Imbauan Menghadapi Potensi Megathrust Dengan Iman Dan Taqwa

IMBAUAN MENGHADAPI POTENSI MEGATHRUST DENGAN IMAN DAN TAQWA

Indonesia adalah salah satu dari negara di dunia yang paling rawan bencana. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagaimana dilaporkan dalam Harian Republika 3 Agustus 2019, memperkirakan adanya potensi megathrust atau gempa bumi dahsyat yang terjadi akibat tumbukan lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia. Gempa dahsyat tersebut juga dibarengi potensi tsunami sepanjang garis pantai yang dilaluinya. Begitu panjang daerah yang terpapar kemungkinan megathrust tersebut yaitu sepanjang pantai barat Sumatra dan Laut Jawa sampai ke Bali. Bahkan di sisi utara Papua ada potensi tumbukan lempeng Pasifik.

Perkiraan yang dikatakan didasarkan pada hasil riset ilmiah tersebut menggambarkan betapa dahsyatnya potensi kehancuran yang akan diderita bila megathrust benar-benar terjadi. Perkiraan BMKG tersebut wajar bila menimbulkan ketakutan di tengah masyarakat apalagi dikatakan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi kapan gempa akan terjadi. Pemerintah meminta masyarakat waspada dan mempersiapkan diri terhadap semua kemungkinan terjadinya bencana.

Terkait hal tersebut, terdorong rasa tanggungjawab di hadapan Allah untuk saling menasehati apalagi sebagian besar masyarakat Indonesia di titik-titik rawan bencana tersebut adalah umat Islam maka dengan menggunakan pendekatan keagamaan dan perspektif aqidah kami menyampaikan hal-hal sebagai berikut:

1. Hendaknya semua pihak menyadari berdasarkan bukti-bukti ilmiah di berbagai titik bencana di Indonesia terutama yang terakhir di Sulawesi Tengah dan Lombok disimpulkan bahwa bencana alam bukan sekadar fenomena alam biasa namun kemunculannya merupakan kehendak Allah yang sebenarnya menginginkan kebaikan di alam raya ini bukan sebaliknya kehancuran.

Tangan manusialah yang sesungguhnya menjadi penyebab kerusakan alam sebagaimana diungkapkan di dalam Al-Quran pada Surah Ar-Rum [30]: 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Lebih jauh ditegaskan di dalam Al-Quran bahwa suatu musibah ada kaitannya dengan perbuatan manusia yaitu, “…Dan tidaklah suatu musibah itu terjadi, melainkan akibat perbuatan manusia itu sendiri…” (Q.S. An-Nisa [4]: 79). Dalam ayat lain juga ditemukan informasi yang senada yaitu, “Maka apa saja musibah dan bencana yang menimpa kamu itu semua merupakan perbuatan kamu sendiri, dan Allah telah memaafkan sebagian besar dari kesalahan kamu.” (Q.S. Asy-Syura [42]: 30).

Ada kalanya bencana ditimpakan kepada suatu kaum karena mereka berbuat dosa dan melampaui batas. Informasi ini diungkapkan Al-Qur’an sebagai berikut, “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Q.S. Al-Ankabut [29]: 40)

Tidak saja bencana alam, azab Allah pun berupa bencana sosial di mana di tengah-tengah suatu kaum terjadi kekacauan dan pertumpahan darah karena manusia melampaui batas. Penjelasan ini disebutkan di dalam Al-Qur’an surah Al-An’am [6]: 65 yaitu, “Katakanlah (wahai Muhammad): “Dia (Allah) Maha Berkuasa untuk mengirimkan adzab kepada kalian, dari atas kalian atau dari bawah kaki kalian, atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan), dan merasakan kepada sebagian kalian keganasan sebahagian yang lain…”

Apabila ada kaum yang beriman tertimpa bencana juga maka hal itu sebagai ujian atau cobaan untuk membuktikan kebenaran iman mereka. Dapat juga bencana merupakan peringatan dari Allah agar manusia kembali memperbaiki diri. Terkait hal ini Al-Qur’an menjelaskan sebagai berikut, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 155-157)

2. Berdasarkan pengertian bencana (alam dan sosial) dalam perspektif Islam tersebut maka kami menyampaikan imbauan sebagai berikut:

a. Kepada kaum muslimin hendaknya selalu yakin bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Selama kaum muslimin menjaga diri tidak berbuat dosa besar dan menghindari maksiat yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah maka Allah akan selalu memberikan perlindungan dan kasih sayang-Nya. Allah tidak pernah berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. “…Sesungguhnya Allah pasti menolong mereka yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”. (Q.S. Al-Hajj [22]: 40-41)

b. Kaum muslimin hendaknya meyakini bahwa bumi bahkan alam raya ini adalah milik Allah semata. Semua tunduk patuh kepada perintah Allah. Dan Allah telah memerintahkan mereka untuk tidak berlaku zalim kepada hamba-hamba yang beriman dan bertakwa. Selama manusia memperlakukannya dengan baik dan tidak berbuat kerusakan terhadapnya maka bumi akan bersahabat dan tidak akan mengancam keselamatan manusia. Hal ini jelas tersebut di dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf [7]: 128, “Musa berkata kepada kaumnya: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa”.

c. Persiapan yang perlu diambil dalam menghadapi potensi Megathrust adalah secara moral-spiritual dan operasional. Secara moral-spiritual hendaknya kaum muslimin dan masyarakat Indonesia meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah serta menjauhi maksiat. Hendaknya dikembangkan kehidupan yang agamis sesuai semangat Ketuhanan Yang Maha Esa. Kehidupan sosial yang saling menghormati dan menjaga kerukunan umat beragama serta menjauhkan semua potensi konflik horizontal. Masyarakat perlu menyadari dan terpanggil untuk aktif menghindari suasana lingkungan yang non-agamis yang dipenuhi tindakan-tindakan anarkis terhadap alam dan sesama manusia. Secara operasional, masyarakat perlu menuntut ilmu tentang kebencanaan dan bagaimana cara-cara tanggap bencana yang benar baik di tingkat pribadi, keluarga, ketetanggaan maupun masyarakat luas. Perlu dikembangkan semangat kebersamaan dan hidup berjamaah dalam mengantisipasi setiap kemungkinan.

d. Secara khusus kepada pihak Pemerintah berikut segenap jajarannya, kami menyampaikan imbaun yang sama dengan yang di atas baik secara moral-spiritual maupun operasional. Secara moral-spiritual, hendaknya seluruh insan pemerintahan betul-betul mengembangkan keimanan dan ketaqwaan dalam pelaksanaan tugas-tugas pelayanan publik. Semua insan pemerintahan sadar untuk tidak melakukan tindakan-tindakan amoral, asusila ataupun kezaliman terhadap diri sendiri dan orang lain terutama masyarakat banyak. Secara operasional, hendaknya instansi-instansi pemerintah yang berkenaan dengan kegiatan tanggap bencana, bekerja dengan amanah, berintegritas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan edukasi publik dan melindungi masyarakat dari potensi kebencanaan.

Akhirnya, kami berdoa semoga Allah melindungi negeri ini dan seluruh warga masyarakatnya dari semua potensi bencana alam dan sosial serta menolong mereka untuk mengembangkan kehidupan berdasarkan nilai-nilai iman dan taqwa yang menjadi sebab dibukakan-Nya pintu-pintu keberkahan dari langit dan bumi, aamiin.

Jakarta, 6 Agustus 2019

IMAAMUL MUSLIMIN

YAKHSYALLAH MANSUR

Tag:

Tinggalkan Balasan