Urgensi Jihad Literasi

18


Oleh: Arief Rahman, Pemimpin Kantor Berita MINA

Tentang Jihad

Arti kata jihad yang ada di dalam Al-Quran berdasarkan penafsiran para ulama setidaknya mengerucut pada makna bersungguh sungguh dalam mentaati Allah SWT atau perang.

Sementara menurut asal kata jihad itu sendiri bermakna usaha atau kekuatan[1].

Aktifitas jihad merupakan implementasi keimanan seorang muslim. Harapan atas pelaksanaan jihad tidak lain adalah mengharap rahmat Allah SWT[2].

Adapun pelaksanaan jihad bagi setiap muslim sesuai dengan konteks aktifitasnya masing-masing. Contohnya, seorang ulama berjihad dalam bentuk mendakwahkan nilai-nilai islam yang rahmatan lil ‘alamin. Sementara seorang guru berjihad dalam mendampingi anak didiknya mempelajari ilmu pengetahuan. Seorang pedagang berjihad dalam perdagangan dengan nilai-nilai syariat yang telah ditetapkan. Dan seterusnya.

Jihad Literasi

Salah satu kondisi yang sangat memerlukan nilai-nilai jihad saat ini adalah meningkatkan kemampuan membaca dan menulis (literasi) di kalangan masyarakat Indonesia khususnya umat Islam.

Salah satu rujukan atas kemampuan membaca sebuah negara adalah PISA. PISA (Programme for International Student Assessment) adalah sebuah studi penilaian tingkat internasional yang diselenggarakan untuk mengevaluasi sistem pendidikan di dunia dengan mengukur performa akademik pelajar sekolah berusia 15 tahun pada bidang matematika, sains dan kemampuan membaca[3].

Berdasarkan data tahun 2018, Indonesia mengalami penurunan skor dalam berbagai bidang sebagaimana terlihat dalam tabel di bawah ini:

Tabel 1[4]

Dari tabel tersebut terlihat bahwa kemampuan membaca masyarakat Indonesia mengalami penurunan yang signifikan dari 396 di tahun 2012 menjadi 371 di tahun 2018.

Data PISA di atas menjadi sebuah tamparan yang keras bagi praktisi pendidikan di negeri ini. Termasuk para pendidik dari kalangan umat islam yang notabenenya sebagai mayoritas di negeri ini.

Paradoks

Bagaimana mungkin negeri muslim terbesar di dunia memiliki nilai kemampuan membaca yang rendah sementara ajaran agamanya sangat mengutamakan aktifitas membaca.

Perintah membaca merupakan ayat pertama yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW[5].

Dampak yang ditimbulkan setelah perintah ini turun menjadi momentum penting tegaknya kalimat tauhid di jazirah arab dan seluruh belahan dunia lainnya.

Generasi selanjutnya meneruskan dengan satu aktifitas cemerlang lainnya yaitu menulis. Ribuan tulisan dihadirkan oleh cendekiawan muslim. Ribuan solusi kehidupan dijawab dan direkam dalam buku yang menjadi produknya.

Tokoh-tokoh cendekiawan muslim bermunculan bukan hanya satu namun ratusan. Mereka sangat produktif dengan tulisan-tulisan bak lentera dimalam yang gelap gulita, mencerahkan.

Paradoks yang kita lihat dari data PISA di atas dengan sejarah kejayaan umat islam berujung pada satu sumber masalah, yaitu hilangnya semangat jihad dalam membaca dan menulis.

Menulis di Era Milenial

Menulis adalah sebuah kegiatan yang bertujuan menyimpan ilmu dan informasi menggunakan aksara[6].

Menulis menjadi salah satu upaya atas keterbatasan otak kita dalam menyimpan sebuah informasi.

Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqoarah ayat 282 yang artinya

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.”

Jagalah ilmu dengan menulis sabda Rasulullah SAW memberikan nasihat kepada kita tentang urgensi menulis[7].

Era milenial ditandai dengan kemajuan teknologi yang berubah sedemikian cepat. Aktifitas manusia menjadi tidak tebatas ruang dan waktu Kebutuhan informasi dan hiburan muncul sebagai pendamping dari kebutuhan primer.

Mengutip TiNews.com ada sekitar 191,4 juta jiwa pengguna media sosial per januari 2022. Jumlah tersebut setara dengan 68,9 persen dari total populasi Indonesia.[8]

Mirisnya perkembangan melek teknologi ini tidak berbanding lurus dengan tingkat literasi anak bangsa.

Skoring nilai PISA menjadi raport bagi kemampuan anak bangsa yang sedemikian memprihatinkan.

Sementara itu kebutuhan akan informasi yang menjadi salah satu budaya baru era ini justru tidak terbendung.  Rendahnya tingkat literasi menjadikan kebutuhan bacaan dan hiburan diisi oleh hal-hal yang tidak mendukung nilai-nilai peradaban luhur.

Konten-konten yang hanya memenuhi nafsu syahwat bermunculan bagaikan jamur yang tumbuh dimusim hujan.

Sementara konten yang mencerahkan  masih harus terus bersaing untuk bisa mendominasi tontonan netizen,

Untuk itu dibutuhkan sebuah upaya khusus dalam meredam dan menjawab kebutuhan masyarakat digital saat ini.

Salah satu upaya tersebut adalah menghadirkan tulisan-tulisan atau konten yang mampu mencerahkan masyarakat ke arah yang diridhoi oleh Allah SWT.

Pelatihan jurnalistik ataupun pelatihan belajar menulis artikel menjadi sebuah solusi menumbuhkembangkan minat dalam menulis.

Sehingga dari pelatihan tersebut akan tumbuh kesadaran bahwa menulis akan lebih efektif ketika ditunjang oleh wawasan melalui referensi yang dibaca oleh penulis itu sendiri.

Tulisan yang dikemas dengan baik dengan narasi yang mudah dicerna ditambah sosialisasi dengan aplikasi sosial media yang memudahkanya untuk viral, menjadi daya tarik agar pesan dapat diterima netizen.

Selain itu tulisan yang baik dan viral dapat memberikan peluang ekonomi bagi penulisnya. Jangan juga dilupakan teknik copy writing  yang mumpuni dapat menjadikan sebuah tulisan menjadi efektif dalam perubahan sebuah mindset.

Wallahu’alam bishawab.

[1] https://minanews.net/memahami-makna-jihad-refleksi-terhadap-kejahatan-isis/

[2] QS Al Baqarah ayat 218

[3] https://www.oecd.org/pisa/aboutpisa/

[4] https://www.zenius.net/blog/pisa-2018-2019-standar-internasional

[5] QS Al Alaq 1-5

[6] “Jurus Jitu menguasai copy writing” Widya Ariyadi

[7] Shahih Al-Jami’, no.4434. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini sahih

[8] https://www.tinewss.com/indonesia-news/pr-1853617810/jumlah-pengguna-media-sosial-di-indonesia-pada-tahun-2022

(AK/R1)