Khutbah Jumat: Membangun Solidaritas Terhadap Tawanan Palestina

70

Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah ke-1:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ اَمَرَنَا بِلُزُوْمِ اْلجَمَاعَةِ، وَنَهَانَا عَنِ اْلاِخْتِلَافِ وَالتَفَرُّقَةِ، وَاْلصَّلَاةُ وَالسَّلآمُ عَلٰى نَبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلٰى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ هُدَاةِ اْلاُمَّةِ، أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، مَاشَآءَاللهُ كَانَ وَمَا لَمْ يَشَأْ لَمْ يَكُنْ لَاحَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلاَّ بِا اللهِ اْلعَلِيِّ اْلعَظِيْمِ، أَمَّا بَعْدُ:  فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، فَيَآيُّهَا اْلمُؤْمِنُوْنَ، اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَالله، فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ فِيْ كِتَابِهِ اْلكَرِيْمِ، أَعُوْذُبِاللّٰهِ مِنَ اْلشَّيْطَنِ اْلرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ، يَآأَيُّهَا الَّذِينَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Tiada kata terindah yang patut kita ungkapkan, selain rasa syukur kita kehadirat Allah Subhanahu wata’ala atas segala limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga kita mampu melangkahkan kaki memenuhi panggilan Illahi Rabbi, menunaikan ibadah shalat Jumat di siang hari ini.

Sebagai wujud syukur tersebut, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita dengan semurni-murninya iman dan sebenar-benarnya takwa.

Semurni-murni iman adalah beribadah dan mentauhidkan Allah sesuai tuntunan syariat, Adapun hakikat ketakwaan yaitu melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, baik yang berupa melaksanakan perintah ataupun menjauhi larangan.

Perintah dilaksanakan atas dasar keimanan dan keyakinan akan janji-Nya, dan larangan ditinggalkan berlandaskan keimanan dan takut terhadap ancaman-Nya.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Pada kesempatan khutbah Jumat ini, marilah kita sejenak merenungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang terdapat dalam surah Al-Maidah [5] ayat kedua:

….، وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ (المائدة [٥]: ٢)

“…, Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Mâidah[5]: 2)

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauzi rahimahullah mendefinisikan bahwa Al-birru adalah satu kata bagi seluruh jenis kebaikan dan kesempurnaan yang dituntut dari seorang hamba. Lawan katanya adalah Al-itsmu (dosa) yang maknanya adalah satu ungkapan yang mencakup segala bentuk kejelekan dan aib yang menjadi sebab seorang hamba sangat dicela apabila melakukannya.

Sedangkan Imam As-Sa’di mengatakan bahwa Al-birru adalah sebuah nama yang mencakup segala yang Allah Azza wa Jalla cintai dan ridhai, dari perbuatan-perbuatan yang dzahir maupun batin, yang berhubungan dengan hak Allah Azza wa Jalla atau hak sesama manusia.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Salah satu tanda keimanan seseorang adalah perhatian dan kepeduliannya terhadap musibah yang dirasakan saudaranya. Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam persahabatan, kasih sayang dan persaudaraannya adalah seperti satu tubuh; apabila salah satu anggotanya merasa sakit, maka rasa sakitnya itu menjalar ke seluruh tubuh menimbulkan demam dan tidak dapat tidur (istirahat).”

Di dalam hadis sahih lainnya disebutkan pula:

 “الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin (terhadap mukmin lainnya) bagaikan satu bangunan, satu sama lainnya saling kuat-menguatkan.”

Hadis di atas mengajarkan dua hal. Pertama, karena satu tubuh, kaum mukmin semestinya secara otomatis dapat merasakan penderitaan dan kesulitan yang dirasakan saudaranya yang lain. Seraya ia berupaya agar penderitaan dan kesulitannya itu berkurang hingga hilang sama sekali.

Kedua, hubungan kaum mukmin yang saling terkait dan menyatu. Penyakit yang terdapat pada sebagian mereka akan dapat berpengaruh kepada bagian lainnya bila tidak segera diatasi. Ancaman terhadap seorang muslim hakikatnya adalah ancaman bagi seluruh Muslimin sehingga menjadi kewajiban untuk menyelamatkan sesama Muslim dari segala ancaman dan gangguan dari musuh-musuh Allah.

Persaudaraan dalam Islam bukan sekadar retorika, bukan hanya manis dalam kata-kata, tetapi persaudaraan Islam adalah persaudaraan lahir batin, persaudaraan sejati. Persaudaraan yang didasari oleh iman. Iman  itulah yang membuat kaum Aus dan Khazraj yang bermusuhan ratusan tahun menjadi bersaudara. Mereka menjadi kaum Anshar, yang siap menolong Rasul dan risalahnya.

Sebagaimana hubungan saudara, maka ia tidak akan rela membiarkan saudaranya nestapa. Ia tidak akan rela saudaranya teraniaya, diembargo, dipenjara, sehingga kekurangan pangan, sandang, dan kebutuhan pokok lainnya. Kesadaran, perasaan, dan jiwanya akan senantiasa tersayat melihat saudaranya tengah getir menghadapi kesulitan hidup. Terlebih-lebih saat menyaksikan saudara Muslim tanpa salah, mereka dipenjara, terancam kehormatan dan nyawanya akibat kekejaman kaum Zionis Israel.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Beberapa hari terakhir ini, kita bisa simak di berbagai media yang konsen terhadap perjuangan Palestina bahwa ribuan tahanan Palestina yang berada di penjara-penjara Israel, keadaan mereka sangat memprihatinkan apalagi anak-anak dan wanita. Berbagai penyiksaan, pelecehan, persekusi fisik maupun mental dan agama setiap hari mereka rasakan.

Berdasarkan data dari LSM Palestina, Palestinian Prisoners Society (PPC), ada sekitar 4.650 tahanan Palestina di penjara-penjara Israel, termasuk setidaknya 500 orang ditahan tanpa dakwaan dan proses pengadilan.

Kebijakan penahanan administratif memungkinkan pihak berwenang Israel untuk menahan siapa pun tanpa tuduhan atau proses pengadilan, dan mereka dapat diperpanjang penahanan tanpa batas waktu.

Bahkan ada seorang tahanan wanita Palestina yang sedang mengandung, namanya Anhar al-Deek (25) dari kota Kafr Ni’ma, Ramallah. Ia mengalami penyiksaan dan pelecehan, sementara hingga saat ini belum ada satupun aktifis dan Lembaga HAM yang dapat menyelamatkannya.

Anhar al-Deek adalah satu dari 32 tahanan wanita di penjara Israel yang ditangkap tanpa kesalahan sebelumnya. Zionis merekayasa agar Anhar bisa dipenjara. Selain itu juga ada 170 anak-anak di bawah umur yang berada di penjara-penjara Israel.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sebagai seorang Muslim yang memiliki iman, pasti hati kita merasa bersedih mendengar berita ini. Sebagai orang yang merasa memiliki iman, tentu kita terpanggil menyelamatkan mereka yang teraniaya di penjara-penjara Zionis. Sebagai penganut Sunnah-sunnah Rasulullah, tentunya kita harus melakukan sesuatu untuk membantu saudara-saudara kita yang terdzalimi dan teraniaya.

Membebaskan tahanan adalah pekerjaan sangat penting dan diperintahkan langsung oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala yakni dalam surat Al-Balad ayat 12-13:

…. وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْعَقَبَةُ ۗ (١٢) فَكُّ رَقَبَةٍۙ (١٣)

“Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?, (yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya),”

Dalam ayat tersebut kita bisa pahami bahwa membebaskan tahanan adalah pekerjaan mulia meski ia sulit dan sukar. Meski sulit dan sukar, umat Islam tidak boleh berputus asa untuk terus memperjuangkannya, hingga Palestina merdeka, Al-Aqsa kembali ke pangkuan kaum Muslimin dan tercipta perdamaian di bumi Palestina.

Kami, umat Islam di Indonesia akan menyeru dan mengajak kepada seluruh umat Islam di Indonesia untuk melaksanakan doa qunut nazilah, medoakan saudara-saudara kita yang ditahan di penjara-penjara Palestina.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Lalu, apa usaha kita untuk membantu saudara-saudara kita yang berada di penjara-penjara Israel. Setidaknya ada empat hal yang bisa kita lakukan:

Pertama, bantu dengan doa. Doa adalah senjata ampuh bagi kaum Muslimin. ”Doakan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kekuatan, kesabaran, dan persatuan serta kemenangan bagi rakyat Palestina. Mulai dari Shalat Jumat ini hingga satu bulan ke depan, kita panjatkan doa qunut nazilah untuk mendoakan mereka.

Kedua, apabila punya hubungan dengan lembaga, pemerintahan, atau secara personal langsung dengan mereka di Palestina, maka hubungi mereka, bisa lewat telefon, mengirimkan kalimat sebagai dukungan moril untuk memberikan support kepada mereka.

Ketiga, suarakan kebiadaban dan pelanggaran Zionis Israel secara serentak di berbagai media, termasuk media sosial agar masyarakat tahu informasi terkini dan akurat.

Keempat, infaqkan sebagian harta kita di jalan Allah melalui Lembaga-lembaga kemanusiaan terpercaya untuk para korban kebiadaban Zionis, termasuk para anak yatim, janda dan keluarga fakir yang memang sangat membutuhkan bantuan moril maupun materiil.

Jamaah Jumuah yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala

Tidaklah sempurna iman seseorang, manakala kesalehan pribadi tidak membawa dampak positif bagi proses perdamaian dan persatuan. Mari kita dakwahkan Islam ini sebagai agama perdamainan, agama persatuan, agama yang memberi rahmat bagi semesta alam.

Marilah kita perkokoh persatuan dan kesatuan umat, dengan mengamalkan hidup berjam’ah. Kita tinggalkan perselisihan, pertikaian dan permusuhan, dan kita songsong tantangan masa depan dengan semangat saling mencintai, saling peduli, dalam ridha Ilahi.

Semoga melalui Khutbah Jumat ini, kita semua menjadi orang-orang yang bisa peduli terhadap sesama saudara, empati terhadap penderitaan mereka, dan bisa membantu sekuat kemampuan maksimal kita.

Persaudaraan yang kuat akan mendatang persatuan dan kesatuan umat. Ukhuwah Islamiyyah yang kokoh akan mendatangkan peradaban dan kemajuan dunia, dalam rahmat, ridha dan ampunan-Nya.

Semoga Masjidil Al-Aqsa bisa kembali ke pangkuan umat Islam, bangsa Palestina bisa merdeka, keamanan, kedamaian dan ketenteraman kembali dirasakan umat Islam dan seluruh manusia.

 

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

 

Khutbah ke-2:

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ، فَيَآيُّهَا اْلمُؤْمِنُونَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِى بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اْلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللَّهُمَّ فَكِّ الْمَأْسُوْرِيْنَ الْفِلِسْطِيْنِيِّيْنَ خُصُوْصًا الْأَسِيْرَاتِ مِنْ سُجُوْنِ الصَّهَايِنَةِ الظَّالِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ احْفِظْ عَلَيْهِنَّ دِيْنَهُنَّ، وَاحْفِظْ عَلَيْهِنَّ أَعْرَاضَهُنَّ، وَاحْفِظْ عَلَيْهِنَّ كَرَامَتَهُنَّ. اللَّهُمَّ إِنَّ أَسِيْرَاتِ فِلِسْطِيْنِ ضَعِيْفَاتٌ فَقَوِّهِنَّ، مَظْلُوْمَاتٌ فَانْصُرْهُنَّ، مُبْتَلَيَاتٌ فَثَبِّتْهُنَّ، مَقْهُوْرَاتٌ فَفَرِّجْ كَرْبَهُنَّ. اللَّهُمَّ آنِسْ وَحْشَتَهُنَّ، وَأَزِلْ كُرْبَتَهُنَّ، وَخَفِّفْ مَصَابَهُنَّ. يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Mi’raj News Agency (MINA)