Menggunjing Sesama Muslim Seperti Memakan Bangkai

24

Kebumen – Orang yang beriman yang imannya tumbuh dalam hatinya akan menjadi bersaudara dengan orang beriman lainnya. Hal itu seperti yang terkandung dalam Alquran ayat ke 10 surat Al-Hujurat.

Demikian disampaikan oleh Imamul Muslimin Yakhsyallah Mansur pada kajian Subuh yang mengangkat tema Urgensi Ukhuwah Islamiyah, di Masjid Al-Muttaqin, Gombong, Kabupaten Kebumen, Ahad (23/10).

“Dalam bahasa Arab kata ‘akhun’ yang berarti persamaan dan keserasian dalam banyak hal. Karena persamaan dalam keturunan, persamaan dalam sifat dan dalam kepercayaan dapat mengakibatkan persaudaraan,” katanya.

Menurutnya, untuk merekatkan persaudaraan umatnya, agama Islam dibangun dengan berbagai faktor kesamaan. Yaitu, kesamaan akidah, kesamaan ibadah, kesamaan teladan, kesamaan sejarah, kesamaan pedoman, kesamaan mamhaj atau jalan, kesamaan bahasa dan kesamaan pimpinan.

“Pada dasarnya umat Islam mempunyai pemimpin yang sama yaitu Rasulullah SAW. Setelah itu wajib mengangkat pemimpin setelahnya sebagai penggantinya dan imam yang mengatur umat Islam dengan syareat Allah,” terang Yakhsyallah.

Dijelaskan, dalam rangka menjaga persaudaraan atau ukhuwah, Allah melarang perbuatan yang akan menyebabkan hilangnya ukhuwah. Seperti, mengolok-olok, mencela, memanggil dengan panggilan buruk, banyak prasangka, cari-cari kesalahan dan menggunjing, sebagaimana diterangkan dalam Al-Hujurat ayat 11 dan 12.

“Pada ayat tersebut menyebutkan, bahwa menggunjing sesama muslim itu seperti memakan daging bangkai mayatnya, maka termasuk dosa besar,” kata Yakhsyallah.

Pelajaran dari ayat tersebut dan ayat lainnya, agar tidak mudah menganggap orang beriman sebagai orang kafir. Bahkan disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Al-Bukhari, bahwa menuduh orang lain sebagai fasik dan kafir, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya sendiri jika tuduhannya tidak benar.

“Bahkan bukan hanya dilarang asal menuduh pada orang lain, ayat tadi juga memerintahkan agar orang beriman memiliki rasa tanggung jawab untuk mendamaikan dua golongan orang beriman yang terlibat peperangan atau pertengkaran,” tegas Yakhsyallah.

Kajian Subuh yang disampaikan Imam Yakhsyallah Mansur merupakan rangkaian dari kegiatan Tablig Akbar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jawa Tengah bagian Selatan.

Tablig Akbar menjadi ajang silaturahmi antara umat Islam yang dapat mempererat jalinan ukhuwah Islamiyah ini, terselenggara dengan dukungan jejaring Ponpes Al-Fatah se-Indonesia, Syubban dan Fatayat Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Aqsa Working Group (AWG), Kantor Berita MINA dan Ukhuwah Al-Fatah Rescue.  (L/B04/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Artikel ini telah tayang di Minanews.net dengan judul Imam Yakhsyallah: Menggunjing Sesama Muslim Seperti Memakan Bangkai Mayat, Klik link berikut untuk baca selengkapnya: https://minanews.net/imam-yakhsyallah-menggunjing-sesama-muslim-seperti-memakan-bangkai-mayat

Kantor Berita MINA – Damai di Palestina, Damai di Dunia

Imam Yakhsyallah: Menggunjing Sesama Muslim Seperti Memakan Bangkai Mayat
Sunday, 23 October 2022 – 05:25 WIB

Imam Yakhsyallah Mansur menyampaikan tausiyah subuh di Masjid Al-Muttaqin, Gombong Kebumen (Foto: Zaenal MINA)

Kebumen, MINA – Orang yang beriman yang imannya tumbuh dalam hatinya akan menjadi bersaudara dengan orang beriman lainnya. Hal itu seperti yang terkandung dalam Alquran ayat ke 10 surat Al-Hujurat.

Demikian disampaikan oleh Imamul Muslimin Yakhsyallah Mansur pada kajian Subuh yang mengangkat tema Urgensi Ukhuwah Islamiyah, di Masjid Al-Muttaqin, Gombong, Kabupaten Kebumen, Ahad (23/10).

“Dalam bahasa Arab kata ‘akhun’ yang berarti persamaan dan keserasian dalam banyak hal. Karena persamaan dalam keturunan, persamaan dalam sifat dan dalam kepercayaan dapat mengakibatkan persaudaraan,” katanya.

Menurutnya, untuk merekatkan persaudaraan umatnya, agama Islam dibangun dengan berbagai faktor kesamaan. Yaitu, kesamaan akidah, kesamaan ibadah, kesamaan teladan, kesamaan sejarah, kesamaan pedoman, kesamaan mamhaj atau jalan, kesamaan bahasa dan kesamaan pimpinan.

“Pada dasarnya umat Islam mempunyai pemimpin yang sama yaitu Rasulullah SAW. Setelah itu wajib mengangkat pemimpin setelahnya sebagai penggantinya dan imam yang mengatur umat Islam dengan syareat Allah,” terang Yakhsyallah.

Dijelaskan, dalam rangka menjaga persaudaraan atau ukhuwah, Allah melarang perbuatan yang akan menyebabkan hilangnya ukhuwah. Seperti, mengolok-olok, mencela, memanggil dengan panggilan buruk, banyak prasangka, cari-cari kesalahan dan menggunjing, sebagaimana diterangkan dalam Al-Hujurat ayat 11 dan 12.

“Pada ayat tersebut menyebutkan, bahwa menggunjing sesama muslim itu seperti memakan daging bangkai mayatnya, maka termasuk dosa besar,” kata Yakhsyallah.

Pelajaran dari ayat tersebut dan ayat lainnya, agar tidak mudah menganggap orang beriman sebagai orang kafir. Bahkan disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Al-Bukhari, bahwa menuduh orang lain sebagai fasik dan kafir, maka tuduhan itu akan kembali pada dirinya sendiri jika tuduhannya tidak benar.

“Bahkan bukan hanya dilarang asal menuduh pada orang lain, ayat tadi juga memerintahkan agar orang beriman memiliki rasa tanggung jawab untuk mendamaikan dua golongan orang beriman yang terlibat peperangan atau pertengkaran,” tegas Yakhsyallah.

Kajian Subuh yang disampaikan Imam Yakhsyallah Mansur merupakan rangkaian dari kegiatan Tablig Akbar Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Jawa Tengah bagian Selatan.

Tablig Akbar menjadi ajang silaturahmi antara umat Islam yang dapat mempererat jalinan ukhuwah Islamiyah ini, terselenggara dengan dukungan jejaring Ponpes Al-Fatah se-Indonesia, Syubban dan Fatayat Jama’ah Muslimin (Hizbullah), Aqsa Working Group (AWG), Kantor Berita MINA dan Ukhuwah Al-Fatah Rescue.  (L/B04/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)