Kebodohan & Perpecahan

64

Ust. Taufiqurrahman, Lc. (Redaktur MINA bahasa Arab)

Islam agama ilmiyah

Agama ini tegak dengan hujjah yang nyata. Tidak ada keraguan sedikitpun akan kebenaran ajarannya. Allah sendiri yang langsung menjamin kebenaran, kesempurnaan, kemurnian dan keabadiannya hingga hari kiamat. Itulah agama Islam.

Ajarannya jernih dan menyejukkan. Sebab ia berasal dari sumber yang terjaga oleh Dzat Yang Maha Menjaga. Tidak ada yang mampu mendatangkan perubahan, penambahan ataupun pengurangan terhadapnya. Tidak ada pula yang sanggup membuat ayat semisalnya atau surat semisalnya apalagi kitab semisalnya. Itulah Al Qur’an.

Kitab mulia itu diajarkan oleh manusia yang paling mulia, jujur dan amanah. Dari lisan dan sikapnya lahir hadits-hadits yang menjelaskan dan melengkapi isi kandungan Al Qur’an. Ia mengajarkannya dan mensucikan hati mereka. Kehadirannya menjadi teladan dan rahmat bagi seluruh alam. Dialah Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Al Qur’an dan hadits yang menjadi sumber ilmu itu diajarkan olehnya kepada generasi terbaik Islam. Generasi yang adil dan terjaga dari khianat. Generasi yang Allah ridhai mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Merekalah para Sahabat.

Dua generasi berikutnya mewarisi keilmuan pendahulunya. Mereka gigih mengembarainya, menghafalnya, mendarasnya, memahaminya, mengamalkannya dan meriwayatkannya kepada para penuntut ilmu. Mereka adalah Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Semoga Allah merahmati mereka.

Begitulah arus ajaran Islam yang jernih dan murni itu mengaliri manusia di sepanjang zaman hingga hari ini dan seterusnya, tiada henti. Mereka mereguknya, menghilangkan dahaga problematika dunia dan mengobati penyakit syahwat dan syubhat di hati mereka.

Islam, akhirnya, menjadi satu-satunya agama ilmiah, murni & sempurna, yang Allah ridhai. Maka barangsiapa mencari agama selain Islam, sungguh tak akan diterima darinya segala bentuk amal & persembahan. 

Islam agama yang satu

Islam adalah agama yang satu. Allah melarang muslimin menyekutukanNya, terpecah belah dalam berIslam dan memecah belah ajaranNya (beriman kepada sebagian ajarannya dan ingkar pada sebagian lainnya). Sebaliknya Dia mewajibkan mereka mentauhidkan Allah dalam ibadah dan amal, memegang teguh agamaNya secara berjama’ah dan menjalaninya secara kaaffah (menyeluruh). 

Itulah benang merah dari semua ayat Al Qur’an yang berbicara tentang persatuan dalam Islam. Dan itulah inti dari ajaran Islam sesungguhnya. 

Hanya saja meski Allah menjelaskan hakikat agung tersebut, Dia dengan kuasa dan hikmahNya, mentaqdirkan umat Islam terpecah belah dalam berIslam dan sebagian mereka memecah belahnya. Banyak yang menyekutukanNya, mengimani hanya sebagian ajaranNya dan menyeru kepada fanatisme golongan. 

Perpecahan muslimin dengan demikian merupakan ketetapan yang tak terhindarkan, yang Dia murkai. Allah menginginkan hamba-Nya bersatu dalam menyembahNya dan mentauhidkanNya. Tapi Dia juga menghendaki (mentaqdirkan) sebagian mereka berpecah-belah dalam agamaNya dan mengingkari ajaranNya.

Yang jelas kita mengimani bahwa semua terjadi karena kehendak dan kuasaNya, namun juga tidak terlepas dari hikmah dan keadilanNya. 

Persatuan umat Islam adalah kehendak dan ketetapan syar’i sedangkan perpecahan mereka adalah kehendak dan ketetapan kauniy. Apa yang menjadi ketetapan syar’i, Allah mencintainya dan membenci mereka yang mengingkarinya. Meski demikian belum tentu hal itu terwujud. Dan apa yang menjadi ketetapan kauniy sudah pasti terwujud, meski kadang Dia membencinya.

Syubhat & syahwat dalam beragama

Ibarat pohon, persatuan umat Islam yang kuat adalah batang kokoh yang tumbuh di atas akar al i’tisham bi hablillah (berpegang teguh dengan Al Qur’ab) dan al ttiba’ lisunnati Rasulih (mengikuti sunnah RasulNya) shallallahu’alaihi wa sallam. Buahnya adalah kemuliaan di sisi Allah, kejayaan, kemenangan, kekuasaan dan kekayaan. Dan pohon itu hanya akan tumbuh subur manakala disirami ilmu dan iman dan dijaga dari hama syubhat dan syahwat.

Realitanya, kita telah dan sedang menyaksikan umat ini terpecah belah dan terperosok ke dalam keterpurukan jahiliyah modern. Permusuhan bahkan peperangan diantara umat Islam seperti tidak bisa berakhir. Kuatnya ‘ashobiyah kesukuan, kebangsaan dan politik menyebabkan masing-masing kelompok sibuk dengan kelompoknya dari pada memikirkan dan peduli pada kelompok umat Islam lainnya. Bahkan masing-masing kelompok saling curiga, berseteru bahkan saling melenyapkan. Ikatan Ukhuwah Islamiyah menjadi tidak lagi berarti, kendur bahkan terputus oleh penyakit ‘ashobiyah.

Di lain sisi, kita malu umat ini meninggalkan nilai-nilai luhur dan mulia ajaran Islam. Mereka lebih bangga mengenakan pakaian jahiliyah. Gaya hidup hedonis dan liberal menjadi simbol kemajuan budaya. Pemikiran sekuler dan pluralisme menjadi tolok ukur intelektualitas manusia.

Apa yang lantas membuat pohon persatuan itu tidak tumbuh kokoh atau ia roboh sebelum berbuah manis kejayaan bagi umat ini adalah hama syubhat dan syahwat yang menjangkitinya. Syubhat menjangkiti umat ini dalam bentuk keraguan beragama bahkan kebodohan. Sedangkan syahwat menggerogoti mereka dalam wujud wahn, alias cinta dunia dan takut mati.

Manakala umat ini beragama dengan keraguan dan kebodohan maka yang terjadi berikutnya adalah bid’ah, khurafat, kesyirikan, kekufuran, liberalisme, sekularisme dan radikalisme. Kebodohan membuahkan sikap meremehkan urusan agama ini. Bahkan sampai pada satu tahap, orang yang terjangkiti penyakit kebodohan ini merasakan ‘manisnya’ perilaku bid’ah, khurafat, pemikiran liberal dan sekular. Kebodohan juga melahirkan sikap berlebih-lebihan dalam beragama sehingga orang yang terjangkiti penyakit ini merasakan ’manisnya’ perilaku kekerasan dan radikal yang ia anut. Padahal buah yang terasa ‘manis’ itu, tanpa ia sadari membahayakan bahkan merusak keimanannya dan banyak manusia.

Sedangkan keraguan dalam beragama menyebabkan penderitanya skeptis akan ajaran Islam. Ia tidak yakin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang haq. Ia ragu akan kebenaran Islam. Hingga di satu tahap paling parah yang diakibatkan karena penyakit ini adalah murtad dari Islam.

Dan tatkala penyakit wahn menyerang tubuh umat Islam, maka bahaya yang muncul adalah tersebarnya penyakit-penyakit hati, penyakit gaya hidup hedonis, fakhisyah (perilaku keji), amoral, korupsi, gila jabatan, candu kuasa bahkan pembunuhan.

Penyakit-penyakit yang disebabkan hama syubhat dan syahwat itu pada akhirnya berujung pada ‘ashabiyah, fanatisme golongan. Ia merusak sendi-sendi ukhuwah Islamiyah dan melemahkan kekuatan umat Islam.

Obat dari segala macam penyakit itu adalah Ilmu dan Iman. Pohon persatuan umat hanya akan tumbuh kuat disirami Ilmu dan Iman. Satu kebutuhan yang sangat dan selalu mendesak bagi umat ini adalah menuntut ilmu.

Ilmu bekerja dengan menjaga akal tetap lurus sesuai dengan fitrahnya dan mensucikan hati dari segala penyakit hati. Kedua fungsi tersebut dapat bekerja beriringan dan saling memberi dampak positif bagi penuntutnya manakala diraih dengan jalan yang sesuai sunnah dan ikhlas karena Allah Ta’ala. Dengan dua syarat itu ilmu dapat berbuah manis dalam wujud pemahaman yang baik dan benar tentang Islam, keyakinan yang kuat, rasa cinta mendalam, amal yang konsisten serta kepribadian yang mulia. Buah manis ilmu itu pun dapat dinikmati umat seluas-luasnya dan menyehatkan akal, budi pekerti dan hati mereka.

Bila salah satu saja dari dua syarat itu tidak terpenuhi, tidak ada jaminan ilmu akan bekerja sesuai fungsinya. Bisa saja penuntutnya memahami kebenaran tapi riya melemahkan keyakinannya, menghambarkan cintanya, menghijabinya dari amal shalih serta mempersingkat usia konsistensinya dalam beramal shalih.

Bisa saja hatinya tampak ikhlas karenaNya namun kekeliruannya untuk berittiba’ dengan Sunnah membekukan pikirannya, merusak keyakinannya, mengaburkan cintanya, menjerumuskannya dalam kekakuan amal hingga membuat keras amalnya.

Ilmunya pun berbuah pahit baginya bahkan bagi orang lain. Ia berilmu tapi menyembunyikan kebenaran, merubah-ubah ayat-ayat Allah, menukarnya dengan harga yang murah, menyeru manusia kepada kepentingan duniawinya, mengajak kepada pintu-pintu Jahannam, memerintahkan yang munkar, melarang yang ma’ruf, menebar kebencian, menyebar permusuhan dan adu domba serta merusak ukhuwah.

Maka tak heran Allah mengungkap mengapa Bani Israel berpecah belah dan terpuruk dalam murka Allah justru saat telah datang ilmu dan bayyinaat (bukti-bukti yang nyata) kepada mereka. Jawabannya adalah karena kedengkian dan cinta dunia di hati mereka. Fanatisme ras serta cinta duniawi membuat mereka menutupi kebenaran akan kenubuwwahan Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam, memelintir bukti tentangnya, memperjualbelikannya, memusuhi mereka yang beriman kepadanya serta mengajak orang kafir padanya.

Maka dalam ilmu, ikhlas dan ittiba’ harus beriring sejalan, bergandeng serempak dan bergerak harmoni. Bagi penuntutnya yang ikhlas dan ittiba’, ilmu mengarahkannya pada jalan yang lurus, jalan yang Dia beri nikmat. Bagi umat, ilmunya mengajak pada ukhuwah Islamiyah dan persatuan. (L/RA 02)