Khutbah Jumat: Keutamaan Sabar

19

Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

 Khutbah ke-1:

اْلحَمْدُ للهِ الّذي هَدَانَا سُبُلَ السّلاَمِ، وَأَفْهَمَنَا بِشَرِيْعَةِ النَّبِيّ الكَريمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لا شَرِيك لَه، ذُو اْلجَلالِ وَالإكْرام، وَأَشْهَدُ أَنّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسولُه، اللّهُمَّ صَلِّ و سَلِّمْ وَبارِكْ عَلَى سَيِّدِنا مُحَمّدٍ وَعَلَى الِه وَأصْحابِهِ وَالتَّابِعينَ بِإحْسانِ إلَى يَوْمِ الدِّين، أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أوْصُيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Maa’syiral Muslimin hafidzakumullah,

Segala puji dan syukur, marilah kita persembahkan hanya kepada Allah ‘Azza Wajalla, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Diantara nikmat yang harus kita syukuri adalah, Allah ‘Azza Wajjalla memilih kita menjadi hamba-hamba-Nya yang diberi hidayah dan berkesempatan untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya. Salah satunya di hari ini, kita semua bisa melaksanakan ibadah shalat Jumat berjamaah.

Khatib mengajak kepada para jamaah semua, marilah tingkatkan keimanan dan ketakwaan kita. Takwa adalah barometer kesuksesan seseorang. Takwa adalah sebaik-baik bekal kehidupan, baik hidup di dunia, hingga yaumil qiyamah nanti.

Sesungguhnya dunia ini bukan tempat kita tinggal, tapi tempat kita meninggal. Kehidupan akhirat itulah sebenarnya yang kekal. Maka untuk menuju ke sana, kita butuh bekal, dan takwa itulah sebaik-baik bekal kehidupan.

Maa’syiral Muslimin hafidzakumullah,

Pada kesempatan ini, khatib akan menyampaikan judul khutbah: “Keutamaan Sabar,” sebagai tadabur dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Q.S. Az-Zumar [39], ayat ke-10:

قُلْ يٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصّٰبِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (الزمر [٣٩]: ١٠)

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Dalam tafsir Al-Kabir, Imam Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Razy menjelaskan, bahwa ayat tersebut turun di Makkah, sebelum perintah hijrah, ketika kaum Muslimin masih dalam keadaan lemah.

Allah ‘Azza Wajalla memberi kabar gembira kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasalam dan para sahabatnya, bahwa suatu hari nanti, mereka akan mendapatkan kesuksesan hidup dan kemenangan yang nyata.

Ayat tersebut memberi inspirasi kepada orang-orang beriman, dalam menghadapi segala bentuk musibah dan ujian, harus selalu opstimis, berfikir positif, dan berpandangan luas, seluas bumi yang terbentang dari timur ke barat.

Umat Islam tidak boleh beranggapan, bahwa musibah, ujian, bahkan kematian sebagai akhir dari sebuah perjuangan. Maka, jalan utama menuju kesuksesan adalah dengan sabar dan pantang menyerah. Karena perjuangan memerlukan keuletan, ketegaran, dan keseriusan dalam mendapatkan apa yang diinginkan.

Allah ‘Azza Wajalla menjanjikan kepada orang-orang yang bersabar dalam menghadapi ujian, bagi mereka pahala yang tak terhingga. Ganjaran yang tanpa batas. Semua itu karena keutamaan sabar dan kedudukannya yang sangat mulia di sisi Allah, dan sesungguhnya sabar itu menjadi penolong atas segala perkara.

Maa’syiral Muslimin hafidzakumullah,

Dalam kitab “Madarijus Salikin” karya Ibnul Qayyim Al-Jauzi, beliau mendefinisikan, sabar adalah menahan diri untuk tidak melampiaskan nafsu dan amarah, mengendalikan lidah untuk tidak berkata kotor dan berkeluh kesah, dan mengontrol anggota tubuh untuk tidak bertindak anarkis dan melanggar aturan syariah.

Orang yang sabar tidak hanya sekadar bersikap lapang dada saat menghadapi ujian dan musibah, tetapi juga teguh pendirian (istiqamah) dalam memperjuangkan kebenaran, selalu bergerak dinamis dan optimis meraih masa depan yang lebih baik dan bermakna dalam kehidupan.

Sabar menjadi “pakaian” para nabi. Sabar adalah permata yang menghiasi kehidupan para waliyullah. Sabar laksana mutiara yang dimiliki orang-orang shalih. Sabar adalah senjata utama, sekaligus pelita bagi siapa pun yang menapaki jalan menuju kebahagiaan dan kemenangan sejati, dalam kehidupan yang hakiki.

Dalam sebuah hadits, Rasullullah Shallallahu Alaihi Wasalam bersabda:

أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ (التِّرْمِذِيُّ)

“Manusia yang paling berat ujian dan musibahnya adalah para nabi, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka, kemudian orang-orang yang di bawah derajat mereka. Seseorang diuji berdasarkan kadar agamanya” (H.R. At-Tirmidzi).

Maa’syiral Muslimin hafidzakumullah

Imam Al-Ghazali menyatakan, sabar juga bisa sebagai terapi penyakit hati. Dengan sabar, manusia akan mampu mengendalikan diri, berpikir positif dalam segala kondisi, serta memiliki daya juang tinggi dalam menghadapi segala problematika kehidupan yang ia hadapi.

Ketika seseorang mendapat musibah, lalu ia menghadapinya dengan sabar, maka Allah ‘Azza Wajalla akan menghapus dosa-dosanya, menaikkan derajat dan kedudukan di sisi-Nya, dan menyediakan pahala yang mulia berupa ridha dan ampunan-Nya.

Sejatinya, Allah ‘Azza Wajalla memberi musibah dan ujian kepada hamba-hambaNya adalah sebagai tanda bahwa Dia menyayangi hamba-Nya dan untuk menguji kesabarannya. Dengan sabar itu, Allah ‘Azza Wajalla akan memberi berbagai keutamaan kepada hamba-Nya, antara lain:

Pertama, sabar akan membuat manusia memahami betapa Allah ‘Azza Wajalla Mahakuasa atas segala sesuatu. Orang yang bersabar menyadari betul bahwa dirinya tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi dan akan dialami selanjutnya. Manusia hanya mampu untuk berusaha, sedangkan selebihnya tergantung kepada takdir dan ketetapan Allah Azza Wajalla.

Bersabar adalah jalan utama dalam sebuah perjuangan menuju kemenangan, sebagaimana Allah ‘Azza Wajalla berfirman:

إِنَّ فِى ذٰلِكَ لَأَيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (الشُّوْرىٰ [٤٢]:٣٣)

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya) bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur.” (QS As-Syura [42]: 33)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di menjelaskan ayat di atas, bahwa hanya orang-orang yang memiliki kesabaran lah, yang akan mampu menjadi hamba yang bersyukur. Hanya orang-orang yang bersabar, yang bisa mengambil pelajaran dari setiap ayat-ayat Allah yang ia baca dan yang terhampar di alam raya.

Kedua, Allah ‘Azza Wajalla menjanjikan bagi orang-orang yang sabar, mereka akan menuai kesudahan yang baik setelah melewati cobaan dan ujian yang diberikan. Ending dari segala musibah dan ujian yang ia hadapi akan bermuara pada kemenangan dan kesuksesan.

Janji Allah ‘Azza Wajalla itu terdapat dalam surat Hud ayat 49:

 ۖ فَٱصْبِرْ ۖ إِنَّ ٱلْعَٰقِبَةَ لِلْمُتَّقِينَ (هود [١١]:٤٩)

“Maka bersabarlah, sesungguhnya kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

Para ulama menjelaskan, ayat di atas adalah perintah kepada umat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasalam untuk bersabar dalam menyampaikan tuntunan Al-Qur’an dan tabah dalam menghadapi segala bentuk rintangan dan gangguan, sebagaimana Nabi Nuh Alaihi Salam yang bersabar mengahadapi resistensi dan perlawanan dari kaumnya.

Maka, bersabarlah dalam menghadapi kesusahan dan kesulitan, karena takdir (ketetapan) Allah ‘Azza Wajalla telah berlaku sejak zaman dahulu kala, bahwa kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang menghiasi diri dengan ketakwaan dan kesabaran.

Ketiga, Allah ‘Azza Wajalla bersama orang-orang yang bersabar, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Anfal [8] ayat ke-46:

,…وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ  (الانفال [٨]:٤٦)

“…,dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.” 

Maksud “Allah bersama orang-orang yang bersabar” adalah, Allah ‘Azza Wajalla memberikan bantuan, pertolongan dan dukungan-Nya bagi mereka yang sabar. Sekali-kali, Allah ‘Azza Wajalla tidak akan menelantarkan mereka. Jika Allah Ta’ala sudah bersama mereka, maka pasti akan mendapat solusi, jalan keluar dari segala permasalahan dan meraih kemenangan dan kebahagiaan.

Kiranya Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberi kita kesabaran tanpa batas, dan kita semua mampu memahami keutamaan sabar dan mampu menerapkannya dalam perjuangan dan menyelesaikan setiap masalah dalam kehidupan kita, Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2:

اَلحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا اَمَرَ. وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ . أَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الُمسْلِمِيْنَ إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

(A/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)