Khutbah Jumat: Sebab Manusia Masuk Neraka

26

Oleh Imaam Yakhsyallah Mansur

Khutbah ke-1:

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه ُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا, فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. امابعد.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Segala puji dan syukur marilah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah yang menunjukkan kepada manusia jalan-jalan taqwa, memberi kekuatan dan kesempatan kepada kita semua untuk dapat meniti jalan-Nya serta dengan limpahan kasih sayang-Nya, Dia mengampuni dosa-dosa siapa saja yang memohon ampun kepada-Nya.

Khatib berwasiat kepada diri sendiri, juga kepada jamaah Jumuah semua, mari tingkatkan taqwa kita dengan semakin giat melaksanakan ibadah, baik ibadah wajib maupun ibadah sunnah. Mari tingkatkan taqwa dengan semakin giat dan bersemangat menimba ilmu, terutama ilmu agama, karena dengan ilmu, ibadah kita diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Pada kesempatan khutbah Jumat ini, khatib akan menyampaikan judul: “Sebab Manusia Masuk Neraka,” sebagai peringatan bagi khatib pribadi, keluarga dan Muslimin, Muslimat semuanya agar waspada sehingga kita semua bisa terhindar dari siksa neraka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surah Al-A’raf [7] ayat ke-179: .

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ (الاعراف [٧]: ١٧٩)

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di dalam tafsirnya menjelaskan ayat di atas, bahwa manusia masuk neraka disebabkan karena amal perbuatannya sendiri ketika hidup di dunia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengaruniakan berbagai nikmat, di antaranya; mata yang sehat, pendengaran yang normal, jiwa yang waras, tetapi itu semua tidak digunakan untuk merenungi kebesaran-Nya, tidak digunakan untuk membenarkan ajaran-Nya, melaksanakan syari’at-syari’at-nya, bahkan mereka mengingkari nikmat-nikmat itu dan membangkang dari perintah-perintah-Nya.

Mereka disebut lebih rendah derajatnya daripada hewan ternak, karena tidak menggunakan akal dan hatinya untuk taat. Mengapa dikatakan lebih rendah dari hewan ternak? Sebab, binatang itu dengan instinknya akan selalu mencari kebaikan untuk dirinya dan menghindari bahaya, sementara mereka mereka yang tidak menggunakan akal dan hatinya itu malah menolak kebaikan dan kebenaran yang sudah ada. Itulah sebab mereka menjadi orang-orang celaka.

Seseorang yang melaksanakan perintah-perintah Allah Ta’ala, tunduk dan patuh dengan aturan-aturan-Nya, maka ia akan menjadi hamba  yang derajatnya lebih mulia dari semua makhluk yang ada. Sebaliknya, seseorang yang melakukan maksiat, membangkang dan tidak peduli dengan aturan syariat, maka binatang ternak lebih mulia daripada dirinya.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam ditanya tentang penyebab sesorang masuk surga dan neraka;

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ  (رواه الترمذى)

“Rasulullah Shallallahu alaihi Wasalam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau menjawab, ‘Takwa dan akhlak yang mulia.’ Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab, ‘Mulut dan kemaluan.” (H.R. Al-Tirmidzi)

Imam al-Mubarakfuri menjelaskan, yang dimaksud dengan mulut dalam hadits tersebut adalah lisan yang sering menyakiti orang lain dan membiarkan masuknya hal-hal yang haram atau syubhat ke dalam perutnya.  Sedangkan kemaluan yang menyebabkan masuk neraka adalah zina.

Maasyiral Muslimin, hafidzakumullah

Lalu, bagaimana agar manusia bisa selamat dari kemurkaan Allah Ta’ala, yakni terbebas dari siksa api neraka?

Imam Nasiruddin Al-Amidi mengutip perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib sebagai berikut:

إِنَّ مَنْ رَزَقَهُ اللَّهُ عَقْلًا قَوِيماً وَعَمَلًا مُسْتَقِيماً فَقَدْ ظَاهَرَ لَدَيْهِ النِّعْمَةَ وَأَعْظَمَ عَلَيْهِ الْمِنَّةَ

“Sesungguhnya orang yang dianugerahkan akal yang lurus serta amal kebaikan yang istiqamah, maka ia telah diberikan nikmat serta anugerah yang agung.”

Dari perkataan ini kita mengetahui betapa penting akal yang sehat, istiqomah dalam beramal dalam menghindarkan manusia dari maksiat.

Al-Qur’an selalu mengingatkan kepada manusia agar menggunakan akal yang telah Allah Ta’ala anugerahkan supaya dipergunakan untuk berpikir, merenung dan mengambil pelajaran dari setiap kejadian dan fenomena alam yang ditemui.

Dengan akal itu, diharapkan keimanan akan semakin kuat, akidah akan semakin mantap. Kuatnya iman tercermin dalam akhlak yang semakin mulia, menebar manfaat bagi sesama manusia, memperkokoh persatuan umat.

Nikmat akal yang sehat wajib disyukuri dengan cara menggunakannya untuk berfikir tentang hal-hal yang membawa keselamatan dam kesejahteraan manusia di dunia dan akhirat. Keselamatan dan kesejahteraan merupakan hal  yang selalu diidamkan oleh setiap orang.

Akal tanpa agama adalah kesesatan dan beragama tanpa akal akan terjebak pada pemahaman yang salah dan perilaku yang buruk.

Imaam Hasan al-Bashri rahimahullah, apabila diberitahukan tentang seseorang yang shalih, maka beliau bertanya “Bagaimanakah akalnya? Karena agama seseorang tidak akan sempurna, hingga akalnya berfungsi sempurna.”

Akal mendorong pada lahirnya budi pekerti yang luhur, atau sebaliknya, bisa menghalangi seseorang melakukan kebaikan. Seseorang yang mempunyai akal sehat, akan bisa mengambil pelajaran dari setiap kejadian, terutama yang diinformasikan oleh Al-Qur’an.

Akal yang dipuji Al-Qur’an adalah akal yang mampu memahami ayat-ayat Allah Subhanahu Wa Ta’ala  dan akal yang mampu membedakan antara kebenaran dengan kebatilan.

Sedangkan orang kafir tidak menggunakan akalnya dengan benar sehingga mereka buta, tuli dan menutup diri dari tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala. Akalnya tidak mampu memahami tanda-tanda kekuasaan-Nya. Barulah di akhirat nanti mereka akan sadar, namun kesadaran mereka tiada guna dan mereka pun akan menyesal. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surah Q.S. Al-Hijr [15]: 2.

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَوْ كَانُوْا مُسْلِمِيْنَ(الحجر[١٥]: ٢)

“Orang kafir itu kadang-kadang (nanti di akhirat) menginginkan, sekiranya mereka dahulu (di dunia) menjadi orang Muslim.”

Sebagai penutup khutbah, marilah kita memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar diberikan indera yang sehat, dan akal yang selalu bertafakkur dan bertadabbur atas kebesaran ayat-ayat-Nya, sehingga dengan akal itu, bisa menyelamatkan diri, keluarga dan sebanyak-banyaknya manusia dari siksa api neraka.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi kekuatan dan kesempatan kepada kita semua untuk terus dapat memperbaiki diri, dan Allah Ta’ala mengampuni segala dosa dan kesalahan yang telah kita perbuat selama ini.

بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم.

Khutbah ke-2:

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا  أَمَّا بَعْدُ. فَيَآيُّهَا اْلمُسْلِمُوْنَ،  فَيَآيُّهَا اْلمُؤْمِنُونَ، اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسى بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُوْنَ، وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ آْلمُوَحِّدِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ.

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ مِنْ بَلَدِنَاهَذَا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ

تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

(A/R8/P2)

Mi’raj News Agency (MINA)