Khutbah Jumat: Penyebab Datangnya Pertolongan Allah

21

Oleh: Imaam Yakhsyallah Mansur

بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم

 Khutbah ke-1:

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِصْلَاحِ، وَحَثَّنَا عَلَى الصَّلَاحِ، وَبَيَّنَ لَنَا سُبُلَ الْفَلَاحِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ .كَمَاقَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْمْ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ الله وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا   

Maa’syiral Muslimin hafidzakumullah,

Marilah kita senantiasa bertahmid, memuji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, atas segala nikmat yang terus menerus dilimpahkan kepada kita. Sudah selayaknya, sebagai hamba yang menerima nikmat itu, kita bersyukur dengan syukur yang sebenar-benarnya.

Bersyukur yang benar sebagaimana diterangkan oleh para ulama, yaitu syukur dengan hati, dengan lisan dan anggota badan.

Bersyukur dengan hati, yaitu mengakui bahwa kenikmatan itu datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, merasa ridha dan lapang dada atas segala pemberian-Nya.

Bersyukur dengan lisan, dengan berdzikir, memuji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan, bersyukur dengan anggota badan, yakni menggunakan tubuh ini untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya, dan bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa.

Maa’syiral Muslimin hafidzakumullah,

Pada kesempatan khutbah Jumat ini, khatib akan menyampaikan khutbah berjudul: “Penyebab Datangnya Pertolongan Allah”, sebagai tadabur dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Q.S. Al Anfal [8]: ayat ke-62-63,

وَإِنْ يُرِيْدُوْا أَنْ يَخْدَعُوْكَ فَإِنَّ حَسْبَكَ اللَّهُ ۚ هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهٖ وَبِالْمُؤْمِنِيْنَ. (٦٢) وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيْعًا مَّا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللّٰهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهٗ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ (٦٣) (الأنفال [٨]: ٦٢ـــ٦٣)

“Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan (dukungan) orang-orang mukmin. (62) Dia (Allah) mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Mahagagah lagi Mahabijaksana.”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kedua ayat di atas merupakan janji Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa Dia pasti akan memberikan pertolongan dan perlindungan kepada orang-orang beriman.

Di antara bentuk pertolongan dan perlindungan Allah Ta’ala adalah, mencukupi keperluanmu, meneteramkan hatimu, dan membuat kalian kompak dalam persatuan, saling bahu-membahu, tolong-menolong dalam mengalahkan musuh-musuhmu saat perang Badar.

Sesungguhnya yang dapat mempersatukan hati-hati orang beriman hanyalah Allah Ta’ala saja. Sekalipun kalian membelanjakan seluruh harta kekayaan di bumi, niscaya kalian tidak akan dapat mempersatukannya, kecuali atas izin dan kehendak Allah semata.

Hanya Allah Ta’ala saja yang mampu membolak-balikkan hati manusia. Dan, diantara bentuk keperkasaan-Nya adalah menyatukan hati-hati manusia, setelah sebelumnya tercerai-berai dan bermusuh-musuhan.

Yakinilah wahai kaum Muslimin sekalian, sesungguhnya kemenangan adalah milik Allah, dan hal itu pasti akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Oleh karena itu, sebagai hamba yang beriman, kita harus yakin dan mantap, tanpa keraguan sedikitpun bahwa pertolongan Allah pasti datang. Adapun tertundanya pertolongan Allah merupakan bentuk ujian, untuk mengetahui siapa di antara mereka yang bersungguh-sungguh dan bersabar.

Maa’syiral Muslimin hafidzakumullah,

Pada ayat selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan, nikmat yang dilimpahkan kepada orang yang beriman yang akan mendatangkan pertolongan-Nya yaitu ulfah (persaudaraan) di antara mereka.

Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi dalam tafsirnya menyatakan, bahwa ayat tersebut mengisyaratkan bahwa pertolongan Allah Ta’ala dapat diperoleh dengan berbagai faktor dan yang terpenting adalah kasih sayang dan persatuan.

Sementara Syaikh Ar-Raghib Al-Asfihani mendefinisikan kata ulfah dengan mengatakan: إِجْتِمَاعٌ مَعَ التُّئَامِ “Berkumpul dengan serasi.”

Secara tekstual, ayat di atas menggambarkan persaudaraan dan kerukunan antara suku Aus dan suku Khazraj setelah mereka masuk Islam. Di masa Jahiliyah, kedua suku ini dilanda permusuhan dan kebencian yang sangat mendalam.

Dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ di hadapan para sahabat Anshar yang kurang puas dengan pembagian harta rampasan perang Hunain, beliau ﷺ bersabda, “Hai orang-orang Anshar, bukankah aku jumpai kalian dalam keadaan tersesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku; dan kalian dalam keadaan miskin, lalu Allah memberikan kecukupan kepada kalian melalui diriku; dan kalian dalam keadaan berpecah-belah, lalu Allah menjinakkan hati kalian melalui diriku.” Setiap kali beliau mengucapkan sesuatu, mereka menjawab, “Kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Imam Zamakhsyari di dalam Tafsirnya Al-Kasysyaf sebagaimana yang dinukil oleh Prof. Dr. HAMKA dalam Tafsirnya Al-Azhar menulis: “Bersatu padunya hati orang-orang yang didatangi oleh Rasulullah ﷺ itu adalah salah satu tanda kebesaran Allah yang mengagumkan. Karena orang Arab terkenal sangat keras dalam mempertahankan kesukuan dan kebangsaan. Meskipun dalam perkara yang remeh, mereka tidak mau mengalah. Jika tersinggung sedikit, segera muncul dendam dan itu tidak habis sebelum dendamnya tertebus. Orang Arab tidak bisa bersatu, walaupun hanya di antara dua orang. Namun tiba-tiba mereka bersatu dalam mengikuti Rasulullah ﷺ laksana sebusur anak panah yang diluncurkan tepat mengenai sasaran.”

Hal itu disebabkan karena Al-Qur’an telah membimbing dan menyatukan hati-hati mereka sehingga timbul rasa persaudaraan dan kasih sayang yang mendalam.

Maka, dengan rasa kasih sayang itu, sirnalah rasa benci di antara mereka, karena disatukan oleh rasa cinta karena Allah dan kepada Allah semata. Tidaklah akan sanggup berbuat demikian, kalau bukan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menguasai hati-hati mereka, yang membolak-balikkan hati menurut kehendak dan kemauan-Nya.

Ayat tersebut juga menunjukkan, betapa tingginya nilai dan harga persaudaraan di antara umat Islam. Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadits,

إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَى اللهِ الَّذِيْنَ يَأْلِفُوْنَ أَوْ يُؤْلَفُوْنَ وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَى اللهِ الْمَشَّائُوْنَ بِالنَّمِيْمَةِ الْمُفَرِّقُوْنَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ (رواه الطبراني)

“Sesungguhnya di antara kalian yang paling dicintai Allah adalah yang dapat menyesuaikan diri dan diikuti penyesuaian dirinya. Sedangkan yang paling dibenci Allah adalah orang yang mengadu domba dan yang memecah belah di antara saudara.” (H.R. At-Thabrani)

Maa’syiral Muslimin hafidzakumullah,

Untuk memupuk dan memperkuat persaudaraan, bisa dilakukan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, dalam bergaul kita harus mengedepankan husnudzan (berbaik sangka) kepada siapapun, kecuali bila ada hal-hal yang memang patut dicurigai. Berprasangka baik kepada orang lain akan menumbuhkan kecintaan, keharmonisan dan persatuan dalam hidup bermasyarakat.

Kedua, bertutur kata yang baik, dengan menggunakan bahasa yang lazim digunakan, mudah dimengerti dan tidak bertele-tele. Hindari ungkapan-ungkapan yang berkonotasi mengumpat atau mengutuk karena hal itu berpotensi menyakiti hati orang/pihak lain.

Ketiga, itsar, yaitu dahulukanlah orang lain dalam kepentingan umum, dari pada kepentingan pribadi dan tidak mengambil hak-hak orang lain.

Keempat, saling menasihati apabila ada orang/pihak yang melakukan kesalahan dan menegur dengan bijaksana sehingga tercipta suasana keikhlasan antara yang menasihati dan yang dinasihati.

Kelima, saling mendoakan sesama Muslim, baik yang masih hidup, maupun yang sudah wafat. Dengan memohon kepada Allah, Dzat Maha Menguasai dan menyatukan hati-hati manusia, kiranya Allah membuka hati kaum Muslimin untuk dapat menjalin persaudaraan, bersatu, berhimpun dalam Al-Jamaah dengan seorang imaam yang ditaati, memenangkan kaum Muslimin atas musuh-musuhnya, dan menegakkan keadilan di muka bumi ini.

Semoga kita semua mampu memahami nilai-nilai yang terkandung dalam ayat di atas dan mampu mengamalkannya semaksimal mungkin, dalam rangka semata-mata ikhlas beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ . اِنَّهٗ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيْمِ.

Khutbah ke-2:

اَلحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَمَا اَمَرَ. وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ . أَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الُمسْلِمِيْنَ إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ، فَقَالَ اللهُ تَعَالىَ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلّاً لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَّحِيمٌ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. اللَّهُمَّ لاَ سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَأَنْتَ تَجْعَلُ الحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ وَالْجُنُونِ وَالْجُذَامِ وَمِنْ سَيِّئِ اْلأَسْقَامِ اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

(R/P2/P1)

Mi’raj News Agency (MINA)