Khutbah Jumat: Jiwa yang Tenang

22

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah ke-1:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. اَمَابَعْدُ.

 Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Marilah kita senantiasa bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas berbagai nikmat yang dikaruniakan kepada kita berupa kesehatan badan, kedamaian jiwa dan kesempatan untuk dapat beribadah serta bertaubat merupakan nikmat tiada tara.

Seseorang yang sadar dengan kedudukannya sebagai hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu mengisi hari-harinya dengan ibadah dan taubat, menghiasi hari-harinya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhi larangan-larangan, sebagai bukti keimanan dan ketaqwaannya.

Maka, melalui mimbar khutbah ini, khatib berwasiat kepada diri sendiri, keluarga dan juga kepada jamaah Jumat semua, mari kita perbaiki diri, dengan lebih rajin melaksanakan ibadah wajib maupun sunnah dan terus berdoa, kiranya Allah  Ta’ala menggolongkan kita menjadi hamba yang diridhai-Nya.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan khutbah Jumat ini, khatib akan menyampaikan judul: “Jiwa yang Tenang.” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Al-Fajr [89] ayat ke-27 hingga 30: .

يَٰٓأَيَّتُهَا ٱلنَّفْسُ ٱلْمُطْمَئِنَّةُ (٢٧) ٱرْجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً (٢٨) فَٱدْخُلِى فِى عِبَٰدِى (٢٩) وَٱدْخُلِى جَنَّتِى (٣٠) (الفجر [٨٩]: ٢٧ــ٣٠)

“Wahai jiwa yang tenang [27]. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya [28]. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku [29]. Masuklah ke dalam surga-Ku [30].” (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)

Diriwayatkan Ibnu Abi Hatim, ayat di atas turun berkenaan dengan paman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam, yaitu Hamzah bin Abdul Muttalib yang gugur dalam Perang Uhud. Allah Ta’ala menurunkan ayat tersebut sebagai tanda kebesaran-Nya atas jiwa yang tenang, yang dimiliki oleh Hamzah bin Abdul Muttalib.

Dalam Tafsir Al-Mukhtashar dijelaskan, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabarkan perkataan yang diucapkan oleh para Malaikat kepada jiwa yang muthmainnah (tenang).

Selanjutnya disebutkan dalam tafsir tersebut, bahwa jiwa yang tenang adalah mereka yang membenarkan dan mengimani janji-janji Allah Ta’ala, baik berupa kabar gembira dan ancaman yang ada dalam kitab-Nya dan disampaikan oleh Rasul-Nya. Kemudian mereka beriman, bertakwa dan berlepas diri dari segala kesyirikan dan keburukan.

Jiwa yang tenang itu akan kembali ke haribaan Rabbnya dengan hati ridha, karena mereka mendapat balasan berupa pahala yang sempurna dari Tuhannya. Mereka datang dalam keadaan diridhai oleh-Nya.

Selanjutnya, Allah akan Ta’ala memasukkan mereka ke dalam surga-Nya bersama orang-orang shaleh lainnya. Itulah kemuliaan yang tidak ada tandingannya.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Tentang jiwa yang tenang ini, Abu Hurairah Radhiyallahu anhu berkata, bahwasannya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa sallam bersabda:

إِذَا حُضِرَ الْمُؤْمِنُ أَتَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ بِحَرِيرَةٍ بَيْضَاءَ فَيَقُولُونَ: اخْرُجِي رَاضِيَةً مَرْضِيًّا عَنْكِ إِلَى رَوْحِ اللهِ ، وَرَيْحَانٍ ، وَرَبٍّ غَيْرِ غَضْبَانَ ، فَتَخْرُجُ كَأَطْيَبِ رِيحِ الْمِسْكِ ، حَتَّى أَنَّهُ لَيُنَاوِلُهُ بَعْضُهُمْ بَعْضًا ، حَتَّى يَأْتُونَ بِهِ بَابَ السَّمَاءِ فَيَقُولُونَ : مَا أَطْيَبَ هَذِهِ الرِّيحَ الَّتِي جَاءَتْكُمْ مِنَ الأَرْضِ ، فَيَأْتُونَ بِهِ أَرْوَاحَ الْمُؤْمِنِينَ فَلَهُمْ أَشَدُّ فَرَحًا بِهِ  (رواه النسائى)

“Sesungguhnya seorang Mukmin ketika akan meninggal dunia, datanglah para malaikat rahmat dengan membawa sutra putih dan mereka berkata, ‘Keluarlah dalam keadaan ridha dan diridhai menuju rahmat dan raihan (rezeki) Allâh dan menuju Rabb yang tidak murka. Kemudian keluarlah ruh tersebut seharum bau misk. Kemudian sebagian malaikat memindah-mindahkannya kepada sebagian yang lain, hingga para malaikat membawanya menuju pintu langit dan mereka (para Malaikat yang berada di sana) berkata, ‘Betapa wangi bau ini yang kalian bawa dari bumi.’ Kemudian mereka membawanya kepada ruh-ruh orang-orang yang beriman dan mereka sangat bahagia karenanya.” (HR An-Nasa’i)

Ibnul Qayyim berkata, “Apabila telah datang di hari kiamat, maka malaikat mengucapkan perkataan itu lagi kepadanya. Ketika itulah, ia benar-benar telah sempurna, kembali kepada Allah dan masuk surga.”

Jadi, ucapan para malaikat itu disampaikan ketika orang yang berjiwa tenang meninggal dunia, dan diucapkan kembali secara sempurna ketika berada di hari kebangkitan kelak.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Orang yang memiliki jiwa yang tenang, visi hidupnya adalah meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam beribadah, beramal shaleh dan melakukan aktifitas apapun, semangat menggapai ridla Allah menjadi tujuan utamanya.

Untuk menggapai ridha Allah Ta’ala, seorang sufi Wanita Rabi’ah Al-Adawiyah memberi nasihat dengan sebuah pertanyaan, “Jika Engkau menginginkan Allah ridha kepadamu, sudahkah Engkau ridha kepada-Nya?”

Ridha seorang hamba kepada Allah berarti ia menerima dan tidak membenci apa yang menjadi ketetapan Allah Ta’ala kepadanya.

Sedangkan ridha Allah Ta’ala kepada hamba berarti, Dia senang dan menyukai hamba-Nya yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Ridha kepada Allah Ta’ala mengharuskan hamba untuk selalu beriman kepada-Nya, termasuk mengimani segala ketentuan-Nya, mencintai dan menaati syariat-Nya; mencintai Rasul-Nya dengan cara mengikuti sunnah-sunnahnya.

Oleh karena itu, ada tiga kategori ridha yang harus dimiliki seorang hamba:

Pertama, ridha bi syar’illah, berarti menerima dan menjalankan aturan-aturan Allah, dan menjauhi larangan-larangan-Nya dengan ikhlas.

Kedua, ridha bi qadha’illah, berati menerima dengan lapang dada dan tidak membenci apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya, termasuk segala musibah yang menimpa dirinya.

Ketiga, ridha bi rizqillah berarti menerima dan merasa cukup terhadap rezeki yang dianugerahkan kepadanya, tidak rakus dan tidak serakah,  tidak mengambil hak orang lain, juga tidak iri dengan kelebihan dan kepunyaan orang lain.

Ma’asyiral Muslimin, hafidzakumullah

Ridha kepada Allah Ta’ala juga dapat menjadi obat hati, yang dapat menangkal segala penyakit hati, sekaligus dapat membuat hati menjadi lapang dan merasa qana’ah terhadap segala karunia dan pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ridha kepada Allah Ta’ala merupakan salah satu faktor yang menyebabkan hidup seseorang menjadi tenang, damai, tenteram, tidak diliputi keresahan dan kegalauan. Ridha merupakan salah satu jalan seorang hamba yang dapat mengantarkannya kepada pendekatan diri (taqarrub) kepada Rabbnya.

Dengan ridha kepada Allah Ta’ala, seorang hamba dapat menghiasi dirinya dengan akhlak mulia, menjauhkan diri dari perbuatan tercela dan sia-sia, karena standar ridha kepada Allah Ta’ala menuntut seorang hamba untuk selalu taat dan bertaqwa kepada-Nya.

Untuk lebih memantapkan usaha kita dalam menggapai ridha Allah Ta’ala, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam memberi beberapa tuntunan, antara lain dengan doa, seperti yang diajarkan oleh Allah dalam firman-Nya:

رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ (الاحقاف [٤٦]: ١٥)

“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang Muslim.” (Q.S. Al-Ahqaf [46]: 15.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan usaha kita untuk memiliki jiwa yang tenang dan menggolongkan kita menjadi hamba-hamba-nya yang ridha kepada Allah dan diridhai-Nya serta memasukkan kita ke dalam surga-Nya.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Khutbah ke-2:

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا  أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ،  فَيَآيُّهَا اْلمُؤْمِنُونَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسى بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ

تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

sumber: MINA