Ustadz Khozin: Pemimpin Harus Punya Empat Langkah Lima Sempurna

23


Al-Muhajirun, Lampung Selatan – Pemimpin memerlukan asupan ‘makanan empat sehat lima sempurna’ bagi kesehatan iman, sehingga bisa sukses menjadi pemimpin. Demikian dikatakan penasehat Jama’ah Muslimin (Hizbullah) Wilayah Lampung Ustadz Khozin pada Taklim rutin pekanan di Masjid An-Nubuwwah Komplek Ponpes Shuffah Hizbullah dan Madrasah Al-Fatah, Al-Muhajirun Negararatu Natar Lampung Selatan, Selasa (13/9) malam.

“Konsolidasi diri (sebagai pemimpin), saya umpamakan makanan, empat sehat lima sempurna. Kalau makanan 4 cukup sehat, lebih bagus akan sempurna ditambah satu lagi. Makanan hati sama, supaya sempurna juga memerlukan empat menu makanan, ditambah yang kelima agar sempurna,” katanya.

Menurutnya, ada empat langkah  dan lima sempurna yang jika jika dilakukan pemimpin, maka sehatlah imannya dan akan diberikan kesuksesan dalam memimpin.

“Pertama, meneliti. Penggembala (pemimpin) harus meneliti makmumnya supaya faham, mana gembalaannya yang nakal, mana yang gudiken. Kalau nakal harus bagaimana supaya nggak nakal, kalau gudiken bagaimana obatnya, perlukah dipisahkan terlebih dahulu dari yang lain,” katanya.

Yang kedua sesudah meneliti, baru kemudian menata. Umat juga begitu, kalau pemimpin tidak bisa meneliti dan menata maka akan remuk umatnya.

“Kalau nggak ngerti menata, kalian tata menurut kemauan sendiri, maka akan hancur, akan sulit. Dan ini (menata) tidak ada berhentinya sampai mati. Menata manusia itu hatinya yang ditata maka perlu kehati-hatian. Sementara hatinya macam-macam. Maka kita tata umat sesuai dengan hasil penelitian masing-masing gembalaan,” katanya.

Langkah berikutnya yang ketiga, pemimpin perlu menertibkan. Bagaimana hubungan struktur dari bawah sampai ke atas harus tertib berjalan sesuai tugas dan fungsinya, sehingga jarum jatuh pun di tempatnya, pemimpin tahu karena tertib pelaporan sesuai struktur dari bawah ke atas. Dan tentu ada caranya masing-masing bagaimana menertibkan diri, keluarga lalu umat.

Adapun yang keempat, menasehati. “Setelah diteliti, ditata, ditertibkan, maka kemudian dinasehati. Kalau ada makmum yang tidak taat, dipangil, ditegur, dinasehati. Nasehat diperlukan pemimpin terhadap makmum, sebagai bukti pemimpin peduli terhadap makmumnya,” ujarnya.

Kalau empat hal ini berjalan dengan baik, maka akidah pribadi keluarga umat akan sehat. Namun akan lebih sehat lagi jika tambah satu, yaitu menuntun. “Lahirnya akidah karena taat tertib disiplin, kalau tidak begitu mana bisa. Dengan menuntun iman akan berkembang. Jangan dijadikan beban saat makmum nggak mau pada taat, bahkan bandel, terus saja kita tuntun karena kita akan ditanya oleh Allah nanti,” katanya.

Penghayatan ini kata Khozin, telah dikaji sesuai dengan dalil-dalil yang ada. “Selama di tengah-tengah umat ada pengamalan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai yang diamalkan oleh Rasulullah, maka di situ baru Allah akan karuniakan cinta pada Iman.

Sementara orang yang berfirqoh-firqoh (bercerai-berai) tidak berada di tengah-tengah Rasulullah. Yang menyimpang, tidak ada di tengah Rasulullah.

“Orang yang dikaruniai iman akan menjadikan Iman sebagai perhiasan hati. Kalau hanya ada sedikit iman di hati maka yang akan mendominasi isi hati adalah selainnya, jelas akan mendapatkan kesulitan dalam hidup. Jadi segala sesuatu itu harus didasari iman, akidah,” tegasnya. (L/B03/P1)

Mi’raj News Agency (MINA).