Khutbah Jumat: Delapan Penghalang Jihad,

15

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah ke-1:

إِنّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه. اَللهُمّ صَلّ وَسَلّمْ عَلى مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وِأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن. يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.امابعد. قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

Jamaah Jumuah yang Dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Alhamdulillah, segala puji dan syukur marilah senantiasa kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Banyak nikmat yang telah diberikan oleh Allah, diantaranya nikmat iman, Islam, sehat dan nikmat luang, sehingga pada siang ini kita bisa melangkahkan kedua kaki ke rumah Allah, masjid tercinta ini.

Semoga ibadah Jumat yang kita laksanakan ini, diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebagai amal shaleh yang menjadi sebab kita mendapatkan rahmat-Nya dan diselamatkan dari siksa api neraka.

Melalui mimbar khutbah ini, khatib mengingatkan kepada diri sendiri, keluarga dan para jamaah Jumuah semuanya, marilah kita tingkatkan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sebenar-benar taqwa, yakni senantiasa melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-larangan-Nya.

Jamaah Jumuah yang Dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Pada kesempatan khutbah yang singkat ini, marilah kita merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala Q.S. At-Taubah [9]: 24.

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ (التوبة[٩]: ٢٤

“Katakanlah (Muhammad), “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”

Menurut Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, ayat di atas merupakan peringatan kepada orang-orang beriman untuk tidak mencintai dunia secara berlebihan, apalagi sampai melebihi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Siapa yang berlaku demikian, maka ia akan mendapat siksa yang pedih di akhirat kelak.

Kata jihad arti asalnya adalah bersungguh-sungguh dan bersusah payah. Pada ayat di atas, kata jihad disebut dengan menggunakan isim nakirah (kata benda bersifat umum). Hal ini mengisyaratkan bahwa, berjuang di jalan Allah Ta’ala dapat ditempuh melalui berbagai cara. Setiap usaha yang sungguh-sungguh dan bertujuan menegakkan agama Allah, maka itulah jihad fi sabilillah.

Sedangkan kata “اَحَبَّ” pada ayat di atas, bermakna lebih mencintai. Frasa ini sebenarnya merupakan bentuk peringatan agar tidak mencintai urusan dunia secara berlebihan. Dalam konteks ini, yang semestinya didahulukan adalah urusan perjuangan menegakkan kalimah Allah, bukan mengejar nikmat duniawi yang bersifat fana.

Ayat di atas bukanlah larangan mencintai keluarga atau harta benda, karena itu merupakan sifat alami atau naluri manusia. Hanya saja, ayat ini mengingatkan orang beriman untuk tidak cinta kepada dunia secara berlebihan dan melampaui batas, sehingga mengorbankan kepentingan agama, yakni mengesampingkan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Jamaah Jumuah yang Dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Prof. Abdul Malik Karim Amrullah, ketika menafsirkan ayat di atas dalam Tafsir Al-Azhar menyebutkan ada delapan penghalang jihad, yaitu:

Pertama, cinta anak kepada orangtua. Karena anak adalah bagian dari ayah dan ibunya. Dari mereka ia mewarisi prilakunya, sifatnya, tabiat bahkan bentuk tubuhnya. Seorang anak akan bangga membela keduanya sebagai bagian dari kecintaan terhadap orang tuanya.

Kedua, cinta orang tua kepada anak. Anak adalah pelanjut keturunan, buah hati dan penyejuk jiwa. Orang tua akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Bahkan, ia rela menderita dan berkorban apapun demi anaknya. Keberhasilan anak akan mengangkat martabat orang tua. Maka, wajarlah apabila orang tua mencintai anak-anaknya.

Ketiga, cinta kepada saudara. Kakak mencintai adik dan adik mencintai kakak. Apabila ada saudara diganggu maka bergeraklah saudaranya untuk membelanya. Kecintaan kepada saudara ini timbul karena mereka berasal dari satu rahim yang sama. Oleh karena itu, apabila orang tua meninggal maka saudara yang lebih besar akan mengambil alih tanggung jawab sebagai orang tua. Demikian pula ketika ada saudara meninggal, maka saudaranya yang lain akan merawat anak-anaknya sebagaimana anak sendiri.

Keempat, cinta kepada pasangan. Mencintai isteri/suami akan membuat manusia menjadi tenang. Mencintai pasangan akan terus berlanjut sepanjang masa hidup manusia. Di waktu muda karena kecantikan, di waktu punya anak, istri sebagai kawan. Di waktu tua, istri sebagai teman hidup yang setia mendampinginya.

Kelima,  cinta kepada keluarga. Dengan keluarga itu, orang bisa bergaul dan dapat diminta pertolongan ketika ditimpa musibah dan ujian.

Keenam, cinta kepada harta yang diusahakan. Mencintai harta hasil usaha sendiri itu lebih kuat dari pada mencintai harta dari hasil jerih payah orang lain, seperti warisan, hibah, hadiah dan sebagianya. Orang yang mendapatkan harta dari usaha sendiri merasakan bagaimana susahnya mendapatkan harta tersebut. Oleh karena itu, ketika harta itu sudah berada di tangannya, dia akan berusaha sekuat tenaga agar harta itu tidak lepas dari padanya.

Ketujuh, cinta kepada perniagaan yang ditakuti kerugiannya. Setiap orang yang berdagang akan takut usahanya rugi dan selalu berharap keuntungan. Dengan keuntungan itu, manusia memiliki bekal hidup. Orang yang berniaga akan menumpahkan seluruh tenaga dan fikirannya kepada perniagaannya, bahkan terkadang melupakan kepada yang lain yang dianggap akan mengganggu kelancaran perniagaannya.

Kedelapan, cinta kepada tempat tinggal. Kata “masaakin” adalah bentuk jama’ dari “maskan” yang berarti tenteram. Untuk mewujudkan ketenteraman itulah, orang membangun rumah. Setelah seseorang sibuk beraktivitas di luar rumah, dia berharap ketika pulang dan beristirahat dengan tenang dan tenteram bersama keluarganya. Rumah yang tentram inilah yang disukai oleh manusia sehingga terkadang berat untuk meninggalkannya.

Jamaah Jumuah yang Dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Kedelapan hal tersebut adalah sebagian dari nikmat Allah Ta’ala. Tetapi ayat di atas memberi peringatan, walaupun yang delapan hal itu dicintai, janganlah sampai lupa kepada Zat Yang memberi nikmat, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka janganlah takut dengan hilangnya nikmat itu, tapi takutlah kalau Zat Yang memberi nikmat Dia tidak senang dan  tidak ridha dengan amal perbuatan kita.

Semua nikmat itu bisa hilang kapan saja, bisa sirna tanpa kita sangka. Sementara ridha dan kasih sayang Allah Ta’ala bersifat kekal abadi selamanya. Maka carilah ridha dan rahmat Allah dalam hidup ini, dengan taat menjalankan peritah-perintah-Nya, serta waspada dengan memperhatikan peringatan-peringatan-Nya, sehingga kita bisa berhati-hati untuk tidak melanggar larangan-Nya dan terjerumus ke dalam kehancuran dan kehinaan.

Untuk mendapatkan ridha dan kasih sayang Allah itu, maka Dia memerintahkan, agar kita lebih mencintai-Nya, mencintai Rasul-Nya dan Jihad fi sabilillah dan tidak terlena dengan kenikmatan dunia.

Apabila Allah yang memerintah, pasti Allah akan menyiapkan penggantinya dengan yang lebih baik. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah Ta’ala berfirman: “Tidaklah seorang hamba mendekatkan diri kepada–Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai dengan menunaikan kewajiban yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku mendekatkan diri dengan amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Maka, bila Aku mencintainya, Aku jadi pendengaran dan penglihatannya yang ia mendengar dan melihat dengannya. Aku menjadi tangan dan kakinya yang ia melakukan sesuatu dan berjalan dengannya. Apabila ia meminta kepada Ku, pasti Aku memberinya, dan jika ia meminta perlindungan kepada–Ku pasti Aku melindunginya.” (H.R. Al-Bukhari)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kekuatan kepada kita semua untuk dapat mencintai-Nya, mencintai Rasul-Nya dan jihad fi sabilillah di atas segala kecintaan kita kepada urusan dunia.  Aamiin Ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Khutbah ke-2:

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا  أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ،  فَيَآيُّهَا اْلمُؤْمِنُونَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسى بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

(A/R8/P2)