Bebaskan Perempuan Palestina di Penjara Pendudukan

40

Oleh: Ali Farkhan Tsani, Wartawan Kantor Berita MINA (Mi’raj News Agency)

Sejak tahun 1967, hampir 17.000 perempuan Palestina telah ditahan di penjara  pendudukan Israel. Mereka terdiri dari ibu-ibu, lansia, istri, wanita hamil, pasien, orang dengan kebutuhan khusus, gadis di bawah umur, pelajar di berbagai tingkat pendidikan, akademisi, pemimpin masyarakat, dan perwakilan terpilih di Dewan Legislatif.

Tahanan perempuan pertama dalam revolusi Palestina adalah Fatima Barnawi, dari kota Yerusalem, yang ditangkap pada 14 Oktober 1967. Ia menghabiskan sepuluh tahun sebelum dia dibebaskan pada 1977.

Semua fakta menunjukkan bahwa bentuk dan cara yang digunakan oleh pendudukan Israel ketika menangkap perempuan Palestina tidak berbeda dengan ketika menangkap laki-laki.

Dr. Abdel Nasser Farwana dalam artikel yang dimuat di media Palestine News Network, edisi Sabtu, 8 Januari 2022, menyebutkan, kesaksian menunjukkan bahwa kaum perempuan Palestina menjadi sasaran satu atau lebih bentuk penyiksaan fisik atau psikologis oleh pendudukan Israel, dan perlakuan yang merendahkan, tanpa memperhitungkan hak mereka atas integritas fisik dan psikologis mereka.

Pendudukan berupaya menghalangi kaum perempuan, membatasi peran mereka dan meminggirkan mereka dari akses perjuangan Palestina. Tentara juga acapkali menangkap perempuan untuk menekan anggota keluarganya, membuat mereka mengaku, atau memaksa orang yang dicari untuk menyerahkan diri.

Dalam beberapa tahun terakhir, penderitaan perempuan Palestina juga semakin memburuk dan pelanggaran terhadap mereka telah meningkat. Selama tahun 2021, penangkapan sekitar 184 perempuan Palestina, sebagian besar dari mereka dari Yerusalem, jumlah ini merupakan peningkatan 44% dari apa yang tercatat pada tahun sebelumnya.

Sementara jumlah tahanan wanita Palestina yang masih berada di penjara pendudukan pada akhir tahun lalu mencapai 34 orang, mendekam di Penjara Damoun, yang berasal dari era Mandat Inggris di jalan pantai dekat kota Haifa di utara.

Kejahatan Kemanusiaan

Kelompok Komisi Urusan Tahanan dan Mantan Tahanan yang dikelola PLO mengutip tahanan yang diinterogasi, melaporkan seperti disebutkan Anadolu Agency, pihak Israel telah menyiksa dan melecehkan tahanan perempuan Palestina di penjara-penjara Israel.

Kelompok itu mengatakan 40 tahanan wanita mengalami kondisi yang keras dan sesi investigasi brutal di penjara. Tahanan perempuan menderita penyiksaan psikologis dan perampasan kebutuhan dasar, katanya.

Sementara itu, Kelompok perlawanan Palestina Hamas mengutuk perlakuan Israel terhadap tahanan wanita Palestina.

“Pelanggaran berkelanjutan terhadap tahanan wanita adalah kejahatan baru Israel terhadap tahanan kami,” kata juru bicara kelompok itu Fawzi Barhoum dalam sebuah pernyataan pada 19 Desember 2021. Seperti dilaporan Middle East Monitor (MEMO)

Dia mendesak komunitas internasional dan kelompok hak asasi manusia untuk memikul tanggung jawab mereka menghentikan kejahatan Israel terhadap tahanan perempuan Palestina.

Menurut catatan LSM Masyarakat Tahanan Palestina, saat ini ada sekitar 4.850 tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, termasuk 40 perempuan, 225 anak-anak, dan 540 tahanan administratif yang ditahan tanpa tuduhan atau pengadilan.

Bebaskan Tahanan

Sudah menjadi kewajiban kita sebagai orang-orang yang beriman  untuk merasa senasib sepenanggungan dengan saudara-saudara kita yang menjadi tahanan di penjara-penjara Israel, terutama kaum perempuannya. Aksi-aksi kita, mulai dari protes, statemen, tulisan, puisi, tatrikal hingga turut mendoakan mereka, merupakan bagian dari wujud sepenanggungan.

Memang demikianlah, orang Muslim selalu memiliki rasa dengan saudaranya, sedih karena sedihnya, senang karena senangnya. Orang muslim tidak membiarkan saudaranya, tidak juga menyerahkannya kepada musuh. Tetapi wajib peduli, memperhatikan nasibnya, membelanya dan menolongnya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan kita dalam sabdanya:

مَا مِنِ امْرِئٍ يَخْذُلُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا خَذَلَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ، وَمَا مِنِ امْرِئٍ يَنْصُرُ مُسْلِمًا فِي مَوْطِنٍ يُنْتَقَصُ فِيهِ مِنْ عِرْضِهِ وَيُنْتَهَكُ فِيهِ مِنْ حُرْمَتِهِ إِلَّا نَصَرَهُ اللَّهُ فِي مَوْطِنٍ يُحِبُّ فِيهِ نُصْرَتَهُ

Artinya : “Tidak ada seorang yang membiarkan seorang Muslim di tempat dia dihinakan kehormatannya, dan dilanggar kemuliaannya (hak-haknya), melainkan Allah pasti menghinakannya di tempat yang dia ingin mendapatkan pertolongan. Dan tidak ada seorang yang menolong seorang Muslim di tempat dia dihinakan kehormatannya dan dilanggar kemuliaannya (hak-haknya) melainkan Allah pasti menolongnya di, ketika dan tempat yang mana dia amat memerlukan pertolongan”. (HR Abu Dawud dan Ath-Thabrani).

Pada hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam menegaskan:

فُكُّوا الْعَانِيَ- يَعْنِي الأَسِيرَ- وَأَطْعِمُوا الْجَائِعَ، وَعُودُوا الْمَرِيضَ
Artinya : “Bebaskan orang yang sedang tertawan, berikanlah makan kepada orang yang sedang kelaparan, dan jenguklah orang sedang sakit”. (HR Bukhari).

Selanjutnya, disebutkan di dalam Maklumat Jama’ah Muslimin (Hizbullah) tahun 1953 tentang kewajiban membebaskan negeri-negeri terjajah.  Di antara statement itu berbunyi, “Jama’ah Muslimin (Hizbullah) tegak berdiri di dalam lingkungan kaum muslimin, di tengah-tengah antar golongan, menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan munkar. Menolak tiap-tiap fitnah penjajahan, kedzaliman suatu bangsa di atas bangsa lain dan mengusahakan ta’aruf antar bangsa-bangsa”.

Inilah masa tumbuhnya semangat jihad kaum Muslimin mempersatukan diri membela antarsesamanya, terutama membela tahanan.

Semoga Allah memberikan kekuatan dan kemudahan kepada kita kaum Muslimin dalam menjalankan amanah jihad di jalan-Nya, dalam membebaskan Al-Aqsha, dalam membela sesama kaum Muslimin, terutama dalam membebaskan para tahanan perempuan Palestina di penjara-penjara Israel. Aamiin. Mi’raj News Agency (MINA)