Umrah Pasca Pandemi, Catatan Perjalanan Umrah Syawal 1443 (Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur)

15

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ (البقرة [٢]: ١٥٨)

“Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 158)

Para mufasir menjelaskan ayat di atas, bahwa kaum Muslimin pasti akan berhasil membebaskan kota Makkah, karena di wilayah itu terdapat tempat-tempat dan simbol syiar Islam, yakni ibadah haji yang menjadi rukun Islam kelima.

Sementara kalimat “tidak ada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya” bertujuan untuk menghilangkan keragu-raguan kaum Muslimin tentang mengerjakan Sa’i, karena kaum Musyrikin juga mengerjakan Sa’i dalam ibadah mereka dan di antara Shafa dan Marwa masih terdapat berhala Manata yang besar dan menakutkan. Seakan-akan apa yang dikerjakan kaum Musyrikin itu tidak boleh dilakukan oleh kaum Muslimin dan mereka akan berdosa bila mengerjakannya. Jadi harus dipahami bahwa Sa’inya kaum Musyrikin berbeda dengan kaum Muslimin.

Mengerjakan Sa’i itu adalah perwujudan dari keimanan kepada Allah serta kepatuhan pada perintah-Nya, bukan meniru dan mengikuti kaum Musyrikin.

Di akhir ayat tersebut ditutup dengan “Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui” maksudnya adalah, janganlah ragu-ragu berbuat kebaikan, karena semua amal perbuatan manusia, berupa ibadah dan amal shaleh akan dibalas dengan pahala berlipat ganda oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Umrah berasal dari kata i’timar yang berarti ziarah. Umrah disebut juga dengan haji kecil. Umrah atau haji kecil adalah ziarah ke baitullah guna melakukan serangkaian ibadah dengan rukun, syarat, wajib yang telah ditentukan.

Berbeda dengan haji, umrah dapat dilaksanakan sewaktu-waktu tanpa menunggu bulan Dzulhijjah. Itulah mengapa banyak jamaah yang belum bisa menunaikan ibadah haji, mereka menjadikan umrah sebagai alternatif.

Mengenai keutamaan umrah, sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Masud, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam bersabda:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ (رواه احمد)

“Ikutkanlah umrah kepada haji, karena keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. Ahmad).

Indonesia merupakan negara terbesar dalam mengirimkan jamaah haji dan umrahnya sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan Indonesia memiliki prosentase penduduk Muslim terbesar jika dibandingkan negara muslim lainnya di dunia. Setidaknya ada 200.000 umat Islam Indonesia menunaikan ibadah haji setiap tahunnya dan sekitar 700.000 – 1.200.000 umat Islam Indonesia melaksanakan umrah setiap tahun di masa sebelum pandemi.

Namun, sejak pandemi Covid-19 melanda dunia di awal 2020 silam, ibadah haji dan umrah ikut terdampak karenanya. Dari laporan media, sepanjang tahun 2020, Kerajaan Saudi menutup semua kegiatan ibadah umrah. Pada saat Ramadhan, Kerajaan juga membatasi kegiatan masjid dan melarang buka bersama. Sementara untuk haji, Saudi hanya mengizinkan 1.500 orang saja dari kuota normal dua juta jamaah. Kota Makkah dan Madinah menjadi sepi, karena kunjungan para jamaah yang berkurang sangat drastis.

Sementara Pemerintah Indonesia sendiri secara resmi membatalkan keberangkatan seluruh kegiatan umrah sejak 2 Juni 2020. Barulah pada 8 Januari 2022, keberangkatan umrah dibuka kembali seiring dengan pelonggaran yang dikeluarkan Kerajaan Saudi bagi warga negara Indonesia.  Artinya, hampir dua tahun sudah umat Islam Indonesia tidak bisa menunaikan ibadah haji dan umrah.

Meski Pemerintah Saudi saat ini sudah melonggarkan peraturan umrah dan haji, dengan tetap menerapkan protokol Kesehatan ketat, namun antusiasme jamaah, khususnya dari Indonesia, untuk dapat melaksanakan ibadah umrah sangat besar. Penulis yang baru saja kembali ke Tanah Air selepas melaksanakan umrah pada 20-28 Mei 2022, menyaksikan sendiri bagaimana ramainya kota Makkah dan Madinah yang penuh oleh jamaah umrah.

Anggota Komite Nasional Penyelenggaraan Ibadah Haji, Umroh, dan Ziarah Kerajaan Saudi, Saeed Bahashwan mengatakan, sejak dicabutnya aturan karantina dan bebas PCR bagi jamaah umrah, terjadi peningkatan jamaah umrah sangat signifikan. Hal itu jelas berdampak langsung terhadap pemulihan ekonomi, dengan meningkatnya tingkat hunian hotel, peningkatan kegiatan komersial dalam hal transportasi, restoran, belanja dan sektor jasa lainnya di kota suci Makkah dan Madinah.

Sementara data yang dihimpun Kementerian Agama RI, dalam periode Januari hingga awal Maret 2022 saja, tercatat sudah 21.460 jamaah umrah Indonesia yang berangkat ke Tanah Suci. Jumlah itu diperkirakan akan terus bertambah signifikan seiring pemerintah Saudi mencabut aturan keharusan karantina dan tes PCR bagi jamaah umrah.

Antusiasme umat Islam untuk dapat melaksanakan ibadah umrah dan haji tahun ini kembali membara. Penerbangan dari dan ke Arab Saudi setiap harinya penuh oleh para jamaah umrah. Denyut nadi ibadah dan ekonomi di masjidil Haram, Masjid Nabawi dan sekitarnya juga berangsur kembali normal seperti halnya sebelum pandemi.

Kebijakan Saudi sendiri beberapa tahun terakhir juga mengalami perubahan signifikan di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohamad bin Salman. Kaum wanita diberi kelonggaran untuk dapat beraktifitas di luar rumah. Mereka sekarang boleh menyetir mobil sendiri tanpa harus didampingi mahramnya. Mereka juga dipekenankan menjadi karyawan di beberapa tempat pelayanan publik, hingga melakukan aktifitas perniagaan. Hal itu berdampak nyata bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi Saudi sendiri dan negara-negara sekitarnya.

Pesan Persatuan dalam Ibadah Umrah

Setiap amalan ibadah yang dijalankan murni karena Allah Subhanahu wa Ta’ala, pasti akan mendatangkan banyak hikmah bagi pribadi yang menunaikannya, juga bagi umat Islam secara umum. Hikmah sendiri artinya makna yang terkandung dari sebuah peristiwa yang dapat diambil sebagai pelajaran berharga, hingga mendatangkan manfaat dan hal-hal positif lainnya.

Dalam ibadah umrah, umat Islam berbagai negara, berbagai suku, beragam budaya, dan bermacam-macam etnis, dan bahasa, semuanya melaksanakan ibadah bersama, di tempat yang sama, dengan mengenakan pakaian yang sama, dan aturan yang sama pula. Hal itu jelas akan menumbuhkan rasa persaudaraan dan persatuan umat, tanpa melihat bangsa, ras, golongan, dan perbedaan lainnya. Perbedaan yang ada justru akan membuat ikatan persaudaraan sesama umat Muslim seluruh dunia semakin kuat.

Semangat persaudaraan dan persatuan yang didapat ketika di tanah suci, kiranya tetap lestari hingga kembali ke tanah airnya masing-masing. Bekal yang sangat berharga itu, diharapkan akan mampu merajut tali kasih sayang, membangun solidaritas antar sesama umat, memupuk empati antar sesama umat lain yang masih berada dalam penindasan dan penjajahan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal scholar.harvard.edu, mengenai dampak sosial para jamaah haji dan umrah setelah mereka kembali ke tanah airnya menarik untuk disimak. Mereka, para alumni haji dan umrah banyak berperan dalam membangun perdamaian, baik di tingkat regional maupun global, dan mampu membangun kesetaraan dan keharmonisan antar pemeluk agama yang berbeda.

Pengalaman yang luar biasa, sebagai buah dari perjalanan jasmani dan rohani dalam ibadah umrah tentu menjadi sebuah pencerahan jiwa yang dimanifestasikan dalam keyakinan yang kuat dan amal shaleh, baik untuk diri sendiri maupun bagi masyarakat dan lingkungannya.

Napak Tilas Perjuangan Rasulullah ﷺ dalam Rangkaian Umrah

Dalam rangkaian umrah, para jamaah diagendakan berkunjung ke beberapa tempat bersejarah yang merupakan napak tilas perjuangan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam dan para sahabat-sahabatnya yang mulia.

Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam dengan segenap daya upaya, dan perjuangan tanpa lelah yang beliau lakukan, mampu merubah peradaban masyarakat Makkah yang semula berada pada masa kegelapan, menjadi masyarakat yang berperadaban tinggi, memiliki tauhid yang murni dan akhlaq yang terpuji sehingga layak rasanya jika Ka’bah dan Masjidil Haram berada di tengah-tengah mereka.

Ka’bah hendaknya bukan hanya menjadi kiblat dalam ibadah shalat saja, tetapi juga merupakan kiblat dalam aspek kehidupan sosial masyarakat, terutama dalam memantapkan tauhid dan persatuan umat. Napak tilas kisah perjuangan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam dalam membangun peradaban di kota Makkah itu juga haruslah menjadi referensi utama bagi umat Islam.

Ka’bah sebagai simbol persatuan dapat dipetik dari kisah Muhammad Al-Amin dalam merajut persaudaraan di antara kabilah-kabilah yang berseteru ketika mereka saling berebut hendak meletakkan Hajar Aswat ke tempat asalnya sebelum beliau diangkat sebagai Rasul.

Ka’bah sebagai simbol perjuangan juga bisa dipetik dari kisah pembebasan kota Makkah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam bersama para sahabatnya, kaum Muhajirin dan Anshar yang bersatu padu, berjamaah dan memiliki loyalitas (ketaatan) yang tinggi kepada Rasulullah pada tahun kesembilan hijriyah.

Pembebasan kota Makkah dilakukan secara santun, tanpa pertumpahan darah, tanpa kontak senjata, tanpa ada jiwa yang terbunuh sia-sia. Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam juga memberi maaf kepada para pembesar-pembesar Quraish dan masyarakat seluruhnya yang mau bergabung dan patuh dalam Islam.

Maka, perjuangan dalam rangka mensyiarkan nilai-nilai Islam ke seluruh penjuru negeri bisa dilakukan dengan berkiblat kepada perjuangan Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam dalam membebaskan kota Makkah, Masjidil Haram dan Ka’bah dengan santun dan damai.

Hal ini bukan berarti tidak boleh mengambil rujukan kepada wilayah selain Makkah, yang terkadang harus dilakukan dengan perang untuk membela diri, tetapi dalam hal pembangunan akidah, perjuangan dakwah dan persatuan, Makkah, Masjidil Haram dan Ka’bah bisa menjadi referensi utama.

Dari perjalanan spiritual umrah ini, penulis mengajak umat Islam semua, mari tingkatkan semangat dalam berdakwah, perkuat ukhuwah antar sesama umat Islam dan tumbuhkan kepedulian kepada saudara-saudara kita yang masih terjajah dan terdzalimi di berbagai negeri, terutama pembebasan Palestina dan Masjidil Aqsa.

Seiring dengan menjelang berakhirnya pandemi Covid-19, umat kembali beraktivitas dengan normal, perekonomian kembali pulih, ibadah kembali bergairah dan perjuangan kembali berlanjut, hingga keadilan benar-benar tegak di muka bumi, kedamaian dirasakan oleh seluruh umat manusia, Masjidil Aqsa segera terbebas dan Palestina merdeka dari penjajahan Zionis Israel.

والله أعلمُ ﺑﺎ ﻟﺼﻮﺍﺏ

Mi’raj News Agency (MINA)