Karakteristik Dan Tanggung Jawab Ulul Albab

Pengantar

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (ال عمران [٣]: ١٩٠)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Q.S. Ali Imran [3]: 190)

Imaam At-Thabraani dan Ibnu Al Mundzir meriwayatkan Asbabun Nuzul ayat ini dari Ibnu Abbas sebagai berikut, “Orang-orang Quraisy mendatangi orang-orang Yahudi dan berkata, “Mu’jizat apa yang dibawa Nabi Musa kepadamu untuk membuktikan kebenarannya?” Mereka menjawab, “Tongkatnya dan tangannya yang bersinar putih cemerlang.” Kemudian mereka mendatangi orang Nasrani dan berkata, “Mu’jizat apa yang dibawa Nabi Isa kepadamu?” Mereka menjawab, “Menyembuhkan penyakit buta sejak dalam kandungan dan penyakit kusta dan menghidupkan orang yang mati.” Kemudian mereka mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan berkata, “Berdo’alah kepada Tuhanmu agar bukit Shafa menjadi emas untuk kami.” Maka Nabi berdo’a, lalu Allah menurunkan ayat di atas. Ibnu Abbas berkata, “Pikirkanlah ayat ini.”

Ayat ini memberi petunjuk bahwa untuk membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dapat ditempuh dengan menggunakan akal untuk memikirkan semua ciptaan Allah yang ada di alam raya ini. Orang yang menggunakan akal pikiran ini dalam terminologi Al-Qur’an disebut Ulul Albab atau yang senada dengannya yaitu Ulin Nuha, Ulil Abshor, Ulama dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia kata-kata ini berpadanan dengan kata Intelektual, Ilmuwan, atau Cendekiawan.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan, ketika sahabat Bilal bin Rabah Radhiyallahu Anhu lewat di depan rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pada waktu sahur untuk mengumandangkan adzan di masjid, dia mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam membaca ayat yang berbunyi:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (١٩٠) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١) (ال عمران [٣]: ١٩٠-١٩١)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Q.S. Ali Imran [3]: 190-191).

Ketika Beliau tahu bahwa Bilal sedang mendengarnya, Beliau berkata kepadanya, “Baru saja turun kepadaku beberapa ayat Al-Qur’an.” Lalu Beliau bersabda,

وَيْلٌ لِمَنْ قَرَأَهَا وَلَمْ  يَتَفَكَّرْ فِيْهَا

“Celakalah orang yang membacanya tapi tidak merenunginya.”

Ayat ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan orang yang berakal. Ketika menjelaskan ayat ini, Prof. Dr. Abdul Salam, seorang pemenang hadiah Nobel 1979 bidang fisika, berkat teori unifikasi gaya yang disusunnya berkata, “Al-Quran mengajarkan kepada kita dua hal, Tafakkur dan Tasyakur. Tafakkur adalah merenungkan ciptaan Allah di langit dan di bumi, kemudian menangkap hukum-hukum yang terdapat di alam semesta. Tafakkur inilah yang sekarang disebut dengan science. Tasyakur ialah memanfaatkan nikmat dan karunia Allah dengan menggunakan akal pikiran, sehingga kenikmatan semakin bertambah, dalam istilah modern, tasyakur disebut dengan teknologiUlil Albab merenungkan ciptaan Allah di langit dan di bumi dan berusaha mengembangkan ilmunya sedemikian rupa sehingga karunia Allah ini dilipatgandakan nikmatnya.”

Jadi, Ulil Albab atau Cendekiawan adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahannya.

Karakteristik Ulul Alaab

Di dalam Al Qur’an, banyak disebutkan kriteria cendikiawan, antara lain:

  1. Bersungguh-Sungguh dalam Mencari Ilmu

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (ال عمران [٣]: ٧)

“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (Q.S. Ali Imran [3]: 7)

  1. Rajin Bangun Shalat Malam

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

أَمْ مَنْ هُوَ قَانِتٌ ءَانَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ (الزمر [٣٩]: ٩)

“Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S. Az-Zumar [39]: 9)

  1. Tidak Takut Kecuali kepada Allah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ (البقرة [٢]: ١٩٧)

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 197)

  1. Kritis dan Cerdas dalam Menerima Informasi

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (الزمر [٣٩]: ١٨)

“Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (Q.S. Az-Zumar: 18)

  1. Mengembangkan Ilmunya untuk Memperbaiki Masyarakat 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هَذَا بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ (إبراهيم [١٤]: ٥٢)

“(Al Qur’an) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengannya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (Q.S. Ibrahim [14]: 52).

Menurut Dr. Mahdi Ghulsyani, ilmu dipandang bermanfaat apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:

  1. Dia dapat meningkatkan pengetahuan pemiliknya akan Allah.
  2. Dia dengan efektif dapat membantu mengembangkan masyarakat Islam dan merealisasikan tujuan-tujuannya.
  3. Dia dapat membimbing orang lain.
  4. Dia dapat memecahkan berbagai problema masyarakat.
  1. Mampu memisahkan yang baik dan yang buruk dan mempertahankan kebaikan tersebut walaupun harus bertentangan dengan mayoritas manusia.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَاأُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (الأنعام [٥]: ١٠٠)

“Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (Q.S. Al-Maaidah [5]: 100).

  1. Menjadikan Al Quran sebagai pusat perhatian dan barometer langkah-langkahnya

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا ءَايَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ (ص [٣٨]: ٢٩)

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.”  (Q.S. Shaad [38]: 29)

Tanggung Jawab Ulul Albab

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

 أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَاب (١٩) الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللَّهِ وَلَا يَنْقُضُونَ الْمِيثَاقَ (٢٠) وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ (٢١) (الرعد [١٣]: ١٩-٢١)

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran (19). (yaitu) orang-orang yang memenuhi janji Allah dan tidak merusak perjanjian (20). dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk (21)”. (Q.S. Ar-Ra’d [13]: 19-21)

Pada ayat ini Allah menyebutkan dua tanggung jawab utama Ulul Albab yaitu:

  1. Memenuhi Janji

Janji Allah yang disebut mitsaq ini didefinisikan oleh Dr. Muhammad Mahmud Hijazi sebagai “apa yang mengikat diri mereka dalam hubungan antara mereka dengan Tuhan mereka, antara diri mereka dengan diri mereka, antara mereka dengan manusia yang lain.”

Janji tertua manusia kepada Allah yang mereka ungkap sejak masih di alam arwah disebutkan dalam firman-Nya:

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (الأعراف [٧]: ١٧٢)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).” (Q.S. Al-A’raf [7]: 172)

Dengan janji ini, setiap cendekiawan jauh sebelum diciptakan dengan hidup yang nyata telah berjanji kepada Allah untuk mengikuti perintah-Nya, menghentikan larangan-Nya, melaksanakan seluruh rangkaian ibadah yang telah disyari’atkan-Nya, dan mengikuti seruan Rasul-Nya.

Setelah itu dipenuhi janji kepada dirinya, untuk memilih komitmen terhadap nilai Islam dan dipenuhi pula janjinya dengan sesama manusia karena hidup pada hakekatnya paduan antara janji. Apabila janji dipenuhi, maka akan terwujudlah harmoni kehidupan dan apabila janji banyak dilanggar maka rusaklah kehidupan.

Termasuk dalam janji dengan sesama manusia ini adalah seorang cendekiawan harus mempertahankan kejujuran, keterbukaan dan kesungguhan hati, menghindari manipulasi data, pemalsuan informasi, hanya memikirkan kepentingan pribadi dan lain-lain yang akan menjatuhkan nilai-nilai ilmu yang dimiliki.

Apabila cendekiawan komitmen dengan janjinya kepada sesama manusia maka tidak akan terjadi kasus yang mengerikan seperti yang terjadi di Prancis, beberapa tahun lalu. Diberitakan bahwa telah diketemukan janin-janin beku dalam kantong-kantong plastik dalam sebuah truck yang menuju Prancis lewat Swiss. Menurut berita tersebut, janin-janin itu dikirim untuk penelitian pengembangan beauty creams di laboratorium-laboratorium di Perancis. Pada halaman yang sama dalam berita yang berjudul “Abortion: A Thriving Industry in America’s Celebrated Way of Life” diberitakan pula tentang penemuan 17000 janin di rumah seorang bekas operator laboratorium kedokteran di California.

  1. Menyambung apa yang diperintahkan Allah

Menyambung apa yang diperintahkan Allah adalah menyambung hubungan antara sesama manusia. Termasuk di dalamnya menggabungkan Iman, dan Amal Cinta kepada Allah, serta menghubungkan kelompok-kelompok yang bertentangan sehingga tumbuh Ukhuwwah Islamiyah di antara manusia. Di sini seorang cendekiawan berperan sebagai integrator, katalis, dan muwwahid yang menghidupkan semangat persatuan di tengah masyarakat yang terpecah.

Di sinilah pentingnya peran generasi khilafah sebagai ulul albab. Mereka hendaknya berusaha dengan sungguh-sungguh mewujudkan kehidupan Al Jama’ah di tengah-tengah masyarakat Islam karena hanya dengan Al Jama’ah masyarakat Islam dapat disatukan, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا.. (ال عمران [٣]: ١٠٣)

“Dan berpegang kamu semuanya kepada tali (agama) Allah seraya berjama’ah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Q.S. Ali Imran [3]: 103)

  1. Membimbing Masyarakat kepada ajaran Islam

Selanjutnya tanggung jawab lain cendekiawan adalah membangkitkan dan membantu masyarakat bukan memegang kepemimpinan politik negara. Bila masyarakat dibimbing dan dibangunkan secara benar, dia akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang tangguh untuk memerintah dan membimbing masyarakat. Pembangunan masyarakat yang besar adalah berdasarkan pada ajaran Islam. Hal ini bukan karena konsekuensi iman saja, tetapi karena ajaran Islama sanggup menjawab tantangan kehidupan modern. Ajaran Islam yang dipraktekkan secara konsekuen terbukti telah melahirkan manusia unggul sebagai penyelamat dunia dan pelopor peradaban di berbagai bidang. Umar bin Khaththab berhasil menjadi pemimpin dunia yang jarang tandingannya. Bilal bin Rabbah dari seorang budak yang menjadi muadzin Rasul dan menjadi lambang persamaan manusia. Belum lagi dalam bidang Sains dan teknologi lahir nama Al Haytsan dalam bidang optics yang dipandang sebagai mendasari teori Newton. Ibnu Sina dengan Canon of Medicine-nya yang telah menjadi buku standar ilmu kedokteran selama 600 tahun. Muhammad bin Musa Al Khawarizmi yang pertama kali mengarang buku tentang matematika dan istilah logaritma, diyakini berasal dari namanya.

Keberhasilan syari’at Islam melahirkan manusia-manusia unggul di atas adalah tidak terlepas dari kepemimpinan dan keteladanan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Bernard Shaw menulis, “Jika seorang seperti Muhammad menguasai (memimpin – Pen) dunia modern, maka dia berhasil membawa dunia pada perdamaian dan kebahagiaan yang sangat dibutuhkan itu. Oleh karena itu cendekiawan muslim dituntut untuk meneladani Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Semoga kita mampu merealisasikannya. Aamiin.

Wallahu A’lam bish Shawwab.

Daftar Pustaka

  1. Al Baghawi, Ma’alim At Tanzil fi At Tafsir wa At Ta’wil, Daar Al Fikr, Beirut, 1405 H.
  2. Al Qodhi Abdul Fatah, Asbab An-Nuzul fi As Sahabah wa Al Mufassirin, Daar Al Nadwah Al Jadidat, 1408 H.
  3. Ali Shari’ati, Tugas Cendekiawan Muslim, Terj. Amin Rais, Rajawali, Jakarta.
  4. Al-Raghib Al-Ashfahani, Al-Mufradat Fie Gharib Al Quran, Daar Al-Ma’arif, Beirut, cet. II,
    1420 H./1999 M.
  5. Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panjimas, Jakarta, cet. II, 1983 M.
  6. Mahdi Ghulsyani, Filsafat Sains menurut Al Quran, Terj. Agus Efendi, Mizan, Bandung, cet. X, 1419 H.
  7. Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al Nijai Al Mufahras li Alfadz Al Quran Al-Karim, Daar Al Fikr, Cet. III, 1412 H.
  8. Muhammad Sayyid Tanthawi, Tafsir Al-Wasith li Al Quran Al-Karim, Daar Al-Ma’arif, Kairo,
    1393 H./1973 M.

Makalah Karakteristik Dan Tanggung Jawab Ulul Albab
ditulis oleh: Imaamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur, M.A.

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan