Amin Nuroni: Enam Cara Tumbuhkan Cinta Sesama Muslim

22


Al-Muhajirun, Lampung Selatan, MINA – “Ada enam cara untuk menumbuhkan cinta antar sesama umat Islam,” demikian Waliyul Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung, Amin Nuroni, pada Taklim Pekanan Masyarakat Kampung Al-Muhajirun di Masjid An-Nubuwwah Komplek Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah, Selasa (4/10) malam.

“Pertama dengan cara mengatakan kalau kita cinta terhadap saudara kita karena Allah saat saling bertemu, dengan saling mengungkapkan rasa cinta karena Allah ini akan semakin tumbuh cinta terhadap saudara sesama muslim,” katanya.

Cara kedua dengan mengucapkan salam saat bertemu. “Di Al-Muhajirun ini masih ada Insya Allah karena salam masih banyak membudaya diantara kita. Maka tetap hidupkan salam antar sesama ini baik kepada yang sudah dikenal maupun yang belum,” tegasnya.

Adapun cara ketiga yaitu dengan sering mengunjungi orang yang dicintai karena Allah. “Bukan karena balas budi tapi karena akidah karena iman, budaya saling mengunjungi ini harus terus kita jaga, pasti cinta semakin tumbuh diantara sesama kita,” ujarnya.

Keempat cintai dan benci seseorang dengan cara yang wajar. “Cintai kekasihmu sewajarnya dan benci sewajarnya saja, sebab kadang-kadang kita ini mentang-mentang ‘koncoisme’ dekatnya luar biasa tapi begitu tidak suka nggak mau dekat, kalau dengan yang akrab salam, sementara dengan yang tidak suka tidak salam,” katanya.

Selanjutnya cara kelima dengan cara saling memberikan hadiah dalam beberapa kesempatan. “Saling memberi hadiah bagian dari hal yang bisa menumbuhkan rasa cinta sesama,” katanya.

Cara keenam yaitu giat menjalankan keimanan dan melaksanakan ketaatan serta menjauhi kemaksiatan.

Dengan enam cara ini menurut Amin Nuroni yang juga pengisi tetap di Radio Silaturahim ini, Insya Allah akan semakin tumbuh cinta terhadap sesama umat Islam.

Pada akhir penyampaian Amin menegaskan bahwa Ukhuwah Islamiyyah adalah teras Jama’ah Muslimin (Hizbullah).

“Ukhuwah dari kata Akhun, artinya saudara kandung. Dalam kalimat saudara kandung itu ada tanggungjawab. Sedihnya dia sedihnya kita, dianiya dia berarti kita juga dianiaya, kesulitannya berarti kesulitan kita juga. Jangan sampai kita mengaku saudara, tapi apakah di balik saudara itu ada sambung rasa diantara kita atau jangan sampai hanya simbolisasi saja,” tegasnya.(L/B03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA).