Aktivitas UAR di Semeru, Evakuasi Jenazah, Rekonstruksi Hingga Trauma Healing

63


Lumajang – Ukhuwah Al Fatah Rescue atau UAR, lembaga kemanusiaan khusus di bidang kebencanaan, menurunkan lebih dari 50 relawan terkait  bencana meletusnya Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur.

Berbagai aktivitas dilakukan oleh para relawan guna meringankan beban warga terdampak meletusnya Gunung Semeru tersebut.

Koordinator Lapangan UAR, Superna mengatakan pada MINA, Kamis (6/1), UAR melakukan banyak aksi di lapangan salah satunya evakuasi jenazah yang tertimbun pasir yang guguran Semeru.

“Meskipun evakuasi secara resmi sudah dihentikan oleh pemerintah, namun kami membantu evakuasi jenazah mandiri yang dilakukan oleh warga setempat,” ujar Superma yang sudah malang melintang di dunia kebencanaan ini.

“Ketika warga meminta kami untuk evakuasi jenazah dua orang warga yang tertimbun pasir Semeru, kami segera bergegas untuk melakukan evakuasi bersama warga,” katanya.

Superna bersama relawan UAR lainnya bergegas ke lokasi dan memulai proses evakuasi, beberapa saat kemudian ditemukan dua jenazah yang tertimbun pasir dan masih berada di dalam truk yang mereka kendarai. Diketahui mereka berdua adalah seorang ayah dan anaknya yang saat meletusnya Semeru sedang bekerja di pertambangan pasir.

“Posisi mereka sedang duduk di dalam truk, mereka terjepit dashboard truk sehingga mereka tidak bisa keluar saat kejadian itu,” terang Superna.

Pria paruh baya ini juga menjelaskan, selain membantu evakuasi jenazah yang tertimbun, relawan UAR juga melakukan rekonstruksi beberapa rumah warga serta membantu proses pembangunan Masjid di lokasi bencana.

“Kami melakukan rekonstruksi beberapa rumah, ada rumah warga yang memang sangat membutuhkan untuk diperbaiki sehingga para relawan sebagian kami kerahkan untuk memperbaiki rumahnya tersebut,” kata Superna.

Relawan yang pernah bertugas di gempa Lombok dan Palu ini menjelaskan selain merekonstruksi rumah warga, mereka juga menyiapkan perealatan rumahnya, mulai dari alat memasak hingga perlengkapan lainnya.

“Kami siapkan juga keperluan rumah mereka, hingga peralatan yang diperlukan kami siapkan,” katanya.

Selain mengirimkan tim rekonstruksi, UAR juga mengirimkan relawan khusus untuk trauma healing. Tim ini bertugas untuk memberikan healing kepada para warga yang terdampak letusan Semeru. Mulai dari mengajar mengaji untuk anak-anak hinggamemberikan pengobatan tradisonal berupa bekam dan pijat.

“Relawan untuk trauma healing ada tiga orang, satu orang muslimin dan 2 orang muslimat, mereka bahkan sudah beberapa minggu di sini dan selalu banyak warga yang berdatangan dan meminta dibekam oleh tim kami,” lanjut Superna.

Ada hal menarik dari tim trauma healing ini, salah seorang relawan muslimat UAR mendaftarkan diri ketika ada panggilan untuk beramal shaleh ke Semeru, padahal sebulan ke depan relawan muslimat ini akan melangsungkan pernikahan.

“Ini yang menarik, relawan muslimat UAR ini akan segera menikah dalam waktu dekat, namun itu tidak menyurutkan niatnya untuk membantu saudaranya yang terkena musibah, padahal di lokasi bencana seperti ini segala sesuatu bisa terjadi,” ujarnya.

“Panggilan kemanusiaan untuk menolong sesama yang sedang dalam kesusahan. Inilah yang menjadi motivasi kami untuk selalu siap diberangkatkan ketika ada bencana di manapun berada,” pungkasnya. (A/nia/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)