Puasa Ramadhan Sebagai Sarana Pemersatu Umat

Firman Allah :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة [٢]: ١٨٣)

Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183)

Kajian Kalimat

Dalam mensyariatkan puasa ini Allah  berbicara langsung kepada orang beriman tidak melalui Rasulullah  dengan “Katakanlah”, kepada orang beriman. Hal ini untuk menunjuk-kan betapa mulia dan agung syariat puasa dan seakan-akan mengisyaratkan betapa dekatnya orang beriman yang diperintah puasa itu dengan Allah .

Selanjutnya dalam mewajibkan puasa, Allah  menggunakan kata “kutiba” bukan “furidha” yang dalam bahasa Indonesia mempunyai arti sama yaitu diwajibkan.

Secara essensial dua kata ini mempunyai perbedaan antara lain:

Pertama, dilihat tanasub (rangkaian) dengan ayat-ayat sebe-lumnya.

Sebelum kewajiban puasa, kata “kutiba” digunakan untuk dua kewajiban yang lain yaitu: qishash dalam pidana pembunuhan dan wasiat sebelum meninggal bagi orang yang meninggal-kan harta sebagaimana firman-Nya:

1.   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى ۖ (البقرة [٢]: ١٧٨)

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishash dalam pembunuhan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 178)

2.   كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِن تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ (البقرة [٢]: ١٨٠)

“Diwajibkan atas kalian apabila salah seseorang di antara kalian akan meninggal untuk berwashiat apabila dia meninggalkan harta.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 180)

Kedua, dilihat dari sudut pengertian.

Bahwa kata “kutiba” mencakup arti “furidha”. Jadi kata “kutiba” pasti berarti “furidha” sementara kata “furidha” belum tentu mengandung arti “kutiba”. Kata “kutiba” juga selalu digunakan untuk pekerjaan yang memiliki konsekuensi lebih berat daripada “furidha”. Oleh karena itu ketika Allah  memerin-tahkan berperang karena agama Islam diperangi, Allah  menggunakan kata “kutiba” mengingat berperang mempu-nyai konsekuensi yang sangat berat dan tidak disenangi oleh jiwa manusia. Allah  berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۖ (البقرة [٢]: ٢١٦)

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menye-nangkan bagimu…” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 216)

Dalam hal ini puasa sama dengan perang yaitu tidak disenangi oleh nafsu manusia kecuali yang mempu menundukkan nafsunya kepada perintah Allah .

Pada ayat ini, Allah  memerintahkan puasa dengan meng-gunakan kata shiyam bukan shaum. Kedua kata ini adalah bentuk mashdar dari kata shama-yashumu yang berarti menahan diri. Hanya kata shaum merujuk pada arti umum yaitu menahan diri dari tindakan perbuatan atau ucapan (diam), sedang kata shiyam merujuk kepada arti spesifik yaitu menahan diri dari makan, minum dan berhubungan intim dari fajar terbit hingga matahari terbenam.

Dalam Al-Quran kata shaum disebutkan satu kali, yaitu pada surat Maryam [19] ayat 26:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا (مريم [١٩]: ٢٦)

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.” (Q.S. Maryam [19]: 26)

Sedangkan kata shiyam disebut sembilan kali dalam tujuh ayat yaitu: Al-Baqarah [2]: 183, Al-Baqarah [2]: 187, Al-Baqarah [2]: 196, An-Nisaa [4]: 92, Al-Maidah [5]: 89, Al-Maidah [5]: 95, dan Al-Mujadilah [58]: 4.
Pada akhir ayat ini, dalam menjelaskan tujuan puasa, Allah  menggunakan kata la’alla

(لَعَلَّ)

yang secara bahasa berarti semoga, supaya atau agar.
Ibnu Manzhur mengatakan bahwa menurut Al-Jauhari, la’alla adalah kata yang menunjukkan keraguan (syak). Aslinya adalah ‘alla, sedangkan huruf lam pada permulaannya adalah tambahan.

Di dalam Al-Quran kata la’alla dengan beberapa bentuknya:

لَعَلَّهُ, لَعَلِّى,  لَعَلَّنَا,  لَعَلَّكَ, لَعَلَّكُمْ dan لَعَلَّهُمْ

disebutkan kurang lebih 114 kali.

Para ulama berbeda pendapat tentang arti لَعَلَّ dalam Al-Quran. Dari pendapat-pendapat tersebut Imam Sibawaih (148-180 H/760-796 M) seorang pakar bahasa Arab yang sangat diakui otoritasnya menyatakan, “Sesungguhnya arti la’alla dalam Al-Quran adalah mengandung arti harapan dan mengasihani sesuai dengan yang diajak bicara (mukhothob) bukan berarti syak (keraguan) dari Allah .”

Jadi puasa adalah wujud kasih sayang Allah  kepada manusia untuk mengantarkan mereka menjadi orang yang bertaqwa.

Menyambut Bulan Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah anugerah Allah  yang luar biasa kepada orang yang beriman. Oleh karena itu untuk menyambut kehadirannya harus disiapkan secara maksimal agar dapat mencapai tujuannya yaitu membuahkan taqwa.

Di antara cara menyambut Ramadhan antara lain:

  1. Memperbanyak Puasa di bulan Sya’ban

Aisyah  berkata:

كَانَ رَسُوْلَ اللَّهِ ﷺ يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لَا يَصُوْمُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللَّهِ إِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتَهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ مِنْ شَعْبَانَ (رواه البخارى)

“Adalah Rasulullah  kadang-kadang terus menerus berpuasa, sehingga kami mengatakan beliau tidak berbuka dan kadang-kadang beliau terus menerus tidak berpuasa sehingga kami mengatakan beliau tidak pernah berpuasa (sunat). Saya tidak pernah melihat Rasulullah  menyempurnakan puasa sebulan penuh selain bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihat beliau banyak berpuasa seperti puasa di bulan Sya’ban.” (H.R. Bukhari)

  1. Memperbanyak Do’a

Diriwayatkan dari Anas bin Malik  bahwa Rasulullah  semenjak memasuki bulan Rajab berdoa:

أَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ – ضعيف (رواه أحمد والطبرانى)

“Ya Allah berikanlah keberkahan kepada kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami di bulan Ramadhan.” Hadis Dhaif – (H.R. Ahmad dan Thabrani)

Jumhur ulama membolehkan mengamalkan hadis dlaif dalam fadhail a’mal (keutamaan amal) dengan syarat:

  1. Tidak terlalu dlaif (maudlu’)
  2. Hadis dlaif itu tidak bertentangan dengan hadis shahih.

Di antara ulama yang membolehkan mengamalkan hadis dlaif adalah Imam Ahmad, Ibnu Mahdi dan Ibnu Mubarak.

  1. Melakukan Rukyat (melihat) Bulan

Dari Abu Hurairah  bahwa Rasulullah  bersabda:

صُوْمُوْ لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ (رواه البخاري ومسلم)

“Berpuasa kalian sesudah melihat bulan dan berbukalah kalian sesudah melihat bulan.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Berdasarkan perintah ini maka setiap akhir bulan Sya’ban para sahabat melaksanakan rukyatul hilal. Ibnu Umar  berkata:

تَرَائَ النَّاسُ الْهِلَالَ فَأَخْبَرْتُ النَّبِيِّ ﷺ أَنِّى رَأَيْتُهُ فَصَامَ وَأَمَرَ النَّاسَ بِصِيَامِهِ (رواه أبو داود وصححه الحاكم وابن حبان)

“Manusia sibuk melihat-lihat bulan lalu mengkhabarkan kepada Nabi  bahwa aku melihatnya. Maka beliau berpuasa dan memerintahkan manusia berpuasa.” (H.R. Abu Daud dan dishahihkan oleh Hakim dan Ibnu Hibban)

Ibnu Umar  meriwayatkan bahwa ketika melihat munculnya bulan Rasulullah  berdoa:

اَللَّهُ أَكْبَرُ أَللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى رَبُّنَا اللَّهُ وَرَبُّكَ اللَّهُ (رواه أحمد)

“Ya Allah Yang Maha Besar Ya Allah jadikanlah bulan ini bulan yang membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, taufiq kepada segala hal yang dicintai dan diridlai Tuhan kami. Tuhan kami dan Tuhan mu adalah Allah.” (H.R. Ahmad)

Diriwayatkan juga, bahwa saat Ramadhan tiba beliau berdoa:

اَللَّهُمَّ سَلِّمْنِى لِرَمَضَانَ وَسَلِّمْ رَمَضَانَ لِى وَسَلِّمْهُ لِى مُتَقَبَّلًا (رواه الطبراني)

“Ya Allah selamat saya untuk Ramadhan dan selamatkan Ramadhan untukku dan selamatkan dia sebagai amal yang diterima untukku.” (H.R. Thabrani)

  1. Mengucapkan Selamat Datang akan Kedatangan Bulan Ramadhan

Diriwayatkan Ath-Thabrani bahwa Rasulullah  ketika bulan Ramadhan beliau bersabda:

أَتَا كُمْ رَمَضَانُ سَيِّدُ الشُّهُوْرِ فَمَرْحَبًا بِهِ وَأَهْلًا جَاءَ شَهْرُ الصِّيَامِ بِالْبَرَكَاتِ فَأَكْرِمْ بِهِ مِنْ زَائِرٍ هُوَاتٍ (رواه الطبرانى)

“Telah datang kepada kalian Ramadhan penghulu semua bulan. Maka ucapkanlah selamat datang kepadanya. Telah datang bulan puasa membawa segala berkah, maka alangkah mulianya tamu yang datang.” (H.R. Ath-Thabrani)

  1. Bergembira atas Kedatangan Bulan Ramadhan

Abu Hurairah  berkata, “Ketika Ramadhan datang, Rasulullah  bersabda:

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ كَتَبَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ فِيْهِ تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجِنَانِ وَتُغْلَقُ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَ هَا فَقَدْ حُرِمَ (رواه أحمد)

“Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepada kalian berpuasa di dalamnya. Dalam bulan Ramadhan dibuka semua pintu surga, dikunci semua pintu neraka dan dibelenggu semua setan. Di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan. Barang siapa tidak diberikan kebaikan kepadanya pada malam itu, berarti telah diharamkan semua kebaikan.” (H.R. Ahmad)

  1. Bertekad dengan Sungguh-sungguh untuk Mengopti-malkan Kebaikan

Allah  berfirman:

فَإِذَا عَزَمَ الْأَمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ (محمد [٤٧]: ٢١)

“Maka apabila telah tetap perintah (perang) maka seandainya mereka benar imannya (kepada Allah) niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (Q.S. Muhammad [47]: 21)

Secara tekstual ayat ini tidak ada hubungannya dengan puasa Ramadhan tetapi secara kontekstual -Wallahu A’lam- ayat ini mengajarkan kepada kita agar kita mempunyai tekad yang sungguh-sungguh untuk melakukan berbagai kebaikan. Siapa yang bertekad dengan sungguh-sungguh niscaya Allah  akan memberi pertolongan kepadanya untuk memudahkan berbagai jalan kebaikan. Di antara amal kebaikan yang dioptimalkan oleh Rasulullah  adalah membaca Al-Quran, shalat lail (tarawih), i’tikaf dan shadaqah.

  1. Mengadakan Khotbah (Ceramah) Akhir Sya’ban

Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dari Salman Al-Farisi :

خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللَّهِ ﷺ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنْ شَعْبَانَ فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ مُبَارَكٌ، شَهْرٌ فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، جَعَلَ اللهُ صِيَامَهُ فَرِيْضَةً، وَقِيَامَهُ تَطَوُّعًا، مَنْ تَقَرَّبَ فِيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ الْخَيْرِ، كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَمَنْ أَدَّى فِيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِيْمَا سِوَاهُ، وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ، وَالصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ، وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُه رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتْقٌ مِنَ النَّارِ… الحديث (رواه ابن خزيمة)

“Rasulullah  pada hari terakhir bulan Sya’ban berkhutbah di hadapan kami, beliau  bersabda, ‘Wahai manusia, sungguh bulan yang agung dan penuh barakah akan datang menaungi kalian, bulan yang di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Allah  menjadikan puasa (pada bulan itu) sebagai satu kewajiban dan menjadikan solat malamnya sebagai amalan sunnah. Barangsiapa yang beribadah pada bulan tersebut dengan satu kebaikan, maka sama (nilainya) dengan menunaikan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang menunaikan satu kewajiban pada bulan itu, maka sama dengan menunaikan tujuh puluh ibadah wajib pada bulan yang lain. Itulah bulan kesabaran dan balasan kesabaran adalah syurga. Itulah bulan yang awalnya adalah rahmat, pertengahannya ampunan dan akhirnya adalah merupakan pembebasan dari api neraka… Al-Hadis.” (H.R. Ibnu Khuzaimah)

Sebagian ulama meriwayatkan hadis ini tanpa takhrij dan sebagian yang lain mentakhrijnya.*

Ulama yang mentakhrijnya menyatakan bahwa hadis tersebut juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di “Syu’abul Iman” dan Al-Mundziri di “Targhib wat Tarhib“, keduanya menyatakan hadis ini dhaif.

Sementara itu ulama yang tidak mentakhrijnya menyatakan bahwa mengingat isi (matan) hadis ini, wajar bagi umat Islam ketika akan mengakhiri bulan Sya’ban, memasuki bulan Ramadhan mengadakan pertemuan untuk memberi petunjuk yang diperlukan umat tentang hal-hal yang harus dilaksana-kan guna menyambut kedatangan bulan Ramadhan dan yang dilaksanakan selama bulan tersebut.

Puasa Ramadhan dan Kesatuan Umat

Seluruh ibadah yang disyariatkan Allah  kepada umat Islam adalah untuk memberi pengaruh dan menyadarkan mereka tentang pentingnya kesatuan (wihdah) dan kebersamaan (jama’ah).

Satunya arah kiblat dalam shalat memberikan gambaran bahwa hati umat Islam adalah satu. Shalat berjama’ah yang sangat ditekankan oleh Allah  dan Rasulullah  mengajarkan agar umat Islam selalu menjaga kebersamaan paling tidak bertemu lima kali sehari saat mereka shalat menghadap ke satu kiblat.

Zakat pada dasarnya bukan hanya perintah untuk mengeluar-kan harta tetapi zakat pada esensinya adalah untuk menum-buhkan kesadaran bahwa umat Islam adalah umat yang satu. Harta yang mereka hasilkan hendaknya dapat dirasakan bersama-sama sehingga tumbuh solidaritas yang kuat di antara mereka.

Pada waktu haji, umat Islam yang memiliki kemampuan berkumpul di satu tempat, Makkah Al-Mukarramah. Bentuk ibadah, kalimat yang mereka ucapkan dan pakaian yang mereka kenakan semuanya sama. Melalui ibadah haji persau-daraan umat Islam dipererat dan ikatan keumatan diperkokoh sehingga mereka merasa sebagai satu umat yang hanya mengharapkan ridla Allah , Tuhan yang satu.

Adapun puasa Ramadhan tidak diragukan lagi merupakan sarana yang sangat efektif untuk mewujudkan kesatuan umat.

Oleh karena itu Rasulullah  memerintahkan umat Islam memulai dan mengakhiri puasa dengan melihat bulan karena hal ini lebih akurat dan lebih memungkinkan terwujudnya kebersamaan dalam memulai dan mengakhiri puasa.

Pernah ditanyakan kepada Imam Asy-Syaubari tentang usaha melihat bulan di awal dan di akhir Ramadhan, beliau menjawab, “Usaha melihat hilal, adalah fardhu kifayah, baik untuk Ramadhan, maupun untuk bulan-bulan yang lain, dan wajiblah diadakan ikhtiar untuk itu. Hendaklah hilal itu dilihat setelah terbenam matahari, dengan tidak memakai cermin.”

Para ulama membolehkan melihat bulan melalui teropong atau teleskop. Asy-Syaikh Muhammad Bakhit berkata, “Andaikata ada petugas resmi yang bertugas melihat bulan, melihatnya dengan teropong, alat untuk membesarkan sesuatu yang dilihat, maka dapat diterima kesaksian mereka.” Ulama yang mengatakan, bahwa tak boleh dilihat bulan dengan cermin, atau ke dalam air, maka adalah karena yang dilihat itu bukan zat bulan, tetapi sesuatu yang seperti bulan.”

Jadi melihat bulan merupakan landasan utama untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan, dan untuk memperkuatnya dapat dibantu dengan hisab. Mayoritas ulama menempatkan hisab sebagai alat bantu untuk melihat bulan, bukan suatu pegangan yang berdiri sendiri. Ru’yah dan hisab dapat saling membantu. Untuk menentukan kemungkinan ru’yah dipergu-nakan hisab. Untuk mengecek benar salahnya hisab, dibukti-kan dengan ru’yah. Jadi bukan semata-mata berpegang dengan hisab, tanpa menghiraukan ru’yah.

Dalam rangka mewujudkan kesatuan umat, jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa mathla’ (tempat terlihatnya bulan) tidak diperhitungkan. Apabila penduduk suatu negeri melihat bulan, semua negeri wajib memulai dan mengakhiri puasa mengingat sabda Rasulullah :

صُوْمُوْا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوْا لِرُؤْيَتِهِ (متفق عليه)

“Berpuasalah kalian setelah melihat bulan dan berbukalah kalian setelah melihatnya.” (Muttafaq Alaih)

Hadis ini ditujukan secara umum kepada seluruh umat Islam. Maka siapa saja melihat bulan di tempat mana saja maka penglihatannya dipandang sebagai penglihatan seluruh umat.

Sebagian kecil ulama berpendapat bahwa setiap negeri memulai puasa dan mengakhirinya mengikuti ru’yah (pengli-hatan) bulan di negeri masing-masing. Mereka berpegang kepada atsar dari Kuraib yang diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan Tirmidzi bahwa Abdullah bin Abbas  ru’yah penduduk Syam dan di akhir pembicaraan beliau berkata, “Beginilah kami diperintahkan Rasulullah .”

Menurut para ulama yang mengikuti pendapat jumhur (mayoritas) ulama pendapat ini lemah dan makin menjauhkan umat dari persatuan. Syaikh Abdurrahman Taj berkata, “Kebanyakan Imam Fiqh dalam madzhab 4 tidak berpegang kepada perbedaan mathla’ dalam menetapkan wujud hilal. Inilah pendapat yang kuat dan jalan fikiran yang benar.”

Puasa Ramadhan yang dimulai dan diakhiri dalam waktu yang sama itu juga akan sangat efektif dan mewujudkan kesatuan umat. Di samping itu menurut Ahmad Musthafa Al-Maraghi puasa memiliki beberapa hikmah di antaranya:

  1. Membiasakan seseorang berkasih sayang yang menyebab-kan rela berkorban dan bersedekah untuk membantu orang lain terutama yang serba kekurangan karena dia telah merasakan bagaimana penderitaan orang yang lapar. Apabila perasaan ini telah tumbuh maka akan muncul persaudaraan yang kuat di antara orang yang beragama.
  2. Adanya persamaan antara yang kaya dan miskin, antara penguasa dan rakyat biasa, dan tidak ada perbedaan dalam melaksanakannya.

Persaudaraan yang muncul sebagai buah dari taqwa ini akan menumbuhkan di dalam hati tentang pentingnya kesatuan akidah dan kesatuan jama’ah sehingga hilang permusuhan di antara umat Islam. Karena orang yang bertaqwa tidak menjadikan sesama umat Islam sebagai musuh baik di dunia maupun di akhirat.

Allah  berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ (الزخرف [٤٣]: ٦٧)

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagian menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Az-Zukhruf [43]: 67)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir berkata, “Yakni semua sahabat dan teman yang didasari bukan karena Allah, kelak di hari kiamat berbalik menjadi permusuhan. Kecuali apa yang berdasarkan karena Allah Azza wa Jalla maka hal itu akan tetap kekal berkat kekekalan Allah.”

Ibnu Abbas , Mujahid, dan Qatadah mengatakan bahwa setiap persahabatan akan menjadi permusuhan kecuali orang-orang yang bertaqwa.

Selanjutnya Ibnu Katsir menukilkan sabda Rasulullah :

لَوْ أَنَّ رَجُلَيْنِ تَحَابَّا فِى اللَّهِ أَحَدُهُمَا بِالْمَشْرِقِ وَالْآخَرُ بِالْمَغْرِبِ لَجَمَعَ اللَّهُ بَيْنَهُمَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُوْلُ هَذَا الَّذِى أَحْبَبْتَهُ فِي (إبن عساكر)

“Seandainya dua orang yang mencintai karena Allah salah satunya di belahan timur dan yang lain di belahan barat, pasti Allah akan mengumpulkan keduanya di hari kiamat, lalu Allah berkata, “Inilah orang yang engkau cintai karena Aku.” (H.R. Ibnu Asakir)

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَّابِ

* Takhrij hadis adalah menunjukkan keberadaan suatu hadis di dalam kitab-kitab yang merupakan sumber utama hadis dengan mencantumkan sanad, kemudian menjelaskan tingkatan-tingkatan-nya.

 

Makalah : Puasa Ramadhan Sebagai Sarana Pemersatu Umat
Ditulis Oleh: Imaamul Muslimin KH. Yakhsyallah Mansur, M.A.

Beri rating artikel ini!
Tag:

Tinggalkan Balasan