

2. Taat Kepada Rasul-Nya

Setelah orang beriman diperintahkan taat kepada Allah mereka diperintahkan taat kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Banyak perintah Allah yang wajib ditaati, tetapi tidak dapat dilaksanakan apabila tidak melihat contoh dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam karena contoh teladan dalam melaksanakan perintah itu hanya ada pada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, seorang baru dianggap sempurna dalam beragama. Sebab banyak orang yang percaya kepada Tuhan tetapi dia tidak beragama. Perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya berarti perintah berpegang teguh kepada Al Quran dan As Sunnah yang merupakan dua sumber pokok ajaran Islam.

Dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka orang akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di bawah ini:

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ/ النُّوْر [٢٤]، ٥٢.

Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (Q.S. An Nur [24], 52)

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا/ الْأَحْزَاب [٣٣]، ٧١.

Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. (Q.S. Al Ahzab [33], 71)

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ/ النِّسَآء [٤]، ١٣.

Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (Q.S. An Nisa [4], 13)

Sebaliknya orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka akan mendapatkan kesengsaraan yang besar, sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat di bawah ini:

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ/ النِّسَآء [٤]، ١٤.

Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (Q.S. An Nisa [4], 14)

وَمَن يُشَاقِقِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ/ الْأَنْفَال [٨]، ١٣.

Dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. (Q.S. Al Anfal [8], 13)

إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ/ الْمُجَادِلَة [٥٨]، ٢٠.

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka termasuk orang-orang yang sangat hina. (Q.S. Al Mujadilah [58], 20)

Oleh karena itu, apabila ada umat Islam yang berpendapat bahwa dalam urusan agama cukup mengikuti Al Quran saja tidak perlu mengikuti As Sunnah, mereka adalah sesat karena sebenarnya mereka mengikuti Al Quran karena Al Quran dengan tegas memerintahkan umat Islam mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Abdullah bin Umar Radhiyallahu Anhu berkata:

مَنْ خَالَفَ السُّنَّةَ فَقَدْ كَفَرَ

Barangsiapa menyalahi sunnah, maka dia kafir.

3. Taat Kepada Ulil Amri

Kata أُولى adalah bentuk jama’ yang mempunyai beberapa arti antara lain mengurus, memelihara, mendekati. Secara bahasa Ulil Amri berarti orang-orang yang mengurus suatu urusan. Sedang secara istilah, menurut Ibnu Katsir adalah para pimpinan dan para ulama yang mengurus urusan orang beriman.

Setelah kata ulil amri, Allah mengiringi dengan kata مِنكُمْ, yang memiliki dua arti. Pertama, “dari pada kamu”, kedua “di antara kamu” tetapi maksudnya satu bahwa orang-orang yang mengurus urusan adalah orang yang beriman dan dipilih oleh orang yang beriman.

Imam Ath Thayibiy berkata, “Ketika menyebut taat kepada Rasul, taat itu diulang lagi. Pengulangan kalimat taat ini adalah satu isyarat bahwa taat kepada Rasul adalah wajib di samping taat kepada Allah. Tetapi meyebut Ulil Amri, kalimat taat tidak diulang lagi. Ini menunjukkan bahwa ada di antara Ulil Amri itu yang tidak boleh ditaati.

Ulil Amri yang tidak boleh ditaati adalah Ulil Amri yang memerintahkan kepada kemaksiatan. (H.R. Bukhari Muslim)

Apabila yang diperintahkan oleh Ulil Amri bukan kemaksiatan maka perintahnya harus ditaati seperti mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

مَنْ أَطَاعَنِى فَقَدْ أَطَاعَ الله وَمَنْ يَعْصِيْنِى فَقَدْ عَصَى الله وَمَنْ يُطِع الْأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِى وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِى/ مُسْلِم

Barangsiapa mentaati aku maka dia mentaati Allah, dan barangsiapa maksiat kepadaku maka dia maksiat kepada Allah. Dan barangsiapa mentaati amirku maka dia telah mentaati aku. Dan barangsiapa yang maksiat kepada amirku maka dia memaksiati aku. (HR. Muslim)

Al Khattabi mengatakan, “Sebab Nabi Shallallahu Alaihi Wassallam menekankan pentingnya mentaati Amir dan menyamakan ketaatan kepada Amir sama dengan ketaatan kepada beliau adalah karena orang Quraisy khususnya dan orang Arab pada umumnya tidak mengenal ketaatan kecuali kepada pimpinan tertinggi. Ketika Islam datang pandangan semacam itu diluruskan bahwa mentaati Amir yang diangkat oleh pimpinan tertinggi sama nilainya mentaati pimpinan tersebut.

Allah memerintahkan orang beriman untuk mentaati Ulil Amri berarti perintah untuk mewujudkannya karena tidak mungkin Allah memerintahkan mentaati sesuatu yang tidak wujud. Maka para ulama menjadikan ayat ini sebagai dalil wajibnya menegakkan Imamah atau Khilafah (kepemimpinan) di kalangan umat Islam.

Wallahu A’lam bis Shawwab

Imaamul Muslimin K.H. Yakhsyallah Mansur, M.A.

No Response

Leave a reply "Tiga Pilar Utama Masyarakat Islam"

*