Prof. Azyumardi Azra, Guru dan Temanku

19

Imaam Yakhsyallah Mansur, Pembina Jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah, Indonesia

Saya adalah salah satu dari ribuan muridnya yang sempat mencicipi kejernihan dan kedalaman samudera ilmu Prof Azyumardi Azra. Dalam usia yang sudah tidak lagi muda, yaitu 40 tahun, saya melanjutkan kuliah S2 di Sekolah Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, yakni pada tahun 1999 silam.

Saat itu, Prof Azyumardi  sudah menjabat sebagai rektor.  Saya mengambil program Pendidikan Islam dan beliau mengampu mata kuliah Perkembangan Pendidikan Modern Islam di Indonesia. Dari diskusi-diskusi kelas dan beberapa kali bertemu di ruang rektorat untuk menyerahkan tugas, saya menangkap kepribadian beliau yang hingga saat ini masih terkenang selalu:

Sangat sederhana
Selama mengajar satu semester di kelas kami, jas yang beliau pakai selalu sama. Beliau selalu memakai jas kotak-kotak berwarna kecoklat-coklatan. Saya masih terbayang bagaimana beliau sangat zuhud dan berwibawa di hadapan mahasiswanya dengan jas tersebut.

Dengan jas itu pula, saya sering bertemu beliau ketika bersama-sama hadir dan menjadi peserta seminar dan pertemuan keislaman yang berskala nasional maupun internasional.

Tegas, egaliter
Prof Azyumardi adalah sosok pendidik yang tegas, juga egaliter. Pernah suatu ketika, beliau marah karena para mahasiswa tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan yang diberikan. Saat itu, beliau bertanya tentang perbedaan mendasar pendidikan pada dua organisasi Islam besar di Indonesia, yakni NU dan Muhamadiyyah. Waktu itu, semua mahasiswa tidak ada yang mampu menjawab.

Saya yang baru saja selesai membaca sejumlah literatur tentang kedua lembaga besar itu mencoba menjawabnya. Alhamdulillah, beliau membenarkan jawaban saya. Maka, redalah kemarahan beliau dan perkuliahan pun dilanjutkan.

Sangat teliti membaca makalah mahasiswa
Ketika saya menyerahkan makalah sebagai bagian dari tugas yang beliau berikan, saya yakin bahwa makalah yang saya serahkan sudah baik. Namun ternyata, makalah itu banyak sekali catatannya. Ternyata, beliau mampu melihat kekurangan-kekurangan pada makalah itu, yang sama sekali saya tidak sadari sebelumnya.

Disiplin dalam mengajar
Walaupun Prof Azzumardi adalah orang yang sangat sibuk dengan berbagai kegiatan di dalam dan luar negeri, namun ketika tiba waktu mengajar, belau selalu hadir di kelas tepat waktu. Sangat jarang saya dapati beliau terlambat masuk kelas ketika jam pelajarannya.

Menghargai pendapat
Prof Azyumardi selalu mengajak mahasiswa terus berpikir. Di sisi lain, beliau sangat menghargai pendapat mahasiswanya walaupun pendapat yang dikemukakan berbeda dengan pemikirannya.

Ketika dalam sebuah pertemuan dengan beliau, saya memaparkan konsep khilafah non-politik yang saya pahami.  Ternyata paparan saya berbeda dengan apa yang beliau pahami. Prof Azyumardi mengatakan, konsep yang saya paparkan adalah nostalgia sejarah. Namun beliau tetap menghargai, tanpa menyalahkan dan menghakimi paparan saya.

Kini Prof Azyumardi Azra telah tiada. Bangsa Indonesia kehilangan sosok intelektual Muslim yang sangat berwibawa. Selamat jalan Prof, bagi saya, Engkau adalah guru dan sekaligus teman yang sangat mengesankan.

Semoga ilmumu menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala, walau telah berada di pangkuan Rabb-mu.

Terlepas dari anggapan sebagian orang bahwa beliau sebagai kontributor Jaringan Islam Liberal (JIL), saya bersaksi bahwa beliau adalah orang baik. Wallaahu a’lam bis-shawab.

Ditulis di tengah perjalanan menyusuri Kota Jakarta yang semakin ramai.

(A/P2/P1)